Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Thursday, July 10, 2014

Girls In The Dark Blog Tour *Review, Giveaway and Ask Author Akiyoshi Rikako*



Girls In The Dark by Akiyoshi Rikako
3.67/5 (39 rating)

Publisher: Haru
Translator:  Andry Setiawan
Release Date: May 2014 by Penerbit Haru
Format: Paperback, 284 pages
Genre: Romance, Mystery, Thriller, Horror


Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.

Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?

Tidak ada yang tahu.

Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....

Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?





SHORT REVIEW

Kesan pertama saya abis baca buku ini adalah nano-nano. Ada banyak rasa di dalam ceritanya, ada banyak tokoh yang unik dan juga alur yang berlainan. Girls In The Dark dibagi menjadi beberapa bab, yang setiap babnya menceritakan kronologis peristiwa bunuh diri atau pembunuhan si Ketua Klub Sastra menurut tokohnya masing-masing. Ada tujuh anggota klub sastra yang tersisa setelah kematian Itsumi, jadi ada tujuh cerita berbeda yang bertolak belakang mengenai kematian Itsumi. Saya suka banget sama gaya penceritaan yang seperti ini, membuat saya jadi nggak bosen dan terus membalik halaman demi halaman Girls In The Dark demi mengetahui apa kisah lain selanjutnya yang akan ditulis pengarang. Saya juga penasaran dengan kebenaran peristiwa dibalik kematian Itsumi.
Selain itu, efek yang ditimbulkan setiap cerita dari tokoh dalam buku ini. Ada cerita yang membuat saya terharu, kesal, bahkan merinding. Keren banget deh. Selain itu, endingnya wow banget, di luar dugaan saya dan unusual. Overall, Girls In The Dark wajib deh dibaca bagi yang mau mencari J-lit Asia yang seru atau novel misteri yang lain dari biasanya.
Selain genre dan gaya penceritaan, yang saya sukai dari Girls In The Dark adalah tokohnya. Oleh karena itu ketika saya mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada pengarang aslinya di Jepang, pertanyaan saya lebih banyak mengenai karakter Girls In The Dark. Berikut ini adalah hasil tanya-jawab saya dengan Akiyoshi.

ASK AUTHOR
Girls in The Dark akhirnya diterjemahkan dan diterbitkan untuk para penikmat baca Indonesia, bagaimana perasaan kamu tentang hal ini? 

Aku sampai melonjak senang saat mendengar Girls in the Dark akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indoensia!! Aku berterima kasih pada penerbit di Indonesia! Dulu, aku pernah pergi ke Pulau Bali. Orang-orang di sana sanga tramah. Makanannya juga enak. Aku senang sekali di sana. Sampai sekarang pun aku masih ingin pergi lagi ke Pulau itu. Indonesia menjadi negara impianku. Rasanya, seperti karyaku yang menggantikan diriku untuk tinggal di negara kalian. Saat ini, aku baru saja menerima buku hasil terjemahan di Indonesia. Sangat cantik!! Batas-batas babnya indah, batas subbabnya juga sangat sesuai dengan isinya. Aku jadi berdebar-debar saat membayangkan bagaimana buku ini dipajang di toko buku. Aku berharap semoga buku ini bisa dilirik oleh lebih banyak orang.
 
Apakah ada kemiripan karakter antara gadis-gadis di Girls In The Dark dengan orang-orang disekitarmu? Atau adakah orang yang menginspirasi salah satu karakter dalam Girls In The Dark?

 "Imej luar salah satu tokoh ada yang aku pinjam dari seorang teman (hehe). Tapi sifat-sifat mereka semuanya original, lho. Kalau sampai ada anak-anak seperti mereka di sekelilingku, rasanya sedikit menyeramkan. (hehe)
Tapi, aku tidak ingin menulis karakter yang ""Tidak mungkin ada"". Aku ingin menulis karakter yang membuat pembac amengira; ""mungkin ada nih orang seperti ini"""


Dari ke tujuh gadis dalam Klub Sastra, menurutmu mana sih yang paling mirip karakternya denganmu?

Siapakah karakter yang paling kamu sukai dari Girls In The Dark, dan kenapa? 
"Sebenarnya… sifat-sifatku sedikit muncul di masing-masing tokoh! Aku suka kudapan, aku juga pulang dari luar negeri, aku juga pecinta sastra… dll,dll.
Karakter yang paling aku suka adalah Sayuri. Tapi, aku juga mengerahkan segenap tenaga pada karakter yang lain, jadi aku juga sayang pada mereka."


Dalam novel Girls In The Dark banyak unsur yang terlibat seperti psikologi, mitos, horor, thriller, misteri, juga percintaan. Bagian mana yang menurut kamu paling kuat dan menjadi daya tarik tersendiriļ¾Š untuk novel ini?

"Iya, ya. Banyak sekali genre di dalam naskah ini. Semuanya adalah genre yang selalu membuat aku tertarik dalam hidup keseharianku. Kalau ditanya genre mana yang sebenarnya ingin aku tonjolkan… susah juga ya.
Tapi, yang paling aku tekankan mungkin misterinya. Apalagi cerita ini harus mengulur sebuah pertanyaan yang harus dijawab di belakang. Kalau emngingat itu, mungkin genre Misteri dan Thriller sangat kuat di sini."
 

Ending dari Girls In The Dark sangat membuat saya penasaran dan penyelesaiannya tidak terduga. Meskipun begitu, saya suka sekali dengan akhir kisahnya. Pernahkah membuat ending lain selain ending yang sudah diterbitkan? Apakah dari awal menulis sudah seperti yang diterbitkan? 
Terima kasih sudah suka pada endingnya!! Terima kasih!! Saat aku memikirkan tentang jalan ceritanya dan akhirnya ketemu ending ini, aku sudah tidak bisa memikrikan ending yang lain lagi. Aku juga suka sekali dengan endingnya! ♪

Dalam Girls In The Dark ada sedikit kebudayaan Bulgaria dari murid internasional Klub Sastra. Kenapa memilih Bulgaria, apakah ada alasan khusus?  

"Sepanjang yang aku tahu, tidak ada novel Jepang yang mengangkat Bulgaria sebagai settingnya. Karena itu, kalau aku coba, pasti menyenangkan dan akhirnya aku memilih negara ini.
Saat aku bersekolah di Amerika, ada beberapa kolega yang berasal dari negara itu. Jadi, kesanku terhadap Bulgaria sangat bagus.
Saat aku menulis tentang Bulgaria, aku menghubungi salah satu temanku di sana dan kami berdua memikirkan nama sebuah desa!"


Ketika membaca pendapat salah satu tokoh mengenai kehidupan sosial di SMA Katolik Putri Santa Maria, saya merasa ada sesuatu yang serius dan pribadi di dalamnya. Apakah pendapat itu benar-benar tercermin di dalam kehidupan nyata Sekolah-sekolah Putri di Jepang? 

Sekolah, adalah sebuah dunia lain. Hal-hal lumrah yang ada di rumah atau masyarakat, kadang tidak bisa diterapkan di sekolah. Misalnya, seorang anak yang sangat baik dan ramah di rumah, ternyata adalah anak yang digencet (ijime) di sekolah. Ada kan hal seperti itu?
Tentu saja hal itu sangat menyedihkan. Tapi, dalam sekolah ada sebuah acuan tak tertulis yang berbeda dengan yang ada di rumah maupun masyarakat. Akan sangat bagus sekali kalau acuan itu mengarah ke hal yang baik. Aku selalu miris saat mendengar acuan itu mengarah ke hal yang buruk seperti penggencetan (ijime).
Sekolah adalah sebuah dunia yang sangat kecil dan kita pulang-pergi sekolah hanya dalam waktu yang singkat saja jika dibandingkan dengan beberapa puluh tahun hidup kita. Meskipun demikian, saat kita bersekolah, kita menganggatp sekolah dan guru dan hubungan kita dengan orang lain di dalamnya adalah segalanya, kan?
Dunia Girls in the Dark mungkin sedikit menyindir kenyataan tersebut."

 

 Siapa sih penulis favorit dan buku favorit kamu? Jawabannya boleh lebih dari satu, ya.. ^^ 
"Dazai Osamu, Mishima Yukio, Kafka. Aku suka mereka bertiga.
Terutama Die Verwandlung nya Kafka, aku suka."


Di Indonesia banyak komunitas buku yang banyak membantu dalam publisitas dan penerbitan sebuah buku seperti Klub Blogger Buku Indonesia, Goodreads Indonesia, Kastil Fantasi, dan lain-lain. Apakah di Jepang juga ada komunitas seperti itu? Menurut kamu sejauh apa sih peranan komunitas buku dalam penerbitan sebuah karya? 

"Wah! Ternyata ada banyak klub membaca di Indonesia ya! Benar-benar hebat! Di Jepang… mungkin tidak ada Klub Membaca yang berdiri sendiri.
Kadang, di perpustakaan akan diadakan pekan membaca, di sekolah juga ada kegiatan seperti itu.
Andai saja klub kalian ada di Jepang, pasti menyenangkan. Kita bisa meminjam buku bersama-sama di perpustakaan, kita baca sama-sama, lalu kita ngobrol tentang buku itu.
Semoga dengan klub-klub kalian semakin banyak orang bisa tertarik untuk membaca, ya!"


Kalau boleh, ceritain sedikit dong mengenai karya kamu selanjutnya, baik yang dalam tahap penulisan dan yang akan rilis selanjutnya. ^^ 

"Tentu saja boleh! Jangan sungkan!
Novel selanjutnya bersetting di sebuah sekolah campuran putra dan putri. Seorang cowok otaku pecinta kereta api tiba-tiba saja meninggal. Dia hidup lagi dalam tubuh cowok keren asal inggris dan berusaha mencari pembunuhnya!!"



GIVEAWAY
Ada dua giveaway yang bisa kamu ikuti dalam Blog Tour Girls In The Dark ini..
Saya akan membagikan satu buah buku karya Lia Indra Andrinata bagi yang mengisi rafflecopter berikut ini.
Pemenang akan diundi dan dihubungi via email. Giveaway ini hanya berlangsung sampai 14 Juli 2014 saja yaa..
a Rafflecopter giveaway


GIVEAWAY FINALE

Hadiahnya..
Paket buku Haru
Pouch dari Emerald Green Label
Totte Bag dari Emerald Green Label

Caranya..
1. Kamu harus mengikuti Blog Tour dari awal hingga akhir
2. Di setiap akhir posting, kakak-kakak blogger akan menyediakan sebuah gambar yang merupakan bagian dari sebuah PUZZLE
3. Gambar-gambar itu harus kamu kumpulkan, simpan baik-baik jangan sampai hilang
4. Kamu harus menyusun semua gambar-gambar tersebut ke dalam satu image, membentuk PUZZLE tersebut hingga jelas apa yang ada di sana
5. Post image tersebut di wall Haru, sertakan kesan-kesan kamu terhadap Blog Tour kali ini

Ini gambar puzzle di blog ini:






Sunday, April 13, 2014

Ketika Penulis Mereview Buku, oleh Petronela Putri




Ketika pertama kali daftar untuk ikut event Guest Posting, sebenernya gue bahkan belum punya rencana sama sekali akan menuliskan tentang apa. Memang, sih, ceritanya postingan bebas. Baik review buku, list buku favorit, artikel, opini, atau apa aja selama berhubungan dengan buku. Tapi tetap aja nggak ada ide, hahaha. Sampai suatu hari Bajay Jabodetabek (grup Whatsapp member BBI regional Jabodetabek) ngebahas tentang cara seorang penulis mereview buku.
            Ini agak menarik buat gue, karena selain ngereview, gue juga menulis novel sendiri. Buat gue pribadi, membaca dan menulis adalah dua hal berbeda. Membaca novel sehari-hari ya, maksudnya. Bukan membaca/proofread naskah teman yang masih mentah. Ketika gue menulis, maka gue seorang penulis. Ketika membaca, maka gue seorang pembaca. Gue sengaja membedakan kedua posisi itu, biar nggak ada yang salah paham atau salah tanggap ketika membaca review yang gue tulis.
            Jujur, nggak semua review yang gue tulis itu bagus-bagus. Kalau mau baca sila berkunjung ke http://petronelaputribooks.wordpress.com :p (iya, ini iklan). Gue termasuk orang yang agak jujur ketika menulis review. Kenapa ‘agak’? Kenapa nggak sekalian aja bilang jujur? Hahaha, ya maksudnya gini, gue kadang takut menyakiti hati si penulis (baik yang gue kenal atau nggak), makanya gue menuliskan reviewnya dengan bahasa yang halus. Tapi.. Ada tapinya! Walau bahasanya halus (menurut gue), review gue biasanya jujur. Jadi kalau bukunya memuaskan, ya akan gue tuliskan. Kalau bukunya nggak banget, juga akan gue tuliskan. Tapi bahasanya sebisa mungkin nggak menyakiti pihak mana pun. Malah kadang di akhir review gue sempet-sempetnya juga ngucapin maaf atas kesalahan kata-kata jika ada yang merasa tersinggung. :)
            Kata seorang teman, sih, “elo kan penulis. Nggak takut ngereview buku orang terus hasilnya ditulis nggak memuaskan atau jelek atau apa? Gimana kalau nanti buku lo juga digituin sama orang lain?”
            Begini, menulis review itu berbeda dengan berbuat jahat. Dalam hidup, ketika kalian berbuat jahat pada orang lain, suatu hari kejahatan yang lebih parah akan menimpa kalian –percaya nggak percaya. Karena gue termasuk orang yang percaya bahwa karma does exist. Tapi sekali lagi, ini dua hal yang berbeda. Menulis review itu buat gue nggak ada karmanya (bahkan pernah membaca review yang isinya maki-makian mengatakan karya si penulis sampah dan semacamnya. Itu memang haknya si pembaca, kata teman-teman sesama resensor. Tapi gue pribadi sebenarnya nggak suka dengan gaya review seperti itu. Bahkan lagi, ada review yang memaki dan mengejek fisik si penulis. Iya, dunia review itu sadis, Bung). Ketika gue menuliskan review sebuah buku, berkata bukunya kurang menarik, kurang bagus atau nggak banget, gue yakin nggak mungkin juga penulisnya repot-repot menuliskan review jelek tentang buku gue. Nope, itu berlebihan.
            Tapi jika memang ada review tidak mengenakkan tentang buku gue sendiri, anggaplah salah satu dari dua hal ini yang terjadi.
·         Karya gue memang masih kurang dan gue harus banyak belajar lagi, atau..
·         Karya gue nggak sesuai sama selera bacaan si penulis review.
Buat gue pribadi, seluruh review sama aja :D pasti ada kritik dan ada saran membangun. Itu wajar dalam dunia penulisan. Nggak ada karya yang benar-benar sempurna. Bahkan karya dari penulis yang juara lomba menulis sekali pun masih berpeluang ketiban kritik sana-sini. Satu-satunya cara adalah menerima dan berlapang dada bahwa kita nggak sempurna, masih butuh pendapat dan masukan dari orang lain :)
Lalu ada juga yang bilang gini, “gimana kalau seandainya penulisnya nggak terima di review begitu (kurang memuaskan)? Terus ujung-ujungnya komenin review lo? Terus kalo ribut cuma gara-gara review?”
Simpel aja, berarti doi kurang berlapang dada dalam menerima apresiasi pembaca atas karyanya. Gimana mau maju, kalau sama kritik saran orang lain aja nggak kuat? Memangnya jadi penulis itu gampang kayak masak mie instan? :))  
Nah, jadi yaaa.. tuliskanlah review apa adanya. Tanpa mengurangi, tanpa melebihkan. Sebab katanya, review adalah jalan yang paling mudah untuk berkomunikasi dengan penulis dan cara paling efektif untuk memberikan kritik & saran yang membangun. Hehe.
Berikut ada kutipan interview singkat gue dengan beberapa teman penulis yang juga senang membaca. Gue tahu mereka senang sekali membaca, dan beberapa kali menuliskan reviewnya di blog pribadi maupun Goodreads, jadi gue kira nggak ada salahnya mengajak mereka sharing sedikit.
Inilah tanggapan mereka mengenai penulis yang menuliskan review (buku orang lain). Here we go..


Image
Dini Novita Sari - @dinoynovita
(Blogger, Member BBI, Penulis Get Lost)
1.     Ada rasa segan nggak ketika menuliskan review untuk buku penulis lain? Karena posisinya, kan, sebagai sesama penulis.
Nggak ada, karena emang duluan jadi pembaca dan & resensor baru bener-bener jadi penulis atau merilis buku. Jadi ya biasa aja :D
2.    Ada perbedaan nggak biasanya ketika mereview buku dari penulis lain yang nggak kalian kenal, dengan buku teman sendiri?
Hm, jujur nih kalo itu bukunya temen deket emang ada bedanya dikit. Haha! Tetep jujur kok, kekurangannya tetep diulas. Tapi yang jadi kelebihannya juga jadi agak dipromoin.
3.    Menurut kalian, ketika mereview buku seorang teman (yang notabene dikenal atau bahkan dekat), lebih baik nyelekit tapi jujur atau halus tapi menutup-nutupi kekurangan karya tersebut? Mengapa?
Jujur tapi nggak nyelekit. Huahaha. Yah, standar sih kalo aku, kasih tahu kekurangannya tapi santun nggak pakai marah-marah. Ups pernah juga marah-marah pas baca buku temen dan berantakan, tapi biasanya marahku ditujukan ke pihak penerbit yang menangani naskahnya :) Intinya, tetep jujur dan nggak menutupi kekurangan-kekurangannya.
4.   Punya pengalaman tidak mengenakkan ketika mereview buku teman/orang yang kalian kenal? Jika ya, bisa ceritakan sedikit?
Pernah, baru-baru ini. Dibilang temen ya baru kenalan bentar pas acara meet & greet penerbit dan sempet mentionan beberapa kali. Kuanggap kita temenan meski nggak deket. Nggak enaknya? Aku kasih bintang 2 dan salah satunya kubilang konfliknya bertele-tele. Eh dia malah jelasin (atau ngajarin?) tentang teknik penulisan yang dia pakai dan kait-kaitin dengan profesiku sebagai editor harusnya tahu gituan. Huft.
5.   Apa kalian selalu menuliskan review untuk buku yang kalian baca (baik via blog atau Goodreads)? Jika tidak, buku seperti apa yang biasanya enggan untuk kalian tuliskan reviewnya?
Nggak selalu bikin review lengkap sih setelah baca. Pernah habis baca buku yang aku suka, tapi nggak sempet review. Tapi, sih, di GR aku kasih komen singkat nggak cuma bintang. Ya, minimal beberapa kalimat kesannya setelah baca. Kalo sempat ya bikin ulasan lengkap di blog.
6.   Apa review lain mempengaruhi minat kalian terhadap sebuah buku? Maksudnya, apa kalian tetap akan membeli buku yang diincar, ketika mendapati bahwa rating (Goodreads)nya kurang memuaskan?
Hm, iya agak ngaruh sih meski aku lebih sering beli buku karena impulsif, tapi beberapa kali tertarik obralan tapi nggak jadi karena bintangnya rata-rata rendah. Hehehe.



Image
Rhein Fathia - @rheinfathia
 
Yak, pasti pada familier deh kalo sama wajah manis yang satu ini. Cewek manis ini namanya Rhein Fathia, penulis Jadian 6 Bulan, Seven Days, Jalan Menuju Cinta-Mu dan Coup(lov)e J Di sela-sela kesibukannya mengerjakan draft novel dan draft thesis, Tante gue ini *ngaku-ngaku*  menyempatkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan random mengenai review :))
Menurut Rhein sendiri, nggak ada rasa segan ketika ia menuliskan review untuk buku dari penulis lain. Karena sebenernya ia menganggap bahwa setiap penulis itu open minded dalam menerima review apa pun. Dan juga, nggak ada perbedaan ketika Rhein menuliskan review buku dari penulis yang tidak dikenal langsung dengan buku temannya sendiri. Alasannya, karena bagi Rhein, semuanya sama-sama penulis dengan keunikan dalam tulisan masing-masing. Nah, yang begini sih bagus ya buat kemajuan seorang penulis. Ketika kita menuliskan review yang jujur tanpa memandang siapa penulisnya, maka secara tidak langsung kita juga membantu (tulisan) mereka berkembang.
Aku selalu usahakan untuk memilih cara halus yang jujur. Ada penulis yang malah langsung drop ketika dikasih saran yang jujur tapi nyelekit dan aku ngga mau hal itu terjadi. Tiap tulisan pasti ada kelebihan dan kekurangan. Ungkapkan dulu kelebihannya, lalu ketika ada terasa yang kurang, kasih saran di poin-poin mana saja yang bisa membangun tulisan dia tersebut.” Rhein menambahkan.
Nah, berikutnya gue sedikit iseng nanyain, seorang Rhein Fathia pernah nggak sih punya masalah sama orang lain gara-gara review yang ia tulis? Tapi Alhamdulillahnya, menurut Rhein, belum pernah. Bahkan kalau pun ada, biasanya malah dari orang yang nggak dia kenal. Hehe.
            Nah, next! Ketika kalian membaca buku, apa kalian selalu menuliskan review? Kalo Rhein, sih, ngakunya nggak selalu, tapi ngasih bintang. Tipe-tipe buku yang enggan direview Rhein adalah buku yang menurutnya biasa aja, nggak menarik dan udah banyak yang menuliskan review/unek-unek serupa, jadi dengan begitu penulis sekiranya sudah cukup paham di mana letak kelebihan dan kekurangan dari karyanya.
            Berhubung lagi ngobrol-ngobrol sama Rhein, gue menyempatkan diri juga nanya tentang pertimbangan Rhein dalam membeli sebuah buku. Rhein bilang, untuk penulis yang bukan temen, rating Goodreads sangat berpengaruh. Hahaha, maklum, doi anak bisnis, jadi mikirin untung rugi. Kalau ketika Rhein membaca review sebuah buku dan nggak memuaskan atau ketika ia merasa nggak ada hal yang bisa pelajarinya dari buku itu, maka, “mending pinjem, sih.” Gurau Rhein tepat di akhir sesi interview.


Image
 Ifnur Hikmah - @iiphche
(Blogger, Penulis Do Rio Com Amor, Mendekap Rasa)
Nah, yang berikut ini kayaknya familier kalo kalian suka baca review novel-novel romance, Young Adult atau sejenisnya di Goodreads. Kalian juga bisa baca postingan-postingan review dan cerita pendek Kak Iif  di http://ifnurhikmahofficial.blogspot.com/ :D Pada 2013 lalu, Kak Iif sempat nulis novel duetnya bersama Aditia Yudis (@adit_adit) yang berjudul Mendekap Rasa, diterbitkan Bukune. Dan baru-baru ini, novel teenlitnya Do Rio Com Amor baru aja diterbitkan Teen Noura.
Sama dengan dua penulis dan reviewer di atas, pertanyaan pertama yang gue tanyakan ke Kak Iif adalah..
Ada rasa segan nggak ketika menuliskan review untuk buku penulis lain? Karena posisinya, kan, sebagai sesama penulis.
Karena keterbatasan waktu ketemuan *gayamu* dan kesibukan masing-masing *makin gaya*, maka kami ngobrolnya via email. Ini pendapat Kak Iif soal pertanyaan pertama: Sejujurnya sih ada. Bohong banget kalau enggak ada perasaan segan atau takut-takut nanti akan dapat review gimana di buku gue. Cuma gue berusaha untuk enggak melihat pribadi penulisnya, tapi pure ke karyanya. Kalau memang gue suka, ya gue enggak bakal segan buat memuji. Kalau mau berkomentar, ya komentar aja. bisa dibaca beberapa review gue kadang dinilai orang jahat. Tapi gue Cuma berusaha buat jujur aja, he-he-he.
Apalagi kalau misalnya penulis ternama yang notabene bukunya udah banyak banget. sering muncul pemikiran siapa sih gue yang Cuma segini ini bisa-bisanya ngereview? Cuma balik lagi, posisi gue adalah pembaca. Jadi saat mereview, gue selalu berusaha menempatkan diri sebagai pembaca.
Bagian ini yang agak menarik, berikutnya gue sempat menanyakan tentang perbedaan menulis review buku dari penulis lain dan teman sendiri, yang kemudian dijawab demikian, Enggak ada sih. Palingan kalau teman sendiri biasanya gue tahu proses penulisannya gimana jadi itu bisa ditambahin di review.”
Masih ada kaitannya dengan pertanyaan kedua di atas, gue juga menanyakan mengenai bagaimana cara seorang Ifnur Hikmah mereview buku teman yang dikenalnya :)) lebih enak nyelekit tapi jujur atau halus tapi menutup-nutupi kekurangan dalam karya si teman. Jujur, gue sendiri salah satu orang yang menjadikan review Kak Iif sebagai patokan ketika akan membeli buku. Karena kejujuran reviewnya bikin gue bisa dapet gambaran mengenai sebuah buku yang akan gue incer. Reviewnya blak-blakan banget, tapi kalau dipikir-pikir, malah sebenernya membantu penulis menemukan kekurangan karyanya dan bisa jadi bahan pertimbangan untuk kedepannya. Nah, biasanya ya, kalau Kak Iif bilang sebuah buku itu bagus, gue akan jadi super penasaran, dan sebaliknya. Hmm, gue suka banget sama jawaban berikut ini, hahaha.
“Gue selalu berusaha buat ngereview dengan jujur. Kalau bagus ya jujur bilang itu bagus. kalau enggak suka ya ceritain di mana letak yang enggak disukai dan alasannya, tapi mesti masuk akal. Selain itu, gue rasa lebih enaknya ngereview buku teman sendiri itu dia udah kenal gue gimana, tahu car ague ngomong gimana, jadi enggak tersinggung. Karena pengalaman ada beberapa yang tersinggung sama review gue, hehe.
Justru karena buku teman sendiri kita harus sejujur-jujurnya. Kenapa juga mesti ditutup-tutupi? Teman yang baik kan harus saling mendukung. Jika memang harus mendapat kritik negative, why not? Harusnya teman yang sebenarnya senang ketika mendapat kritik membangun meski nyelekit, bukannya justru berantem karena hal tersebut. IMO.”

Berikutnyaaaa, adalah mengenai pengalaman buruk ketika mereview buku orang yang dikenal. Bisa dibilang, sebagian reviewer merasakannya, hahaha. Cuma mungkin ada yang parah banget, ada yang biasa aja. Mau tahu pengalamannya Kak Iif? Nih!
“Ada, tapi enggak kenal-kenal banget. gue tahu dia lewat sebuah klub. Ketika baca bukunya, gue bangga dong karena kita berasal dari lingkungan yang sama meski enggak kenal. Si penulis merasa gue terlalu jahat dalam mereview bukunya, sedangkan gue Cuma ngomong sejujur-jujurnya. Gue selalu berusaha jika memberi kritik itu disertai dengan saran. Mungkin gaya ngomong gue enggak nyambung sama dia makanya dia merasa down. Ya menurut gue itu balik ke pribadi kita masing-masing ya. penerimaan tiap orang kan beda-beda. Mungkin aja dia enggak bisa nerima gue yang nyablak, he-he-he. Tapi dia enggak langsung ngomong ke gue sih, tapi lewat beberapa orang sampai akhirnya gue tahu.
Ada lagi penulis yang juga gue kenal gitu-gitu aja, enggak terlalu dekat. Awalnya dia shock dengan gue yang nyablak. But in the end dia malah berterima kasih karena meski nyelekit, dia bisa melihat pembelajaran dari sana *uhuk*”

Dan mengenai menulis review, beda sama gue yang masih malas-malasan dan nggak selalu mood untuk mereview semua buku yang gue baca, Kak Iif mengaku sejak tahun lalu dia memutuskan untuk selalu menulis review buku apa pun yang selesai dibaca. Tapi kesamaannya sama gue adalah, kalo bukunya nggak berkesan, maka Kak iif cuma akan menuliskan review singkat di Goodreads buat ngejar target 100 buku setahun (gue sih cuma 50, hahaha) #BukaAib
Ini ada hubungannya dengan yang di atas. Tadi gue bilang, review Kak Iif adalah salah satu bahan pertimbangan gue ketika akan membaca buku terutama roman dan YA. Dan setiap idola selalu punya idolanya sendiri *halah, bahasamu itu loh, Mput* :p Dengan santai Kak Iif mengakui bahwa dia memang gampang terpengaruh sama rating bagus. Buku yang dibelinya juga pada umumnya punya rating bagus di Goodreads. Jika reviewer favorit Kak Iif bilang suka sama suatu buku, bisa dipastikan Kak Iif akan beli juga. Hmm *garuk dagu*
Jadi penasaran nggak, siapa reviewer favoritnya Kak Iif? Hahaha. Tanya ke twitternya aja *kena sundut*

Selain itu, Kak Iif juga menambahkan, “kalau rating jelek, itu jadi bahan pertimbangan. Misalnya gue penasaran banget dengan buku itu, biasanya tetap gue beli. Contohnya Divergent. Banyak review kurang memuaskan yang gue dengar atau baca, tapi tetap gue baca (oke iya anaknya FOMO makanya baca haha) karena gue penasaran. Meski akhirnya gue enggak terlalu suka, ya itu urusan belakangan. Yang penting rasa penasarannya terbayar.
Tapi kalau kasusnya semua reviewer bilang enggak banget, gue langsung mundur. Ada beberapa novel yang bikin gue mundur teratur karena review jelek he-he-he.”

Jadi, gimana? Apa diantara kalian yang penulis sekaligus tukang review buku, punya kesamaan dengan gue atau ketiga penulis di atas? Bagaimana pun, kita punya gaya sendiri-sendiri dalam menilai sebuah karya dan menuliskan sebuah review. Apa pun itu, semoga semuanya memang jujur tapi membangun, bukan malah menjatuhkan atau menghancurkan (hati dan semangat) penulis lain, yes :D
Catatan tambahan, senang bisa menulis untuk guest posting BBI tahun ini, semoga tahun depan dapet kesempatan yang sama menariknya dalam event-event ultah kece lainnya. ^^v Trims juga buat @Fennyusuf yang udah mau repot-repot ngepost tulisan ini, hahaha. Selamat ulang tahun untuk BBI tercinta dan sampai jumpa di guest posting tahun depan (semoga masih ada). *kecup semua pembaca dan tim divisi event*

Tanya-Jawab dengan Petronela Putri


Petronela Putri
 

Umur: 22 tahun
Domisili: Jakarta
Aktifitas: Pelajar & Penulis
Kontak (Facebook, Twitter, Instagram): Petronela Putri, @kopilovie, KopiLovie
Karya yang sudah diterbitkan:
1. Lovefool (Media Pressindo, 2013)
2. Love You Even More (Media Pressindo, 2013)
3. [Kumpulan Cerpen] Lovediction (Ice Cube Publisher, 2013)
4. [Kumpulan Cerpen] Lovediction 2 (Ice Cube Publisher, 2013)
5. Just Let It Go - (Eazy Book, 2014)



Untuk meramaikan ultah BBI yang ketiga, Divisi Event BBI mengadakan Guest Posting dengan tujuan untuk mengakrabkan anggotanya. Kebetulan untuk tahun ini, saya berkesempatan untuk mewawancarai dan meng-hosting tulisan dari seorang penulis yang beberapa karyanya telah diterbitkan. Berikut ini adalah hasil tanya-jawab singkat saya dengan Petronela Putri atau yang biasa dipanggil Mput.



Hai Mput, kebetulan aku baru aja selesai baca salah satu karyamu Just Let It Go (Eazy Book, 2013), dan jujur aku lumayan kaget sama endingnya. boleh tau dong, cerita ini inspirasinya dari mana dan apakah ada kesamaan tokoh atau adegan di dunia nyata-kah, seperti misalnya adaptasi sifat karakter-karakter dalam JLIG?
 
Inspirasinya, hmm, aku menulis JLIG ketika aku sedang suka-sukanya sama tema psikologi. Kebetulan juga, aku suka karya-karya Sekar Ayu Asmara. Beberapa kali nonton filmnya dan baca bukunya. 'permainan kejiwaan' adalah salah satu ciri khas beliau. Jadi aku kemarin itu coba-coba menuliskan hal yang serupa. Memang masih jauh banget di bawah tulisan beliau, tapi senang aja sama tema begitu, hahaha.

Kesamaan tokoh atau adegan nggak ada. Semuanya murni fiksi. Cuma mengenai kesamaan nama, ada Ninda Syahfi.. itu nama seorang temanku sesama penulis, bisa cek di @nindasyahfi :)



Nama Petronela itu asalnya dari mana sih, dan kan banyak juga penulis yang membedakan nama pena dengan nama lahirnya, kenapa nggak menciptakan sebuah nama pena gitu untuk karyanya?
 
Itu namaku, bukan nama karangan kok :))
Tadinya memang mau pake nama pena yang unik-unik, banyak juga yang penulis yang pakai nama-nama kece untuk nama pena mereka, tapi aku rasa suatu saat mungkin akan bosan sendiri. Aku orangnya bosenan. Jadi, mending pakai nama sendiri, hehe.




Boleh kasih bocoran tentang karya selanjutnya nggak? Lagi nulis cerita bertema apa sih, atau punya rencana untuk menulis cerita tentang apa?
 
Sekarang lagi konsen untuk sebuah outline genre romance. Bener-bener full romance, bukan romance thriller seperti biasanya. Ada travellingnya juga, dikit. Aku akan menulis dengan setting dua kota. Kota yang aku tempati sekarang dan kota asalku. On progress, sudah mulai riset-riset sekaligus lanjut menulis draftnya. Hehe. Tentang apa yaa, rahasia dulu, deh. Nanti kalau selesai akan tahu sendiri XD hehe.



Apa atau siapa yang menginspirasi kamu untuk menulis sampai saat ini?
 
Apa yang menginspirasi,ehmm.. banyak, hahaha. Aku senang ketika membaca buku (yang menurut seleraku) bagus, dan setelah membacanya, selalu pengin menuliskan ceritaku sendiri.

Kalau ditanya siapa yang menginspirasi, mungkin ada cukup banyak penulis yang tulisannya aku idolakan. Tapi, orang yang benar-benar berpengaruh buatku adalah Papa :) Papaku suka baca dan sesekali juga menulis di jurnalnya sendiri, jadi dari kecil aku juga terbiasa sama buku. Sampai waktu SMP akhirnya coba-coba menulis cerita pendekku yang pertama. Ketika novel pertamaku terbit, Papa bilang beliau bangga dan percaya bahwa aku bisa menuliskan cerita-cerita keren lainnya. Haha, itu yang paling menginspirasi dan memotivasi aku menulis sampai sekarang.




Boleh dong, sharing quote (nggak harus dari buku) yang kamu paling suka atau kamu jadikan semacam "mantra" buat kamu..
 
"Menulis seperti apa yang kita inginkan saja susah, apalagi kalau harus menulis sesuai selera dan keinginan orang lain."

Itu kalimat yang diucapkan Andi Gunawan dalam salah satu talkshow yang aku ikuti. Aku suka kalimat itu. Alasannya, ya, karena banyak penulis biasanya selalu berusaha perfect dalam setiap karyanya, tapi quotes itu mengajarkan sebaliknya. Untuk mulai menulis, akan susah sekali rasanya kalau mau hasil yang langsung sempurna. Jadi satu-satunya cara adalah menuliskan apa yang ingin kita tulis dulu. Mengalir saja, nanti tulisan-tulisan itu akan menemui takdirnya sendiri :)) Semua hal --termasuk menulis, pasti butuh proses :)




Itu dia hasil tanya jawabku dengan Mput, yang dilakukan via WhatsApp-Email. Selain tanya-jawab, Mput juga memberikan sebuah tulisan untuk blog The Read Things, yang bisa kalian lihat di sini.



Happy 3rd Birthday, Blogger Buku Indonesia!


Happy birthday, BEBI! 


April adalah bulan yang istimewa buat saya. Selain ulang tahun saya dan BBI, bulan April juga adalah bulan kelahiran dua sahabat dekat saya waktu SMA. Tiga hari setelah hari ulang tahun saya, BBI berulang tahun, kemudian sehari setelah BBI berulang tahun, Monica, teman saya sejak SMP yang akhirnya menjadi sahabat saya setelah memasuki SMA yang sama, berulang tahun. Lalu jika tanggal ulang tahun saya ditambahkan dengan tanggal ulang tahun BBI, teman saya Fitri yang selama tiga tahun di SMA selalu sekelas dan duduk bareng, berulang tahun.
 

Kalau bulan ini saya memasuki usia 22 tahun, BBI baru memasuki usia 3 tahun. Saya sendiri baru bergabung di BBI sejak November 2012 (kalau tidak salah ingat, pertama kalinya saya punya blog khusus buku), jadi sekitar satu setengah tahun sudah saya kenal sama BBI. Dan banyak banget pengetahuan dan manfaat yang saya dapet dari BBI. Punya temen-temen baru yang bacaan favoritnya mulai dari fiksi sampai non-fiksi, temen-temen yang setiap bulannya berusaha untuk ketemuan, plus timbunan buku makin menumpuk karena banyaknya info-info bertebaran seputar obralan buku, tapi yang paling penting adalah makin luasnya wawasan membaca saya.

Bayangkan kalau dulu saya gak kenal BBI, saya pasti bakal muter-muter di toko buku dan ngambil buku ga jelas berdasarkan feeling yang akhirnya nggak cocok sama saya. Bisa jadi genre atau penulis yang saya baca bisa dihitung menggunakan jari; Tere Liye, Sophie Kinsella, Meg Cabot, Asma Nadia..... Tapi karena BBI, saya jadi tau George Orwell, Anthony Capella, Laini Taylor, dll. Saya juga tau genre klasik, pararom, young adult,children fiction, distopia, juga harlequin (yang saya hindari ;)). Selain itu, saya juga tau buku-buku bagus di toko buku, buku-buku yang terkenal, yang rating dan reviewnya bagus secara keseluruhan, seperti Sarah Dessen, John Green.. 


So, gak rugi banget untuk gabung sama BBI. Selain juga saya bisa curhat di blog tentang hal-hal selain kehidupan pribadi. Saya bisa curhat tentang karakter/tokoh yang nyebelin, cowok yang saya temui di buku, juga jalan cerita yang menyentuh hati saya. 


Kalau ada suka pasti ada dukanya. Dukanya itu...kalau ketinggalan obralan *gubrak*. Well, mostly. Honestly. Bukan berduka yang sedih, sih. Tapi lebih ke duka yang menggalaukan dan ‘gatel’ (karena kelewatan dapet buku-buku murah, LOL). Selain itu, blog The Read Things juga belum masuk daftar agregrator BBI, padahal saya sudah sering kirim email pemberitahuan perubahan alamat blog dari yang dulu (*protes*). Eh tapi itu cuma hal kecil sih, saya bersyukur juga karena blog ini belum masuk agregator, soalnya isinya suka borongan, jadi.....


Nah, cukup sudah curhatnya karena ini udah pagi (saya nulis ini jam setengah satu malam soalnya modem cuma nyala jam satu sampai sembilan pagi). Sebulan lalu dalam rangka merayakan ulang tahun BBI, Divisi Event mengadakan acara Giveaway Hop dan Guest Post. Untuk Guest Post silakan lihat di sini. Kali ini saya berkesempatan mewawancarai Petronella Putri, seorang penulis yang beberapa karyanya telah diterbitkan. Untuk giveaway, sudah berjalan selama sebulan kurang dua hari, dimulai dari tanggal 13 Maret sampai dengan 11 April kemarin. Saya sendiri hanya ikut giveaway di beberapa tempat, karena kesibukan pernikahan kakak saya di bulan Maret, plus kebetulan sakit pas awal April (**sigh).


Selama satu bulan kurang dua hari ini, ada 48 partisipan dalam GA TRT. Mohon maaf karena pertanyaan seputar GA gak dibales (maaf banget T___T), karena saya nggak anticipated bakalan ada pertanyaan, jadi jarang online juga *dan males . Mohon ma’aaaf banget..


Langsung aja ya, setelah mengundi dengan random.org dengan mata sipit karena udah jam dua pagi, terpilihlah nomor 46, dengan begitu pemenangnya jatuh pada...



Dhea Dita


Selamat ya! Pemenang akan dihubungi lewat email beserta ketentuan hadiah.


Selamat untuk BBI, untuk para pemenang GA, dan untuk semuanya yang berulang tahun di bulan April!

Thursday, March 13, 2014

Blogger Buku Indonesia Anniversary Project: Giveaway Hop

Tiga hari setelah hari ulang tahun saya, yaitu pada tanggal 13 April, Blog Buku Indonesia berulang tahun. Untuk menyemarakkan tanggal kelahiran saya hari ulang tahun BBI, Divisi Event BBI mengadakan giveaway hop yang dihosting oleh lebih dari 40 anggota BBI.




Bagi kamu yang ikutan giveaway di The Read Things, ada hadiah berupa buku pilihanmu sendiri senilai IDR 100,000 yang bisa kamu pilih di toko buku online (exclude ongkir, harga belum diskon) bagi satu orang pemenang yang saya undi random dan memenuhi syarat.

Cara ikutannya adalah:
memfollow blog The Read Things via GFC
memfollow akun instagram The Read Things @TheReadThings (Fenny H)
share giveaway via twitter / facebook / instagram
mengisi form pendaftaran dengan data yang valid

Ketentuan giveaway:
- peserta domisili ID
- berlangsung dari tanggal 14 Maret s/d 11 April 2014
- pengumuman pemenang tanggal 13 April 2014
- voucher sudah termasuk harga buku sebelum diskon di toko buku online, ongkos kirim ditanggung pengirim


Tuesday, March 4, 2014

Dare To Say! [1]

Awalnya..
Jadi, waktu itu di sebuah Plaza dekat rumah saya, ada lapak obralan Gramedia dan saya nemu buku ini seharga Rp10.000,00. Setelah baca sinopsisnya, saya langsung ngambil buku ini dan pergi ke kasir. Kebetulan saya lagi pengen baca sesuatu yang berbau-bau Romawi gitu, dan yang saya bayangkan adalah sebuah cerita petualangan seru dengan sedikit bumbu mistik dan setting jaman Romawi.



Segera setelah saya beli buku ini, saya penasaran liat ratingnya di Goodreads. Daan ternyata, buku ini bahkan sampai nggak begitu populernya sehingga pas saya search judul dan pengarangnya untuk pertama kali di Google, nggak ada entry yang valid. Kedua kalinya, saya baru nemu judul dan pengarang yang benar di Goodreads dengan rating 3,6 dari 1.266 suara.

Setelah saya sampai di rumah, saya langsung baca buku ini, siap-siap kecewa sama ceritanya.

TERNYATA..!
Yah, oke, memang nggak seperti kisah Percy Jackson dan Jason Grace dengan petualangan seru bersama dewa dewi Romawi & Yunaninya, tapi saya sukaaa banget sama buku ini dengan caranya sendiri.

Pertama, ceritanya mengalir banget, dari awal sampai akhir saya bener-bener tenggelam sama kisah istri Pilatus ini. Gaya penulisan yang mengambil sudut pandang orang pertama yaitu istri Pilatus sendiri, sangat mendalam banget, sehingga saya nggak kesulitan membacanya. Applause juga untuk terjemahannya yang bagus.

Kedua, karakternya kuat banget, terutama si tokoh utama. Mulai dari masa kecilnya, orang-orang yang tumbuh di sekitarnya, perasaannya, sampai konflik batinnya. Saya bisa ngerasain gimana obsesi Claudia terhadap suaminya dan gimana dia sayang banget sama kakaknya. Saya juga suka karakter lainnya, misalnya budak Claudia yang ternyata tetap jadi tokoh baik sampai akhir, dan kakaknya dengan penderitaannya yang unik.

Ketiga, konfliknya juga keren banget. Mulai dari masa awal ketika Claudia suka banget sama Pilatus dan berusaha banget supaya Pilatus suka sama dia, kakaknya yang akhirnya jadi korban sepupunya, perjuangannya Claudia supaya bisa hamil, dan akhirnya pada saat dia jatuh cinta sama orang lain selain suaminya.

Overall, menurut saya buku ini lebih pantas untuk mendapat nilai lebih dan menjaring banyak pembaca.

Pembelaan..
Menurut analisis sekilas pada komentar negatif di Goodreads, kebanyakan pembaca memberikan nilai kurang baik karena sisi fakta sejarah yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini ada (di Injil). Well, menurut saya kalau kita bisa mengesampingkan keakuratan fakta dan melihatnya sebagai fiksi, buku ini termasuk seru juga kok.

Selain itu, ada juga yang bilang kalau bukunya terlalu melodramatic. Saya setuju, tapi anehnya saya nggak punya waktu untuk merasa jengkel dengan hal itu karena pikiran saya udah keburu memvisualisasikan ceritanya bagaikan film di otak saya, saking mengalirnya ceritanya. Jadi ceritanya sebenernya nggak segitu melodramatis juga.

Ada juga pembaca yang mengeluhkan kurangnya kuantitas kisah karakter lain di buku ini. Hmm, menurut saya itu menunjukkan kalau kisah karakter sampingannya juga seru, PLUS, judul buku ini kan Pilate’s Wife, oleh sebab itu lebih banyak menceritakan kisah istri Pilatus, bukan Yesus atau Pilatus ataupun Marcella. Dan menurut saya karakter Claudia ini cukup heroine juga kok, karena dia itu tangguh dan akhirnya bisa menjalani kehidupan yang baik dan apa adanya.

Simpulan
Jadi, rekomendasi saya.. Kalau kalian mencari sebuah cerita historical fiction bersetting Romawi dengan sedikit bumbu harlequin dan spiritualitas, Pilate’s Wife ini cocok banget buat kamu deh.

Rating awal: 3,6
Rating akhir: 4,0
UNDERRATED

Wednesday, January 29, 2014

The Scorch Trials by James Dashner



Solving the Maze was supposed to be the end. No more puzzles. No more variables. And no more running. Thomas was sure that escape meant he and the Gladers would get their lives back. But no one really knew what sort of life they were going back to.

In the Maze, life was easy. They had food, and shelter, and safety . . . until Teresa triggered the end. In the world outside the Maze, however, the end was triggered long ago.

Burned by sun flares and baked by a new, brutal climate, the earth is a wasteland. Government has disintegrated—and with it, order—and now Cranks, people covered in festering wounds and driven to murderous insanity by the infectious disease known as the Flare, roam the crumbling cities hunting for their next victim . . . and meal.

The Gladers are far from finished with running. Instead of freedom, they find themselves faced with another trial. They must cross the Scorch, the most burned-out section of the world, and arrive at a safe haven in two weeks. And WICKED has made sure to adjust the variables and stack the odds against them.

Comments
Sebelumnya saya review The Maze Runner, dan saya bilang saya (honestly) nggak suka sama ceritanya. Well, di buku kedua ini saya mengharapkan sesuatu yang lebih. Lebih baik, lebih jelas, lebih seru, dll.
Taapi sayangnya saya harus kecewa lagi di buku kedua. Ceritanya tetep ngga jelas seperti sebelumnya, dan kekejaman masih jadi topik utama buku ini. Kayaknya yang dipikirin James Dashner ketika menulis buku ini adalah bagaimana membuat cerita yang sadis. Dah itu aja. Sisanya, seperti plot, karakter, dll, jadi terabaikan.
Masih banyak bagian-bagian yang missing information, dan luar biasa anehnya, seperti kemunculan pria hologram dalam ruangan tak tertembus. Really weird and I cant even imagine that. Munculnya si pengkhianat, yang sampai akhir buku pun saya masih nggak ngerti apa alasan orang itu berkhianat. Lalu ada label nama setiap orang, yang saya juga nggak ngerti fungsinya apa. Overall, the whole story are the missing pieces.