Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Thursday, May 9, 2013

[Book Review] A Love at First Sight

A Love at First Sight by Jennifer E. Smith
3.79 / 5 (25,786 ratings)

Publisher : Qanita
Translator : Linda Boentaram
Release Date : August 2012 by Qanita (first published January 2nd 2012)
Format : Paperback, 320 pages
Source : Islamic Book Fair 2013, Rp 31500
Genre : Contemporary, Teen Adult, Romance


Hadley Sullivan seperti mengalami mimpi buruk saat dia ketinggalan pesawat ke London. Tapi Oliver, cowok Inggris yang keren, mengubah kesialan Hadley menjadi sebuah kisah romantis. Mereka bertemu di bandara, secara kebetulan duduk bersebelahan dalam penerbangan susulan Hadley. Dimulailah bincang-bincang yang langsung mendekatkan keduanya: tentang Dickens, kue pretzel, awan kumulus, hingga pernikahan.

Setibanya di London, keduanya terpisah satu sama lain. Namun, Hadley telah merindukan Oliver dan bertekad untuk mencari cowok itu. Permasalahannya, London bukanlah kota kecil, terlebih bertualang dengan kereta bawah tanah dan menyusuri gang-gang tua tak dikenal bukanlah keahlian Hadley. Berhasilkah Hadley menemukan cinta pertamanya?

Buy book on : BukuKita 
_______________________
I keep thinking that this book should made into a movie. Ceritanya akan simpel tapi manis sekali. Ya, itulah yang saya rasakan ketika membaca kisah Hadley dan Oliver. Dialog – dialog ringan membawa cerita ini menjadi sebuah imajinasi manis tentang dua orang yang accidentally bertemu dan bersama menghabiskan waktu di airport. Tidak ada cukup banyak karakter di buku ini, tidak ada cukup banyak waktu, since Hadley and Oliver have just met and fallen in love in less than twenty hours.

Ada begitu banyak cara untuk membuatnya berbeda. Namun, entah kenapa keterlambatan dan kenekatan Hadley membawanya untuk one more step closer to Oliver. Untuk karakter Hadley sendiri, layaknya seorang gadis remaja, masih menyimpan beberapa galau dan benci akan ayahnya yang meninggalkan keluarga dan menikah lagi di London. But who knows, pesta pernikahan yang dibencinya itu membawanya ke cinta pertamanya.dan ke seseorang yang akhirnya bisa diterimanya dalam hidup.

Meskipun beralur cepat, Jennifer juga menggunakan banyak flashback dalam ceritanya. Karena mengambil sisi Hadley, disini banyak sekali penjelasan mengenai hidup Hadley di masa lalu yang membawanya ke masa sekarang. Honestly, saya sedikit berharap bahwa Jennifer melakukan hal yang serupa dengan Oliver, karena sedikit sekali yang bisa saya tangkap tentang Oliver di novel ini. Oliver itu misterius, dan sedikit yang akan kita ketahui tentang dia dan masa kecilnya. Bisa dimaklumi sih, karena tebal buku juga tidak seberapa.

Penerjemahannya bagus, namun saya sedikit tidak menikmati dialog – dialog pendeknya. Satu kata pendek dalam bahasa Inggris mempunyai lebih banyak makna daripada jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, jadi sepertinya di beberapa bagian lebih asyik untuk membaca bahasa Inggrisnya langsung.

One thing to confess, buku ini amat sangat simpel untuk dinikmati sehingga kesannya nggak bikin greget. Tapi saya pikir, itu kembali lagi dengan tipe bacaan favorit kita. Jika ingin sesuatu yang ringan, sweet and lovely, buku ini amat sangat layak untuk saya rekomendasikan.

Satu hal yang saya amat sangat suka sekali (:D) adalah covernya. Jauh lebih bagus daripada cover aslinya, tidak hanya dari segi kemanisannya tapi juga dari segi kecocokannya dengan cerita. Melihat covernya saja (Big Ben) sudah terbayang suasana Inggris saat hari valentine, ketika banyak cinta berserakan.

Kalau mau sedikit berkhayal, if this book was made into film, the perfect actor who plays Oliver should be Thomas Andrew Felton. Selain tampan, aksen inggrisnya akan bagus sekali untuk memainkan peran Oliver. :”)

My Rating :

 3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you

1 comment:

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.