Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Monday, September 30, 2013

Buying Monday (September)

Hari senin di bulan terakhir, saatnya Buying Monday!
Saya ingat pernah ditanya seorang teman di kampus, berapa kali saya beli buku dalam sebulan. Dan dia bilang dengan nada menuduh bahwa saya pasti tiap minggu pasti membeli sebuah buku. Kontan saya langsung senyum antara malu dan geli sendiri dengan kata-katanya. Jawabannya benar sih, rata-rata saya membeli buku tiap minggunya. Tapi dari yang bisa saya hitung, lebih dari satu buku setiap minggunya.


Lantas teman saya kaget. Ya, saya sendiri juga kaget sih setelah mengingat-ingat kebiasaan saya itu. Jujur saja, saya suka tidak sadar waktu. Seingat saya sudah (agak) lama semenjak saya belanja buku. Eh ternyata pas dihitung-hitung, baru beberapa hari kemarin saya terakhir beli buku. Apalagi dengan adanya event Blogger Buku Indonesia Buying Monday ini, saya jadi setengah-kagum mengingat buku yang saya beli kurang dari waktu sebulan. Padahal, perasaan saya sudah lama banget belinya.. >.<

Sebagai pembelaan, harga buku itu tidak mahal, kok. Kalau mau berusaha, kita bisa dapat buku bagus dengan harga sekitar 15k-35k. Plus, bisa dibilang (secara non harfiah) saya itu tipe orang yang lebih senang makan buku daripada makan nasi. Yaa, maksudnya, mending puasa biar bisa beli buku. Puasa beli baju, tas, sepatu, aksesoris, dan lain-lainnya selama berbulan-bulan. Dan jangan ditanya lagi, kaki saya ini suka melangkah ke Toko Buku kalau jalan-jalan, tiada yang lainnya (setia..), kecuali kalau lagi menemani orang tua jalan-jalan, ya..


Untuk bulan September ini, Alhamdulillah masih ada sisa-sisa THR dari bulan Agustus. Jadi harap maklum kalau timbunannya masih agak banyak. Buku-buku ini adalah hasil kiriman buku gratis penerbit, beli online (bekas), sale Gramedia Matraman (sepuluh buku harganya masing-masing cuma 15k!), dan beberapa ada yang beli dengan diskon 10%-30%.


List Buku September:
Sweet Melody 2 (Baek Myo)
The Kite Runner (Khaled Hosseini)
The Ocean at The End of The Lane (Neil Gaiman)
Don't Die My Love (Lurlene McDaniel)
To Kill A Mockingbird (Harper Lee)
A Thousand Splendid Suns (Khaled Hosseini)
On Jellicoe Road (Malina Marchetta)
Kyai Kocak Vs Liberal (Abdul Mutaqin)
Nganggur Galau (@Rach_Char)
Charlie and The Chocolate Factory (Roald Dahl)
Coraline (Neil Gaiman)
This Lullaby (Sarah Dessen)
A Thousand Splendid Suns (Khaled Hosseini)
Catalyst (Laurie Halse Andersen)
Never Let Me Go (Kazuo Ishiguro)
Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (Maggie Tiojakin)
The Help (Kathryn Stockett)
Thanks for The Memories (Cecelia Ahern)
Slammed (Colleen Hoover)
Dear John (Nicholas Sparks)
Insatiable (Meg Cabot)
The Worry Site (Jacqueline Wilson)
Double Act (Jacqueline Wilson)
Beautiful Darkness (Kami Garcia & Margaret Stohl)
Ruby Red (Kiersten Gier)
Islam Sehari-Hari (Ronny Astrada)
The Ghost Writer (Robert Harris)
Entrok (Okky Madasari)
Ways To Live Forever (Sally Nicholls)
Supernatural: Nevermore (Keith R.A. DiCandido)
The Tale of Desperaux (Kate DiCamillo)
The Railway Children (Edith Nesbit)
Therese Raquin (Emile Zola)
Quo Vadis (Henryk Sienkiewick)
Good Omens (Neil Gaiman & Terry Pratchett)
Point of Retreat (Colleen Hoover)
Me Before You (Jojo Moyes)


Saya sudah baca beberapa buku yang saya beli bulan September, dan favorit saya adalah buku Khaled Hosseini (review menyusul). Mungkin ada yang tidak sadar kalau saya memasukkan buku A Thousand Splendid Suns oleh Khaled Hosseini dua kali, namun memang bulan ini saya 'tidak sengaja' membeli dua buku ATSS, satu berbahasa Inggris terbitan Penguin Group yang saya beli duluan di toko online dengan harga murah, dan satu lagi terbitan Mizan Group yang berbahasa Indonesia yang sedang diobral di Gramedia PG. 

Terima kasih, ya Allah, atas nikmat buku yang Engkau berikan..

Buku terakhir yang saya beli, hari Minggu malam lalu..
Buku apa yang baru datang di rak bukumu? Share ceritanya..^^
Thanks for reading,



Saturday, September 28, 2013

[Book Blogger Event] Spell Your Quote

I got really excited for this post, since I have so many great (+inspiring) quotes from books that I love so much! Terkadang, kutipan yang bagus datang dari dialog-dialog panjang yang disusun penulis dengan penuh emosi, yang ketika dibaca, I feel like it was exactly what I feel about something. Needless to say, saya kadang suka membuka kembali halaman-halaman sebuah buku untuk mencari sebuah kalimat yang pernah menyentuh hati saya.

Dari semua buku-buku baik fiksi sampai nonfiksi, saya kesulitan memilih mana quote yang akan saya tulis pada kesempatan kali ini. After some consideration, karena saya tidak tahu aturannya berapa kutipan yang boleh dipilih, saya memilih satu quotes yang sampai saat ini masih berbekas di hati dan ingatan saya.


“Saya yakin bahwa semua ini hanya titipan Allah. Jadi, ngapain juga saya rese pada sesuatu yang nanti juga bisa sewaktu-waktu diminta balik sama yang punya. Termasuk rasa cinta itu sendiri.”
(Catatan Hati yang Cemburu by Asma Nadia, dkk, halaman 158)



Kutipan tersebut datang dari Mbak Ifa Avianty, dalam kisahnya yang berjudul ‘Noktah Itu Bernama Cemburu’. Saya suka banget membuka kembali lembaran buku Catatan Hati yang Cemburu, hanya untuk membaca sebaris kalimat di atas.

Kenapa ya saya suka sama kutipan Mbak Ifa ini? Hmm, mungkin karena kata-kata Mbak Ifa paling mengena di hati saya. Lain dengan sifat Mbak Ifa yang tidak mudah cemburu, saya sendiri orangnya mudah sekali cemburuan (#BukanCurhat). Nah, ketika sampai pada kata-kata Mbak Ifa di atas, saya jadi semacam mendapat pencerahan gitu. Seakan-akan kata-kata Mbak Ifa adalah solusi dari sifat saya yang memang suka ribet banget ngurusin perasaan.

‘Termasuk rasa cinta itu sendiri’. Ya, perasaan cinta itu juga datangnya dari Allah, kan? Allah yang menumbuhkan rasa, kita yang ‘mengorganisirnya’, ibaratnya seperti itu. Nah, kenapa pula saya harus bersusah payah merasa insecure terhadap sesuatu yang sebenarnya milik Allah? Kutipan dari Mbak Ifa di atas menyadarkan saya untuk memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah, termasuk perasaan saya sendiri.

Kenapa saya harus menyusahkan diri saya sendiri atas sesuatu yang sudah dikasih sama Allah, dan saya jaminkan pada Allah? Jangan menyusahkan diri sendiri, menyiksa hati, dan repot mempertahankan kesedihan (sedih kok dipertahankan?). Segala sesuatunya di dunia ini tidak berjalan selamanya, termasuk perasaan saya; rasa cinta dan benci yang saya punya. Mungkin hari ini saya bisa suka sama sesuatu, tapi mungkin keesokan harinya Allah mengubah perasaan tersebut. Jadi, ya, saya percayakan saja urusannya sama Allah. Saya bisa merasakan cinta, cemburu, sedih, dan lain-lain, mempertanyakan perasaan tersebut, tapi kelanjutannya saya percaya Allah memilihkan yang terbaik untuk saya. Begitu.

Intinya sih, kata-kata Mbak Ifa memberikan makna bagi saya bahwa kita harus melibatkan Allah sepenuhnya dalam menjaga, menjamin, dan membentuk perasaan kita. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam event:
Cara berpartisipasi:
- Buat artikel pada blog anda dengan konten quote favorit kamu beserta alasan dan analisa mengapa kamu menyukai quote tersebut. - Masukkan foto buku asal quote kamu dengan keterangan nama blogmu di dalamnya dengan tulisan tangan.
- Sertakan Button Freebies the 13 #2 pada artikelmu.
- Sertakan pula keterangan pada artikelmu yang berisi link menuju Pos Utama Freebies the 13th #2.
- Isi formulir google doc disini. Terima kasih :)

[Book Review] Slammed

Slammed (Slammed #1) by Colleen Hoover
4.37/5 (70,570 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Shandy Tan
Release Date: April 2013 by Gramedia Pustaka Utama (first published January 4th 2012)
Format: Paperback, 336 pages
Genre: Young Adult, Romance

Layken harus kuat demi ibu dan adiknya. Kematian mendadak sang ayah, memaksa mereka untuk pindah ke kota lain. Bayangan harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru sungguh menakutkan Layken. Namun semua berubah, begitu ia bertemu dengan Will Cooper, tetangga barunya.

Will memang menarik. Dengan ketampanan dan senyum memikat, pemuda itu menularkan kecintaannya pada slams––pertunjukan puisi. Perkenalan pertama menjadi serangkaian hubungan intens yang membuat mereka semakin dekat, hingga keduanya bertemu lagi di sekolah...

Sayangnya, hubungan mereka harus berakhir. Perasaan yang mulai tumbuh antara Will dan Layken harus dihentikan. Pertemuan rutin mereka di kelas tak membantu meniadakan perasaan itu. Dan puisi-puisi menjadi sarana untuk menyampaikan suara hati. Tentang sukacita, kecemasan, harapan, dan cinta terlarang mereka.

Menurut Elizabeth Kubler Ross, ada lima tahap yang dilewati orang yang berduka setelah ditinggal mati orang yang dikasihinya: penyangkalan, amarah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

Ketika membaca sinopsis di cover belakang buku ini, yang terfikirkan oleh saya adalah bahwa ceritanya akan berpusat pada kisah cinta antara Layken dan Will, dengan banyak dibumbui puisi-puisi penggugah hati. Tapi ternyata saya cukup senang bahwa ceritanya tidak seperti itu. Memang kisah cinta antara Layken dan Will tetap menjadi konflik yang cukup kuat terutama untuk kedua belah pihak yang merupakan tokoh utama cerita ini, namun sebenarnya banyak sekali kisah lain yang juga terdapat dari cerita Slammed ini.

Slammed lebih bercerita mengenai perjuangan dua orang yang sama-sama memiliki rasa kehilangan dan harus menjalani tanggung jawab yang besar di usia yang masih muda. Slammed juga bercerita tentang bagaimana menerima dan menertawakan hidup. Seperti kata salah satu bait puisi dalam buku ini: kehidupan menghadang semua jalanmu bukan karena kehidupan mau kau menyerah begitu saja dan membiarkan dia memegang kendali.

Colleen menuliskan sebuah kisah yang menarik lewat para tokohnya begitu blak-blakan dan frontal, menampilkan sisi yang berbeda-beda dari suatu masalah. Sebut saja bahwa buku ini bukan merupakan sebuah romansa, tapi lebih kepada bagaimana orang lain memandang kehilangan dalam hidupnya, terutama jika dihadapkan dengan kematian. Di sini kita bisa belajar dari proses Layken dalam menghadapi kehilangan orang-orang yang dicintainya, sekaligus mempertahankan orang-orang yang dicintainya. Kita juga bisa belajar dari sikap Kel, adik Layken dalam menjalani hidup di usia yang masih sangat belia namun sudah harus merasakan sesuatu yang seharusnya dibebankan pada orang dewasa.

Yang menurut saya menarik, saya menemukan dalam Slammed, meskipun tokoh utamanya adalah Layken dan Will sebenarnya tokoh yang paling penting justru adalah tokoh-tokoh lain di sekitar mereka. Selain adik Layken, sebut saja kehadiran sahabat Layken di sekolah, Eddie, yang punya peran tersendiri. Eddie adalah seorang anak angkat yang sejak kecil dibuang oleh ibunya. Di buku ini, Eddie menyampaikan kisah hidupnya secara terbuka, juga sekaligus memberikan warna sendiri bagi pembaca lewat karakternya yang unik, berani, dan riang gembira terlepas dari latar belakang kehidupannya yang tragis. Kehadiran ibu Layken dan adik Will juga menambah kemenarikan ceritanya. Mereka semua menjadikan cerita antara Layken dan Will lebih bermakna dari sekedar kisah cinta, di saat karakter Layken dan Will cenderung stuck, terbelenggu konflik hubungan yang mereka hadapi.

Meskipun judulnya Slammed, yang entah diambil dari kata Slams (pertunjukan puisi) atau Slam (membanting, menghempaskan), buku ini tidak banyak mengobral puisi. Meskipun ada beberapa puisi yang ditulis Colleen di buku ini dan hasil antara terjemahan (Gramedia) dengan bahasa asli (bahasa Inggris yang ditulis Colleen) pasti tidak sama feelingnya, namun saya mendapati bahwa beberapa puisi tersebut ketika dibaca terjemahannya tetap keren. Bayangkan seseorang yang sedang mementaskan drama teater yang kata-katanya ditulis melalui ungkapan hatinya. Itulah bentuk Slams yang ditulis Colleen Hoover. Sama sekali bukan puisi norak, melainkan puisi yang jujur.

Saya agak kesulitan menentukan poin yang ingin disampaikan penulis lewat Slammed. Ini sempat membuat saya terkesan, karena ketika saya membaca bab-bab awal hubungan antara Layken dan Will, saya pikir pesan yang ingin disampaikan Colleen adalah bahwa hidup ini memiliki prioritas, dan otak adalah prioritas utama dibandingkan dengan hati. Namun, dalam ending cerita ini, pemikiran saya goyah. Untuk lebih adilnya (dan untuk menghindari saya menuliskan spoiler), tidak hanya satu pesan yang disampaikan Colleen lewat Slammed, dan beberapa pesan memang bertentangan, tergantung dimana posisi situasi dan kondisi saat itu.

Secara keseluruhan saya suka dengan tulisan Colleen Hoover dalam Slammed. Saya suka bagaimana Colleen menambahkan unsur yang kelihatannya sepele dalam ceritanya, namun sebenarnya memiliki makna yang dalam. Seperti kebiasaan Kel (adik Layken) yang suka berjalan mundur, yang artinya adalah bahwa kita bisa menjalani hidup secara terbalik,  yaitu menertawakan hal-hal dalam hidup yang tadinya kita pikir tidak dapat kita tertawakan. Atau kecenderungan Layken untuk 'mengukir labu', yang merupakan sebuah bentuk ungkapan atas penyangkalan Layken atas kesedihan-kesedihannya dan penolakannya atas konfrontasi yang timbul dari kesedihan tersebut. Saya menyelesaikan buku ini dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, dan  segera ingin melanjutkan buku keduanya, Point of Retreat, yang baru saja diterbitkan oleh Gramedia versi bahasa Indonesianya.


(Slammed by Colleen Hoover, Page 1, first paragraph)
Aku dan Kel memuat dua kardus terakhir ke dalam truk U-Haul. Kutarik turun pintu truk lalu kupasang palangnya, mengunci delapan belas tahun kenangan yang semuanya mencakup memori tentang ayahku.


4 stars - I enjoyed this book, I would recommend it




Friday, September 27, 2013

[Book Review] Thirteen Reasons Why

Thirteen Reasons Why by Jay Asher
4.06/5 (175,283 rating)

Publisher: Razorbill
Release Date: January 1st 2007
Format: Hardcover, 304 pages
Genre: Realistic Fiction

Clay Jensen returns home from school to find a mysterious box with his name on it lying on his porch. Inside he discovers thirteen cassette tapes recorded by Hannah Baker, his classmate and crush who committed suicide two weeks earlier.

On tape, Hannah explains that there are thirteen reasons why she decided to end her life. Clay is one of them. If he listens, he'll find out how he made the list.

Through Hannah and Clay's dual narratives, debut author Jay Asher weaves an intricate and heartrending story of confusion and desperation that will deeply affect teen readers.


Tertarik sama buku ini setelah melihat buku ini menempati posisi teratas dalam daftar buku "The Best Realistic Fiction", bareng sama The Perks of Being A Wallflower. Dan nyatanya ceritanya memang sedikit realistis sih, setipe dengan The Perks, tentang seorang remaja yang memiliki masalah, dan dia berusaha untuk get over it. Tapi kalau The Perks itu punya happy ending, buku ini tidak.

Awalnya ceritanya sih oke, narasi yang diungkapkan Hannah lewat tape recordernya menimbulkan rasa penasaran sehingga menjadi page turner buku ini. Tapi semakin kebelakang, ketika misteri tentang penyebab Hannah bunuh diri mulai terungkap, saya harus mengakui bahwa saya sedikit kecewa karena kenyataannya tidak sesuai dengan harapan saya. Menurut saya masalah yang dialami Hannah Baker di sekolahnya, yang sampai menyebabkan dia bunuh diri dan merekam alasan-alasannya dalam sebuah kaset itu sepele banget. Masalah-masalah yang dialami Hannah, dari mulai pelecehan sampai kenakalan remaja lainnya menurut saya masih bisa disikapi dengan normal. I find it difficult to keep up with Hannah's struggle. And she definitely doesn't get my sympathy.

Penjabaran cerita oleh Jay Asher menekankan dengan baik unsur psikologis yaitu rasa tertekan dari Hannah atas situasi yang mengusik zona nyamannya, yang mengakibatkan Hannah mengambil tindakan bunuh diri dan membalas dendam kepada orang-orang yang menyebabkan dia bunuh diri dengan merekam suaranya dengan tape recorder sebelum meninggal. Kedengarannya sungguh menarik, kan? Tapi saya tidak mengerti alasan Hannah melakukan hal itu, apakah untuk menghantui mereka yang menyebabkannya mengambil keputusan bunuh diri dengan rasa bersalah? Kalau begitu, lagi-lagi saya harus kecewa karena menurut saya menghukum seseorang dengan rasa bersalah tidak akan membuatmu lebih baik. Tindakan yang sangat kekanak-kanakan dan egois sekali. So, Hannah Baker, dewasalah! Sekali lagi, saya tidak bisa bersimpati dengan Hannah atas apa yang telah dia alami. I think the only problem of Hannah is she have a psychological disorder and she doesn't know that.

Overall, saya tahu bahwa Jay Asher ingin memberikan perspektif melalui Hannah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, meskipun sepele, dapat berakibat besar bagi orang lain. Hikmah yang baik sekali, sekalipun masih banyak kekurangan, terutama karakter-karakter yang dibangun penulis. Mengingat buku ini menceritakan problem seorang remaja, cerita ini kehilangan unsur yang cukup krusial dalam kehidupan seorang remaja, yaitu keberadaan orang tua. Ketika kita terhanyut menyelami kehidupan Hannah sebelum bunuh diri, sedikit sekali peran kedua orang tuanya disinggung, atau bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Bahkan di akhir hidupnya, Hannah memberikan kesempatan pada orang lain untuk menyelamatkan dirinya dari perasaan tertekan. Apakah kedua orang tua Hannah begitu menelantarkan anaknya atau sedikit sekali mengambil bagian dalam kehidupan anak perempuannya itu sehingga Hannah bunuh diri? Sayangnya, tidak ada penjelasan memuaskan tentang hal itu.

Setahu saya, buku ini sering menjadi literatur bacaan untuk sekolah-sekolah remaja di luar negeri. Tidak mengherankan sih, karena banyak hal-hal yang bisa dianalisis dan digali dari cerita bergenre realistic fiction ini, khususnya untuk para remaja. Terlepas dari ketidaksukaan saya terhadap karakter utamanya, buku ini tetap merupakan sesuatu yang menarik untuk dibaca, terutama yang suka pada psikologi. Selain itu, bagi yang suka sesuatu yang penuh misteri, buku ini menjadi salah satu pilihan karena kita dibawa penasaran oleh cerita dibalik kasus bunuh diri Hannah Baker. Pembaca akan dibawa dari satu nama ke dua belas nama lainnya dalam kehidupan Hannah yang menyebabkannya mengambil keputusan bunuh diri, mengungkap segala peristiwa tersembunyi dalam kehidupan Hannah dan ketiga belas orang lainnya. Moreover, untuk saya pribadi sepertinya bagus kalau buku ini dijadikan film atau mendengarkannya dalam bentuk audio book, supaya bisa mendengar langsung suara Hannah dalam tape recorder, sehingga dapat lebih terasa suasana mencekam dan misteriusnya.  :)

(-----Thirteen Reasons Why, Page 1, by Jay Asher)
“Sir?” she repeats. “How soon do you want it to get there?” I rub two fingers, hard, over my left eyebrow. The throbbing has become intense. “It doesn’t matter,” I say.

The clerk takes the package. The same shoebox that sat on my porch less than twenty-four hours ago; rewrapped in a brown paper bag, sealed with clear packing tape, exactly as I had received it. But now addressed with a new name. The next name on Hannah Baker’s list.


3 stars - This book was OK, read it if sounds good to you 




Thursday, September 26, 2013

[Book Review] Nganggur Galau

Nganggur Galau by @Rach_Char
3/5 (2 rating)

Publisher: nulisbuku.com
Release Date: April 2013
Format: Paperback, 143 pages
Source: free book to be reviewed from the writer
Genre: Comedy

Siksaan terbesar seorang sarjana kelas lapuk macam gue adalah deklarasi pengangguran,.. dan tambahannya adalah pengangguran jomblo, itu semacem sudah jatuh tertimpa tangga, dimarahin tetangga plus disiram bensin, mau dibakar...

Hidup terkadang mengenaskan, kawan...

Kesan pertama ketika saya membuka buku ini adalah.. hmm apa nggak kebalik ya ini cetakannya? Karena yang awalnya saya kira cover buku ini ternyata ketika dibuka halamannya malah langsung menuju halaman terakhir, dan dalam posisi terbalik pula tulisannya. Saya tidak tahu apakah buku ini dicetak demikian untuk menguatkan kesan “kocak” dari buku bergenre komedi ini. Ya, kali aja sengaja dicetak salah seperti itu untuk tambah membuat bingung pembacanya dan sekedar lucu-lucuan.

Terlepas dari kondisi fisik buku yang menurut saya tidak menarik, baik dari segi cover maupun cetakan, Rach_Char menulis rangkuman singkat mengenai pengalaman saat ia menjadi Jobseeker. Overall semuanya cukup membuat saya ketawa prihatin dan miris, dan berfikir kalau si penulis merupakan seseorang yang tangguh sekali bisa melewati masa-masa sulitnya mencari pekerjaan. Mulai dari tes masuk perusahaan yang bikin kepala muter, sampai perusahaan yang suka PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Membaca pengalaman singkat Rach_Char membuat saya berfikir miris tentang kondisi para Jobseeker, yang rata-rata masih muda dan masih ingin menikmati hidup dengan segala ke-“odong”-annya.

Di beberapa poin, saya sempat mempertanyakan apakah cerita ini merupakan 100% nonfiksi atau bukan, karena cerita Rach_Char kadang melewati batas wajar dalam bayangan saya tentang kondisi perusahaan-perusahaan dan para Jobseeker.

Untuk penulisan, saya lebih suka jika bahasanya dibuat tidak terlalu informal atau serampangan. Kata-kata seperti ‘nglamar’, ‘prusahaan’, ‘ngliatin’, ‘ostrali’, ‘belanjut’, membuat saya jengah karena lebih enak dibaca ‘ngelamar’, ‘perusahaan’, ‘ngeliatin’, ‘australi’, atau ‘berlanjut’. Pemakaian huruf kapital, misalnya di awal kalimat dan pada kata ganti sapaan, juga harusnya diperhatikan agar tidak terkesan sembarangan dalam pencetakan naskahnya.

Beberapa kesalahan penulisan kata juga terdapat di buku ini, meskipun terkadang saya harus menebak apakah kesalahan penulisan ini dikarenakan gaya penulisan Rach_Char ataukah memang salah eja. Diantaranya yang menurut saya perlu diperbaiki adalah:
  • Halaman 21: ‘setalah’ seharusnya menjadi ‘setelah’ 
  • Halaman 52: ‘tmengartikan’ seharusnya menjadi ‘mengartikan’ 
  • Halaman 65: ‘lengen’ seharusnya menjadi ‘lengan’ 
  • Halaman 88: ‘los’ seharusnya menjadi ‘lo’ 
  • Halaman 93: ‘talanjang’ seharusnya menjadi ‘telanjang’ 
  • Halaman 122: ‘selam’ seharusnya menjadi ‘selama’ 
  • Halaman 135: ‘aadalah’ seharusnya ‘adalah’

Hal lain yang mengganggu saya dalam membaca sebuah cerita adalah kata ganti acuan untuk orang yang berubah. Dalam ‘Nganggur Galau’, saya menemukan satu bagian cerita pada halaman 22, dimana ibu Rach_Char menggunakan kata ganti yang tidak konsisten. Pertama, ia menggunakan ‘loe’ untuk menyebut Rach_Char, yang saya pikir frontal sekali seorang ibu memanggil anaknya dengan sebutan ‘loe’, lalu pada dialog berikutnya, terjadi perubahan kata ganti ‘kamu’ untuk Rach_Char, yang menurut saya lebih pantas digunakan. Entah itu kesengajaan atau kesalahan penulis dalam menyusun dialognya, saya tidak tahu.

Dalam beberapa kalimat yang dibuat joke oleh Rach_Char, jujur saja saya juga tidak mengerti letak lucu dan nyambungnya dimana, seperti:
Gue mikir banget, otak gue bekerja beberapa derajat, jantung gue bregadak-breguduk mirip tukang siomay empang kali.
Nah, saya tidak mengerti apa hubungan antara otak yang bekerja keras dengan ‘mirip tukang siomay empang kali’. Mungkin lain kali bisa membuat perumpamaan yang lebih dapat dimengerti pembaca.

Bagian yang saya tandai sebagai favorit adalah pada halaman 81-82, dimana akhirnya Rach_Char mengutip sebuah kalimat dari Forest Gump;
“Life is like a box of chocolates, you’ll never know what you’re going to get.”



2.5 stars - This book was OK, read it if sounds good to you 




Tuesday, September 10, 2013

[Book Review] Sweet Melody 2

Sweet Melody 2 (Sweet Melody #2) by Baek Myo
Original Title: 스위트 멜로디 2

Publisher: Penerbit Haru
Translator: Dimitri Dairi Tampubolon
Release Date: 2013 by Penerbit Haru
Format: Paperback, 320 pages
Source: free book to be reviewed from publisher
Genre: Korean, Romance

Hwan, anggota Sweet Melody yang tanpa sengaja terpaksa menyamar menjadi laki-laki, mulai tak mengerti apa yang ia rasakan. Ia ingin sekali memberi tahu seluruh anggota Sweet Melody bahwa ia adalah perempuan. Namun, maukah mereka memaafkannya?

Sementara itu, Hyeon Ju, pianis terkenal yang kabur dari rumah itu benar-benar resmi menjadi anggota Sweet Melody. Tetapi, apa yang akan terjadi kalau ia menyukai Hwan yang juga seorang perempuan seperti dirinya?

Apakah musik masih bisa menyelamatkan hubungan mereka?


Main IDEA
Lee Hwan, Chang Ryong, Hyeon Ju, Ju Ho, Jin Wo dan Jin Seong adalah grup musik yang beranggotakan dua orang perempuan dan empat laki-laki yang dinamakan Sweet Melody. Tapi, Hwan tidak mengungkapkan identitasnya sebagai perempuan sehingga orang-orang menganggapnya sebagai laki-laki. Masalah satu persatu muncul mulai dari Chang Ryong yang menyukainya namun tidak bisa mengungkapkan perasaannya karena ia menganggap Hwan adalah sesama lelaki, dan Hyeoun Ju dan Turan, anggota band H2O, yang menyukai Hwan sebagai laki-laki. Tapi, Hwan kan sebenarnya perempuan?
Negatives
Konflik percintaan dan pengungkapan gender Hwan ini membuat saya bosan dengan jalan ceritanya. Dari buku pertama hingga buku kedua, Hwan yang menyembunyikan keadaan dirinya sebagai perempuan sungguh mengganggu saya. Saya pikir, konyol saja jika seseorang perempuan yang bernyanyi masih dianggap sebagai seorang laki-laki. Kalau penampilan dan sikapnya mungkin ya, masih dalam batas wajar seseorang perempuan bisa dianggap sebagai laki-laki, tapi kalau sudah bernyanyi pastilah tentu beda. Ini yang membuat saya jengah akan ide cerita Sweet Melody 2 ini.

Sama dengan ide utama Sweet Melody 2, konflik percintaan yang ditimbulkan sebagai akibat dari identitas Hwan sebagai laki-laki juga tidak menarik perhatian saya. Ini diakibatkan kurangnya Baek Myo (penulis) membangun suasana yang kuat untuk mendukung berkembangnya perasaan para tokohnya. Hampir seluruh dialog atau scene dibuat ringkas dan datar, meskipun ‘dialog keroyokan’ yang saya bahas pada review buku sebelumnya (Sweet Melody 1) sudah jauh berkurang sehingga dialognya lebih mudah dipahami.

Characters
Karakter yang dibangun Baek Myo dalam Sweet Melody terbilang cukup banyak. Selain keenam personil Sweet Melody, ada pula karakter-karakter lain seperti anggota band lainnya, H2O dan Poisedon. Belum lagi ditambah beberapa karakter tambahan yang juga mendukung cerita utama seperti Gerombolan Khong Kag Ji, serta keluarga dari Sweet Melody yang turut berperan dalam cerita. Meskipun klise, saya suka ketika Baek Myo membuat seluruh karakter menyatu dan berakhir dengan baik. Tidak ada tempat untuk dendam dan kejahatan.

Tokoh yang paling saya sukai justru datang dari minor characters yang kehadirannya hanya sedikit sekali dalam buku ini, yaitu Mi Rae, tunangan dari Chang Ryong. Yang saya suka dari karakter Mi Rae adalah karena sifatnya terasa paling kuat, yaitu egois dan menyebalkan. Meskipun kemunculannya hanya sedikit dalam cerita ini, kata-kata yang dilontarkan karakter ini sungguh membuat saya jengkel namun gembira karena menguatkan pendapat saya bahwa tokoh lain, yaitu Chang Ryong, benar-benar sungguh membosankan dan “stupidly uninteresting”.

Additions
Karakter Hwan sebagai tokoh utama sangat menonjol, namun kenyataan bahwa Hwan bisa menyelesaikan seluruh konflik baik konfliknya maupun konflik orang lain (konflik dengan gerombolan preman, konflik penindasan adiknya, konflik dengan kedua orang tua Hyeon Ju, konflik dengan kedua orang tua Chang Ryong), membuat saya menganggap entah Hwan adalah sosok yang terlalu sempurna, atau Chang Ryong sebagai tokoh utama laki-laki sungguh tidak berguna dan pengecut, atau endingnya terlalu dipaksakan.

VERDICTS
Disamping bermain dengan ide cerita apakah Hwan seorang laki-laki atau perempuan dan mengembangkan konflik cinta yang membosankan dan konyol, menurut saya ada beberapa aspek cerita yang bisa membuat Sweet Melody lebih menarik. Konflik keluarga yang dialami Chang Ryong dan Hyeon Ju adalah salah satu dari beberapa hal yang membuat saya terus penasaran dan membalik halaman selanjutnya. Sayangnya, page turner ada hanya pada setengah halaman terakhir. Konflik lain selain kenyataan bahwa Hwan adalah perempuan dan dicintai oleh orang yang salah baru mulai dibangun dan diselesaikan pada beberapa halaman terakhir secara beriringan. Ini yang membuat saya merasa endingnya dipaksakan namun gembira karena menemukan halaman-halaman yang paling menarik perhatian saya. Dialog yang dibangun pada beberapa konflik di halaman terakhir sungguh mengena.

“Kemampuan Hyeon Ju memang sangat baik. Dia genius. Tapi, apa Bibi sudah lupa? Hyeon Ju baru berusia 16 tahun. Apa yang Bibi lakukan ketika berusia 16 tahun? Apakah Bibi bekerja seharian penuh? Bibi tidak pernah bermain dengan teman-teman Bibi? Apa Bibi terkurung di rumah dan hanya belajar saja?

Apa Bibi sudah menanyakan alasan Hyeon Ju kabur dari rumah? Mengapa ia ketakutan untuk bermain piano, apa pernah menanyainya bahkan untuk sekali saja? Apa Bibi pernah bertanya kenapa ia sekarang hanya memainkan keyboard di dalam band dengan kemampuannya yang hebat itu?”

LAST Statement
Ending dari Sweet Melody membuat seluruh buku dari buku pertama hingga kedua layak untuk diikuti, meskipun dengan mencapainya harus sedikit bersabar mengikuti alur cerita.


3 stars - This book was OK, read it if sounds good to you

Sunday, September 8, 2013

[Book Review] Spells (Wings #2)

Spells (Wings #2) by Aprilynne Pike
3.99/ 5 (22,094 ratings)

Publisher: Gramedia
Translator:  Maharani Aulia
Release Date: September 2012 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 4th 2010)
Format: Paperback, 336 pages
Source: free book to be reviewed from publisher
Genre: Paranormal, Fantasy

Enam bulan lalu Laurel menyelamatkan gerbang peri menuju Avalon, dan sekarang ia harus menghabiskan libur musim panasnya di sana, mengasah keahliannya sebagai peri Musim Gugur. Tapi keluarga dan teman manusianya masih dalam bahaya––dan gerbang menuju Avalon juga semakin terancam.

Ketika harus melindungi orang yang dicintainya, akankah Laurel bergantung pada David, pacar manusianya? Ataukah ia akan berpaling pada Tamani, peri yang juga tertarik pada Laurel?


Buy this book on : BukuKita
_______________________

Bismillah..

“Dengan sejumput Harry Potter dan segenggam Twilight”
Begitulah endorsement yang diberikan untuk sekuel ini. Saya tidak mengetahui secara pasti, mungkin karena cerita ini menarik unsure magis dan ramuan-ramuan dari dunia Harry Potter dan kisah cinta segitiga dari Twilight, tapi saya merasa tidak sependapat bahwa sekuel yang ditulis Aprilynne Pike ini dapat dibandingkan dengan sejumput ataupun segenggam dunia yang dibangun oleh J.K. Rowling dan Stephenie Meyer tersebut.


Bagaimanapun juga, saya berpendapat bahwa Spells masih memiliki beberapa kekurangan di beberapa aspek, salah satunya adalah kemampuan karakternya untuk bisa disukai oleh pembaca seperti saya. Saya mengambil contoh Laurel, si karakter utama yang amat sangat mengganggu saya karena tidak bisa menentukan kepada siapa perasaannya akan diberikan, apakah kepada Tamani, teman peri masa kecilnya yang selalu menawarkan kebaikan dan perlindungan untuknya, atau David, pacar manusianya. 


Kekuatan karakternya juga sangat kurang, misalnya saja saya tidak pernah mengerti alasan mengapa Tamani sangat mencintai Laurel hingga rela menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk melindungi dan menunggu Laurel kembali ke Avalon. Kenapa Laurel pantas menerima pengorbanan dari seseorang seperti Tamani sampai begitu lama? Terdengar seperti tipikal kisah cinta Twilight yang tidak berakal sehat.


Selain karakter, dunia yang dibangun oleh Aprilynne Pike juga tidak mengesankan saya selain kenyataan bahwa para peri dibagi menjadi empat; Peri Musim Dingin, Peri Musim Gugur, dan Peri Musim Panas, dan Peri Musim Semi. Jadi, katakan saja bahwa ide Aprilynne Pike mengenai kehidupan peri sebenarnya sudah menarik, tapi untuk mengembangkannya sama sekali kurang. Ketika saya membaca Spells sedikit sekali yang bisa dibayangkan dari kehidupan Avalon, dan ketika saya sampai pada menutup halaman terakhir buku ini, rasanya banyak yang terlupakan.


Last statement, Spells bukannya tidak worth it untuk dibaca karena bagi penyuka paranormal creatures seperti peri mungkin tidak akan kesulitan membacanya, namun bagi pembaca yang sedikit kritis dan logis, buku ini bisa sangat menganggu. Saya merekomendasikan buku ini apabila pembaca ingin merasakan sesuatu yang menarik namun tidak menyita terlalu banyak fantasi dan khayalan.

Best Wishes,
@fennyusuf





My Rating :

3 stars - This book was OK, read it if sounds good to you