Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Thursday, September 26, 2013

[Book Review] Nganggur Galau

Nganggur Galau by @Rach_Char
3/5 (2 rating)

Publisher: nulisbuku.com
Release Date: April 2013
Format: Paperback, 143 pages
Source: free book to be reviewed from the writer
Genre: Comedy

Siksaan terbesar seorang sarjana kelas lapuk macam gue adalah deklarasi pengangguran,.. dan tambahannya adalah pengangguran jomblo, itu semacem sudah jatuh tertimpa tangga, dimarahin tetangga plus disiram bensin, mau dibakar...

Hidup terkadang mengenaskan, kawan...

Kesan pertama ketika saya membuka buku ini adalah.. hmm apa nggak kebalik ya ini cetakannya? Karena yang awalnya saya kira cover buku ini ternyata ketika dibuka halamannya malah langsung menuju halaman terakhir, dan dalam posisi terbalik pula tulisannya. Saya tidak tahu apakah buku ini dicetak demikian untuk menguatkan kesan “kocak” dari buku bergenre komedi ini. Ya, kali aja sengaja dicetak salah seperti itu untuk tambah membuat bingung pembacanya dan sekedar lucu-lucuan.

Terlepas dari kondisi fisik buku yang menurut saya tidak menarik, baik dari segi cover maupun cetakan, Rach_Char menulis rangkuman singkat mengenai pengalaman saat ia menjadi Jobseeker. Overall semuanya cukup membuat saya ketawa prihatin dan miris, dan berfikir kalau si penulis merupakan seseorang yang tangguh sekali bisa melewati masa-masa sulitnya mencari pekerjaan. Mulai dari tes masuk perusahaan yang bikin kepala muter, sampai perusahaan yang suka PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Membaca pengalaman singkat Rach_Char membuat saya berfikir miris tentang kondisi para Jobseeker, yang rata-rata masih muda dan masih ingin menikmati hidup dengan segala ke-“odong”-annya.

Di beberapa poin, saya sempat mempertanyakan apakah cerita ini merupakan 100% nonfiksi atau bukan, karena cerita Rach_Char kadang melewati batas wajar dalam bayangan saya tentang kondisi perusahaan-perusahaan dan para Jobseeker.

Untuk penulisan, saya lebih suka jika bahasanya dibuat tidak terlalu informal atau serampangan. Kata-kata seperti ‘nglamar’, ‘prusahaan’, ‘ngliatin’, ‘ostrali’, ‘belanjut’, membuat saya jengah karena lebih enak dibaca ‘ngelamar’, ‘perusahaan’, ‘ngeliatin’, ‘australi’, atau ‘berlanjut’. Pemakaian huruf kapital, misalnya di awal kalimat dan pada kata ganti sapaan, juga harusnya diperhatikan agar tidak terkesan sembarangan dalam pencetakan naskahnya.

Beberapa kesalahan penulisan kata juga terdapat di buku ini, meskipun terkadang saya harus menebak apakah kesalahan penulisan ini dikarenakan gaya penulisan Rach_Char ataukah memang salah eja. Diantaranya yang menurut saya perlu diperbaiki adalah:
  • Halaman 21: ‘setalah’ seharusnya menjadi ‘setelah’ 
  • Halaman 52: ‘tmengartikan’ seharusnya menjadi ‘mengartikan’ 
  • Halaman 65: ‘lengen’ seharusnya menjadi ‘lengan’ 
  • Halaman 88: ‘los’ seharusnya menjadi ‘lo’ 
  • Halaman 93: ‘talanjang’ seharusnya menjadi ‘telanjang’ 
  • Halaman 122: ‘selam’ seharusnya menjadi ‘selama’ 
  • Halaman 135: ‘aadalah’ seharusnya ‘adalah’

Hal lain yang mengganggu saya dalam membaca sebuah cerita adalah kata ganti acuan untuk orang yang berubah. Dalam ‘Nganggur Galau’, saya menemukan satu bagian cerita pada halaman 22, dimana ibu Rach_Char menggunakan kata ganti yang tidak konsisten. Pertama, ia menggunakan ‘loe’ untuk menyebut Rach_Char, yang saya pikir frontal sekali seorang ibu memanggil anaknya dengan sebutan ‘loe’, lalu pada dialog berikutnya, terjadi perubahan kata ganti ‘kamu’ untuk Rach_Char, yang menurut saya lebih pantas digunakan. Entah itu kesengajaan atau kesalahan penulis dalam menyusun dialognya, saya tidak tahu.

Dalam beberapa kalimat yang dibuat joke oleh Rach_Char, jujur saja saya juga tidak mengerti letak lucu dan nyambungnya dimana, seperti:
Gue mikir banget, otak gue bekerja beberapa derajat, jantung gue bregadak-breguduk mirip tukang siomay empang kali.
Nah, saya tidak mengerti apa hubungan antara otak yang bekerja keras dengan ‘mirip tukang siomay empang kali’. Mungkin lain kali bisa membuat perumpamaan yang lebih dapat dimengerti pembaca.

Bagian yang saya tandai sebagai favorit adalah pada halaman 81-82, dimana akhirnya Rach_Char mengutip sebuah kalimat dari Forest Gump;
“Life is like a box of chocolates, you’ll never know what you’re going to get.”



2.5 stars - This book was OK, read it if sounds good to you 




No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.