Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Saturday, September 28, 2013

[Book Review] Slammed

Slammed (Slammed #1) by Colleen Hoover
4.37/5 (70,570 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Shandy Tan
Release Date: April 2013 by Gramedia Pustaka Utama (first published January 4th 2012)
Format: Paperback, 336 pages
Genre: Young Adult, Romance

Layken harus kuat demi ibu dan adiknya. Kematian mendadak sang ayah, memaksa mereka untuk pindah ke kota lain. Bayangan harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru sungguh menakutkan Layken. Namun semua berubah, begitu ia bertemu dengan Will Cooper, tetangga barunya.

Will memang menarik. Dengan ketampanan dan senyum memikat, pemuda itu menularkan kecintaannya pada slams––pertunjukan puisi. Perkenalan pertama menjadi serangkaian hubungan intens yang membuat mereka semakin dekat, hingga keduanya bertemu lagi di sekolah...

Sayangnya, hubungan mereka harus berakhir. Perasaan yang mulai tumbuh antara Will dan Layken harus dihentikan. Pertemuan rutin mereka di kelas tak membantu meniadakan perasaan itu. Dan puisi-puisi menjadi sarana untuk menyampaikan suara hati. Tentang sukacita, kecemasan, harapan, dan cinta terlarang mereka.

Menurut Elizabeth Kubler Ross, ada lima tahap yang dilewati orang yang berduka setelah ditinggal mati orang yang dikasihinya: penyangkalan, amarah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

Ketika membaca sinopsis di cover belakang buku ini, yang terfikirkan oleh saya adalah bahwa ceritanya akan berpusat pada kisah cinta antara Layken dan Will, dengan banyak dibumbui puisi-puisi penggugah hati. Tapi ternyata saya cukup senang bahwa ceritanya tidak seperti itu. Memang kisah cinta antara Layken dan Will tetap menjadi konflik yang cukup kuat terutama untuk kedua belah pihak yang merupakan tokoh utama cerita ini, namun sebenarnya banyak sekali kisah lain yang juga terdapat dari cerita Slammed ini.

Slammed lebih bercerita mengenai perjuangan dua orang yang sama-sama memiliki rasa kehilangan dan harus menjalani tanggung jawab yang besar di usia yang masih muda. Slammed juga bercerita tentang bagaimana menerima dan menertawakan hidup. Seperti kata salah satu bait puisi dalam buku ini: kehidupan menghadang semua jalanmu bukan karena kehidupan mau kau menyerah begitu saja dan membiarkan dia memegang kendali.

Colleen menuliskan sebuah kisah yang menarik lewat para tokohnya begitu blak-blakan dan frontal, menampilkan sisi yang berbeda-beda dari suatu masalah. Sebut saja bahwa buku ini bukan merupakan sebuah romansa, tapi lebih kepada bagaimana orang lain memandang kehilangan dalam hidupnya, terutama jika dihadapkan dengan kematian. Di sini kita bisa belajar dari proses Layken dalam menghadapi kehilangan orang-orang yang dicintainya, sekaligus mempertahankan orang-orang yang dicintainya. Kita juga bisa belajar dari sikap Kel, adik Layken dalam menjalani hidup di usia yang masih sangat belia namun sudah harus merasakan sesuatu yang seharusnya dibebankan pada orang dewasa.

Yang menurut saya menarik, saya menemukan dalam Slammed, meskipun tokoh utamanya adalah Layken dan Will sebenarnya tokoh yang paling penting justru adalah tokoh-tokoh lain di sekitar mereka. Selain adik Layken, sebut saja kehadiran sahabat Layken di sekolah, Eddie, yang punya peran tersendiri. Eddie adalah seorang anak angkat yang sejak kecil dibuang oleh ibunya. Di buku ini, Eddie menyampaikan kisah hidupnya secara terbuka, juga sekaligus memberikan warna sendiri bagi pembaca lewat karakternya yang unik, berani, dan riang gembira terlepas dari latar belakang kehidupannya yang tragis. Kehadiran ibu Layken dan adik Will juga menambah kemenarikan ceritanya. Mereka semua menjadikan cerita antara Layken dan Will lebih bermakna dari sekedar kisah cinta, di saat karakter Layken dan Will cenderung stuck, terbelenggu konflik hubungan yang mereka hadapi.

Meskipun judulnya Slammed, yang entah diambil dari kata Slams (pertunjukan puisi) atau Slam (membanting, menghempaskan), buku ini tidak banyak mengobral puisi. Meskipun ada beberapa puisi yang ditulis Colleen di buku ini dan hasil antara terjemahan (Gramedia) dengan bahasa asli (bahasa Inggris yang ditulis Colleen) pasti tidak sama feelingnya, namun saya mendapati bahwa beberapa puisi tersebut ketika dibaca terjemahannya tetap keren. Bayangkan seseorang yang sedang mementaskan drama teater yang kata-katanya ditulis melalui ungkapan hatinya. Itulah bentuk Slams yang ditulis Colleen Hoover. Sama sekali bukan puisi norak, melainkan puisi yang jujur.

Saya agak kesulitan menentukan poin yang ingin disampaikan penulis lewat Slammed. Ini sempat membuat saya terkesan, karena ketika saya membaca bab-bab awal hubungan antara Layken dan Will, saya pikir pesan yang ingin disampaikan Colleen adalah bahwa hidup ini memiliki prioritas, dan otak adalah prioritas utama dibandingkan dengan hati. Namun, dalam ending cerita ini, pemikiran saya goyah. Untuk lebih adilnya (dan untuk menghindari saya menuliskan spoiler), tidak hanya satu pesan yang disampaikan Colleen lewat Slammed, dan beberapa pesan memang bertentangan, tergantung dimana posisi situasi dan kondisi saat itu.

Secara keseluruhan saya suka dengan tulisan Colleen Hoover dalam Slammed. Saya suka bagaimana Colleen menambahkan unsur yang kelihatannya sepele dalam ceritanya, namun sebenarnya memiliki makna yang dalam. Seperti kebiasaan Kel (adik Layken) yang suka berjalan mundur, yang artinya adalah bahwa kita bisa menjalani hidup secara terbalik,  yaitu menertawakan hal-hal dalam hidup yang tadinya kita pikir tidak dapat kita tertawakan. Atau kecenderungan Layken untuk 'mengukir labu', yang merupakan sebuah bentuk ungkapan atas penyangkalan Layken atas kesedihan-kesedihannya dan penolakannya atas konfrontasi yang timbul dari kesedihan tersebut. Saya menyelesaikan buku ini dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, dan  segera ingin melanjutkan buku keduanya, Point of Retreat, yang baru saja diterbitkan oleh Gramedia versi bahasa Indonesianya.


(Slammed by Colleen Hoover, Page 1, first paragraph)
Aku dan Kel memuat dua kardus terakhir ke dalam truk U-Haul. Kutarik turun pintu truk lalu kupasang palangnya, mengunci delapan belas tahun kenangan yang semuanya mencakup memori tentang ayahku.


4 stars - I enjoyed this book, I would recommend it




No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.