Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Sunday, September 8, 2013

[Book Review] Spells (Wings #2)

Spells (Wings #2) by Aprilynne Pike
3.99/ 5 (22,094 ratings)

Publisher: Gramedia
Translator:  Maharani Aulia
Release Date: September 2012 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 4th 2010)
Format: Paperback, 336 pages
Source: free book to be reviewed from publisher
Genre: Paranormal, Fantasy

Enam bulan lalu Laurel menyelamatkan gerbang peri menuju Avalon, dan sekarang ia harus menghabiskan libur musim panasnya di sana, mengasah keahliannya sebagai peri Musim Gugur. Tapi keluarga dan teman manusianya masih dalam bahaya––dan gerbang menuju Avalon juga semakin terancam.

Ketika harus melindungi orang yang dicintainya, akankah Laurel bergantung pada David, pacar manusianya? Ataukah ia akan berpaling pada Tamani, peri yang juga tertarik pada Laurel?


Buy this book on : BukuKita
_______________________

Bismillah..

“Dengan sejumput Harry Potter dan segenggam Twilight”
Begitulah endorsement yang diberikan untuk sekuel ini. Saya tidak mengetahui secara pasti, mungkin karena cerita ini menarik unsure magis dan ramuan-ramuan dari dunia Harry Potter dan kisah cinta segitiga dari Twilight, tapi saya merasa tidak sependapat bahwa sekuel yang ditulis Aprilynne Pike ini dapat dibandingkan dengan sejumput ataupun segenggam dunia yang dibangun oleh J.K. Rowling dan Stephenie Meyer tersebut.


Bagaimanapun juga, saya berpendapat bahwa Spells masih memiliki beberapa kekurangan di beberapa aspek, salah satunya adalah kemampuan karakternya untuk bisa disukai oleh pembaca seperti saya. Saya mengambil contoh Laurel, si karakter utama yang amat sangat mengganggu saya karena tidak bisa menentukan kepada siapa perasaannya akan diberikan, apakah kepada Tamani, teman peri masa kecilnya yang selalu menawarkan kebaikan dan perlindungan untuknya, atau David, pacar manusianya. 


Kekuatan karakternya juga sangat kurang, misalnya saja saya tidak pernah mengerti alasan mengapa Tamani sangat mencintai Laurel hingga rela menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk melindungi dan menunggu Laurel kembali ke Avalon. Kenapa Laurel pantas menerima pengorbanan dari seseorang seperti Tamani sampai begitu lama? Terdengar seperti tipikal kisah cinta Twilight yang tidak berakal sehat.


Selain karakter, dunia yang dibangun oleh Aprilynne Pike juga tidak mengesankan saya selain kenyataan bahwa para peri dibagi menjadi empat; Peri Musim Dingin, Peri Musim Gugur, dan Peri Musim Panas, dan Peri Musim Semi. Jadi, katakan saja bahwa ide Aprilynne Pike mengenai kehidupan peri sebenarnya sudah menarik, tapi untuk mengembangkannya sama sekali kurang. Ketika saya membaca Spells sedikit sekali yang bisa dibayangkan dari kehidupan Avalon, dan ketika saya sampai pada menutup halaman terakhir buku ini, rasanya banyak yang terlupakan.


Last statement, Spells bukannya tidak worth it untuk dibaca karena bagi penyuka paranormal creatures seperti peri mungkin tidak akan kesulitan membacanya, namun bagi pembaca yang sedikit kritis dan logis, buku ini bisa sangat menganggu. Saya merekomendasikan buku ini apabila pembaca ingin merasakan sesuatu yang menarik namun tidak menyita terlalu banyak fantasi dan khayalan.

Best Wishes,
@fennyusuf





My Rating :

3 stars - This book was OK, read it if sounds good to you

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.