Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Friday, September 27, 2013

[Book Review] Thirteen Reasons Why

Thirteen Reasons Why by Jay Asher
4.06/5 (175,283 rating)

Publisher: Razorbill
Release Date: January 1st 2007
Format: Hardcover, 304 pages
Genre: Realistic Fiction

Clay Jensen returns home from school to find a mysterious box with his name on it lying on his porch. Inside he discovers thirteen cassette tapes recorded by Hannah Baker, his classmate and crush who committed suicide two weeks earlier.

On tape, Hannah explains that there are thirteen reasons why she decided to end her life. Clay is one of them. If he listens, he'll find out how he made the list.

Through Hannah and Clay's dual narratives, debut author Jay Asher weaves an intricate and heartrending story of confusion and desperation that will deeply affect teen readers.


Tertarik sama buku ini setelah melihat buku ini menempati posisi teratas dalam daftar buku "The Best Realistic Fiction", bareng sama The Perks of Being A Wallflower. Dan nyatanya ceritanya memang sedikit realistis sih, setipe dengan The Perks, tentang seorang remaja yang memiliki masalah, dan dia berusaha untuk get over it. Tapi kalau The Perks itu punya happy ending, buku ini tidak.

Awalnya ceritanya sih oke, narasi yang diungkapkan Hannah lewat tape recordernya menimbulkan rasa penasaran sehingga menjadi page turner buku ini. Tapi semakin kebelakang, ketika misteri tentang penyebab Hannah bunuh diri mulai terungkap, saya harus mengakui bahwa saya sedikit kecewa karena kenyataannya tidak sesuai dengan harapan saya. Menurut saya masalah yang dialami Hannah Baker di sekolahnya, yang sampai menyebabkan dia bunuh diri dan merekam alasan-alasannya dalam sebuah kaset itu sepele banget. Masalah-masalah yang dialami Hannah, dari mulai pelecehan sampai kenakalan remaja lainnya menurut saya masih bisa disikapi dengan normal. I find it difficult to keep up with Hannah's struggle. And she definitely doesn't get my sympathy.

Penjabaran cerita oleh Jay Asher menekankan dengan baik unsur psikologis yaitu rasa tertekan dari Hannah atas situasi yang mengusik zona nyamannya, yang mengakibatkan Hannah mengambil tindakan bunuh diri dan membalas dendam kepada orang-orang yang menyebabkan dia bunuh diri dengan merekam suaranya dengan tape recorder sebelum meninggal. Kedengarannya sungguh menarik, kan? Tapi saya tidak mengerti alasan Hannah melakukan hal itu, apakah untuk menghantui mereka yang menyebabkannya mengambil keputusan bunuh diri dengan rasa bersalah? Kalau begitu, lagi-lagi saya harus kecewa karena menurut saya menghukum seseorang dengan rasa bersalah tidak akan membuatmu lebih baik. Tindakan yang sangat kekanak-kanakan dan egois sekali. So, Hannah Baker, dewasalah! Sekali lagi, saya tidak bisa bersimpati dengan Hannah atas apa yang telah dia alami. I think the only problem of Hannah is she have a psychological disorder and she doesn't know that.

Overall, saya tahu bahwa Jay Asher ingin memberikan perspektif melalui Hannah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, meskipun sepele, dapat berakibat besar bagi orang lain. Hikmah yang baik sekali, sekalipun masih banyak kekurangan, terutama karakter-karakter yang dibangun penulis. Mengingat buku ini menceritakan problem seorang remaja, cerita ini kehilangan unsur yang cukup krusial dalam kehidupan seorang remaja, yaitu keberadaan orang tua. Ketika kita terhanyut menyelami kehidupan Hannah sebelum bunuh diri, sedikit sekali peran kedua orang tuanya disinggung, atau bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Bahkan di akhir hidupnya, Hannah memberikan kesempatan pada orang lain untuk menyelamatkan dirinya dari perasaan tertekan. Apakah kedua orang tua Hannah begitu menelantarkan anaknya atau sedikit sekali mengambil bagian dalam kehidupan anak perempuannya itu sehingga Hannah bunuh diri? Sayangnya, tidak ada penjelasan memuaskan tentang hal itu.

Setahu saya, buku ini sering menjadi literatur bacaan untuk sekolah-sekolah remaja di luar negeri. Tidak mengherankan sih, karena banyak hal-hal yang bisa dianalisis dan digali dari cerita bergenre realistic fiction ini, khususnya untuk para remaja. Terlepas dari ketidaksukaan saya terhadap karakter utamanya, buku ini tetap merupakan sesuatu yang menarik untuk dibaca, terutama yang suka pada psikologi. Selain itu, bagi yang suka sesuatu yang penuh misteri, buku ini menjadi salah satu pilihan karena kita dibawa penasaran oleh cerita dibalik kasus bunuh diri Hannah Baker. Pembaca akan dibawa dari satu nama ke dua belas nama lainnya dalam kehidupan Hannah yang menyebabkannya mengambil keputusan bunuh diri, mengungkap segala peristiwa tersembunyi dalam kehidupan Hannah dan ketiga belas orang lainnya. Moreover, untuk saya pribadi sepertinya bagus kalau buku ini dijadikan film atau mendengarkannya dalam bentuk audio book, supaya bisa mendengar langsung suara Hannah dalam tape recorder, sehingga dapat lebih terasa suasana mencekam dan misteriusnya.  :)

(-----Thirteen Reasons Why, Page 1, by Jay Asher)
“Sir?” she repeats. “How soon do you want it to get there?” I rub two fingers, hard, over my left eyebrow. The throbbing has become intense. “It doesn’t matter,” I say.

The clerk takes the package. The same shoebox that sat on my porch less than twenty-four hours ago; rewrapped in a brown paper bag, sealed with clear packing tape, exactly as I had received it. But now addressed with a new name. The next name on Hannah Baker’s list.


3 stars - This book was OK, read it if sounds good to you 




No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.