Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Saturday, November 30, 2013

[Book Review] Fifty Million Reasons

Fifty Million Reasons by Heather Wardell

Publisher: Holly Leaf Press
Release Date: Expected at December 14th 2013
Format: Paperback, 309 pages
Genre: Realistic Fiction, Inspirational


Angela has typical lottery-player plans: help friends and family, give more to charity, and escape her rut. But when she wins big, she faces angry relatives, her own unexpected greed, and a lawsuit from the person who put her in that rut. Almost nobody treats her normally, and they've got fifty million reasons not to.

She can buy anything she wants now, but can she buy the life she needs?


Angela has a typical lottery-player plans: help friends and family, give more to charity, and escape her rut. But when she wins big, she faces angry relatives, her own unexpected greed, and a lawsuit from a person who put her in that rut. Almost nobody treats her normally, and they’ve got fifty million reasons not to. She can buy anything she wants now, but can she buy the life she needs?

I almost cried when I read this book. Heather made a very realistic condition of a someone’s life who doesn’t know yet the true value of life. When Angela is getting rich, everyone who know her are torn between someone who truly accept her the way she is, and someone who just wants her money.

It’s difficult for Angela to face people who keep begging her money, besides she also feels guilty because she wants to help her friends in financial without any disrespectful.

I love the characters. Angela is really awesome and mature, even though she did some mistakes. I feel angry at some point other characters be so mean and hypocrite around her, but I guess it just make this story even more interesting.

I also love the connection between Angela, John, and Zack. And Tiff. It’s WONDERFUL. Overall, this book is all about the wonderfulness of life. How to value something you already have, forgiving, receiving, keeping promise and be resolute, and be kind of other people too. This book means so much.

After I finished reading this book; I felt awesome, and peace. The ending is so nice and I can’t think other alternate beautiful story for Angela’s life. I feel grateful I have found and read this book because this book teaches me some important message for life.


“My understanding of karma had always included the idea that you got back what you deserve based on your actions. But Lena’s unkind action weren’t receiving any unkind respond. Unless I changed my mind I’d be letting her get away with it, and certainly nobody else would be punishing her either.
I didn’t like it, but it also wasn’t my problem. Lena’s choice made her who she was, just as mine both now and in the past had made me who I was, and we would both end up living the consequences of our individual choices.


3.5 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



Thursday, November 28, 2013

[Book Review] The Thirteenth Tale

The Thirteenth Tale by Diane Setterfield
3.91/5 (142,048 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Chandra Novwidya Murtiana
Release Date: November 2008 by Gramedia Pustaka Utama (first published January 1st 2006)
Format: Paperback, 608 pages
Genre: Mystery


"Ceritakan padaku yang sesungguhnya."

Permintaan sederhana itu mengusik hati Vida Winter, novelis ternama yang penuh rahasia. Bukankah selama enam puluh tahun ini dia telah mengarang banyak dongeng, tapi tak pernah mengungkapkan kisahnya sendiri? Namun, menjelang ajal, masa lalu tak dapat dihindarinya lagi, berapa pun banyaknya dongeng yang telah ditenunnya.

Maka Vida Winter mengundang Margaret Lea, penulis biografi muda, yang memiliki rahasia sendiri tentang kelahirannya, yang telah dikubur dalam-dalam oleh orang-orang yang paling dia kasihi, dan menciptakan bayang-bayang kelam yang membuntuti tiap langkahnya.

Inilah kisah Vida dan keluarga Angelfield: Isabelle yang cantik dan keras kepala, si kembar Adeline dan Emmeline yang liar, rumah besar Angelfield yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya, hidup atau mati. Sementara Margaret tenggelam dalam dongeng Vida, rahasia kelam itu lambat laun tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, kedua wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka.


Meskipun ditulis pada abad ke 21, The Thirteenth Tale seperti sebuah kisah klasik yang mencekam dan penuh misteri. Pengisahannya luar biasa, pembaca akan dibawa ke sebuah kisah atau dongeng dimana terdapat misteri anak kembar dan rumah yang berhantu.

Saya suka sama ceritanya yang mencekam, meskipun terlalu dark dan horror dan sempat membuat saya ngeri. Namun sebenarnya kisahnya sendiri adalah tentang balas dendam dan kasih sayang antara dua anak kembar.

Dongeng ketiga belas ini berasal dari sebuah buku yang diterbitkan Miss Vida Winter, yang diberi judul buku Dongeng Ketiga Belas, namun pada saat pencetakan pertamanya, buku tersebut hanya memuat dua belas cerita. Buku itu pun ditarik dan diubah judulnya, sehingga Dongeng Ketiga Belas masih tetap menjadi misteri.

Dalam buku ini, Miss Vida Winter akan menceritakan dongeng ketiga belas yang merupakan kisah masa kecilnya pada masa lalu di rumah Angelfield. Sepanjang ceritanya saya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumah Angelfield ini.

Sayangnya, kehadiran Margaret Lea, si pendengar dalam cerita ini, menurut saya kurang maksimal. Margaret juga merupakan anak kembar, namun saudaranya meninggal ketika melakukan operasi. Di sini saya kurang merasakan feeling cerita dan kehilangan yang dialami Margaret, dan penulis pun tidak mengungkap banyak cerita tentang Margaret.

Saya suka pada sosok ayah Margaret yang merupakan kolektor dan penjual buku langka, ditambah lagi beliau sangat ramah untuk ukuran sebuah buku yang banyak dinuansai oleh kegelapan ini. Sayangnya, lagi-lagi, tidak banyak porsi yang diberikan untuk cerita Margaret sehingga ayah dan ibu Margaret jarang hadir dalam cerita.

Overall, buku yang sangat menarik untuk tema misteri dan horror, apalagi ditambah tentang kehadiran anak kembar.

“Waktu itu bulan November. Walaupun belum malam, langit sudah gelap ketika aku memasuki Laundress Passage. Ayah sudah selesai hari itu, lampu dimatikan dan jendela tertutup; tapi supaya aku tidak pulang dalam kegelapan Ayah membiarkan lampu di tangga menuju flat tetap menyala.”


3.5 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] Wuthering Heights

Wuthering Heights by Emily Bronte

Publisher: Qanita
Format: Paperback, 584 pages
Genre: Classic


Heathcliff tergila-gila pada Catherine Earnshaw semenjak mereka baru saling mengenal. Hanya Catherine yang dapat membuat pria dingin itu menangis dan tertawa. Namun, Catherine ternyata lebih memilih Edgar Linton, bangsawan kaya yang menjadi saingan Heathcliff selama bertahun-tahun. Semuanya karena kelas sosial Heathcliff yang rendah, yang membuatnya tak pantas bersanding dengan Catherine. Heathcliff bersumpah tidak akan mati sebelum mengobrak-abrik hidup keduanya dan merenggut harta kekayaan mereka; mansion Wuthering Heights termasuk di antaranya.

Dendam membuat Heathcliff menjadi pria tamak, serakah, dan tak berperasaan. Ia bahkan lebih mengerikan dari ular, lebih berbahaya dari binatang liar. Dan, itu semua karena satu hal: cinta. Namun dapatkah cintanya mengalahkan kegelapannya? Terlebih ketika Catherine tak mungkin bisa dimilikinya lagi.


Sebuah kisah klasik yang kelam dan penuh kekerasan.

“1801—Aku baru saja kembali dari rumah seorang tuan tanah. Ia adalah tetanggaku yang tinggal menyendiri, yang nantinya akan mendatangkan banyak kesulitan untukku.”

Saya kurang suka sama terjemahannya, entah karena memang bahasa aslinya sulit dimengerti, atau cetakan edisi ini kurang baik. Saya sering bingung ketika membaca dialog-dialognya karena tidak jelas antara siapa ‘dia’ yang sedang dibicarakan.

Overall ceritanya penuh kegilaan, meskipun di awal-awal cerita, belum kerasa feelingnya. Cinta Heathcliff baru membara setelah Catherine meninggal, sehingga saya nggak yakin Heathcliff tergila-gila pada Catherine sejak pertama kali mereka bertemu. Saya terkadang bingung sama sifat tokoh-tokoh dalam buku ini, yang mencintai seseorang dengan membenci dan balas dendam.

Cerita yang detail hanya berkisar pada adegan-adegan di Wuthering Heights dan Thrushcross Grange. Ada beberapa detail yang terlewat dan membuat saya kecewa; seperti misalnya alasan kenapa Isabella tiba-tiba berbalik membenci Heathcliff.
Pada tiga perempat halaman pertama, ceritanya cukup menarik untuk diikuti namun tidak menimbulkan kesan yang kuat.

Setelah seperempat halaman terakhir, saya baru mulai nyaman dengan terjemahan dan karakter khas para tokohnya.
Sebuah cerita yang menarik, namun sayangnya tidak bisa merebut hati saya.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] The Summoning

The Summoning (Darkest Power #1) by Kelley Amstrong
4.04/5 (79,973 rating)

Publisher: Ufuk
Release Date: February 2011 by Ufuk Press (first published July 1st 2008)
Format: Paperback, 460 pages
Genre: Horror, Supernatural Fantasy

Chloe Saunders biasa hidup normal. Tapi hidupnya berubah pada hari dia bertemu dengan hantu pertamanya. Terkunci di Rumah Lyle—sebuah rumah kelompok untuk anak-anak bermasalah—dia menemukan bahwa rumah itu lebih daripada sekadar rumah tinggal remaja sebagaimana kelihatannya. Akankah Chloe bisa menyingkap rahasia-rahasia Rumah Lyle yang berbahaya... atau apakah makhluk-makhluk aneh datang kembali untuk menghantuinya?


“Mom lupa memperingatkan pengasuh yang baru tentang ruang bawah tanah.” (halaman 1)

Sebuah novel paranormal fantasi yang penuh misteri dan intrik.


Saya suka sama keseluruhan ceritanya. Tentang Chloe yang seperti ‘mediator’ (atau necromancer), bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Saya juga suka gambaran hantu dalam buku ini, membuat saya agak-agak merinding takut membacanya. Saya suka bagian memecahkan misteri hantunya.

Sayangnya, ceritanya jadi mulai agak basi ketika muncul sosok-sosok supernatural lainnya. Cerita tentang necromancer itu oke, tapi kalau ditambah dengan penyihir, werewolf, dan lain-lain, kesannya malah jadi ajang pamer bakat istimewa. Jadi setelah muncul werewolf, selanjutnya apa? Vampir? Siren? Succubus? Caster? Terus aja semua makhluk supernatural dikeluarin.

Padahal, daripada menciptakan beragam tokoh supernatural, lebih baik penulis fokus pada menyusun misteri dan detail-detail yang lebih membuat pembaca terkesan. Misalnya saja; penulis harusnya bisa lebih banyak mengarang tentang petunjuk-petunjuk yang dapat mengungkap masa lalu Rumah Lyle. Sesuai nama serialnya; The Darkest Power, seharusnya cerita ini bisa lebih dark lagi.

Satu lagi yang saya amat kecewa adalah penggambaran Rumah Lyle. Saya mengharapkan bangunan yang luas mirip akademi atau kastil, anaknya ada lebih dari lima puluh orang dan ada aturan atau sistem yang lebih rumit. Tapi ternyata; dalam gambaran benak saya, Rumah Lyle adalah sebuah bangunan rumah petak kecil yang penghuninya tidak lebih dari sepuluh orang; gak rame, gak seru.

Saya merasa gak ada feeling sama sekali sama Rumah Lyle. Saya nggak terkesan sama karakter-karakternya, meskipun Simon sebenarnya cukup imut juga.

Saya juga merasa ceritanya agak dipaksakan endingnya, seakan-akan pada awalnya Kelley merencanakan ending yang berbeda dari ending yang sekarang.

I didn’t say I don’t like this book; I’m just disappointed.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] The Forest of Hands and Teeth

The Forest of Hands and Teeth (The Forest of Hands and Teeth #1) by Carrie Ryan
3.61/5 (47,812 rating)

Publisher: Kubika
Translator: T. Dewi Wulansari
Release Date: August 17th 2010 by Penerbit Kubika (first published March 10th 2009)
Format: Paperback, 392 pages
Genre: Horror, Fantasy



Dalam dunia Mary, terdapat beberapa kebenaran yang sederhana.
Para Biarawati selalu tahu apa yang terbaik.
Para Pengawas akan melindungi dan melayani.
Para Ternoda tidak akan berbelas kasihan.
Dan kau juga harus selalu memperhatikan pagar-pagar yang melindungi desa dari Belantara Tangan dan Gigi.


Perlahan, kebenaran mulai terkuak. Mary menge tahui hal-hal yang tak ingin dia ketahui: tentang Biarawati dengan rahasia mereka, tentang Pengawas dan kekuasaan mereka.

Dan, ketika pagar diterobos sehingga dunianya men jadi kacau, dia harus memilih antara desa dan masa depannya, antara pemuda yang dia cintai dan pemuda yang mencintainya.

Dia juga harus menghadapi kebe naran tentang Belan tara Tangan dan Gigi. Mungkinkah ada kehidupan lain di luar dunia yang dikelilingi begitu banyak kematian?


Aaakkk ceritanya ga jelas banget. Saya geregetan sama buku ini, terutama karena karakternya yang menyebalkan. Carrie Ryan terlalu berlebihan mengungkapkan kegalauan hati Mary, sehingga membuat saya jengkel. Saya nggak tau maunya Mary tuh apa, soalnya dia suka gonta-ganti pendirian. Beberapa poin yang bikin saya jengah sama Mary:

1. Dia merasa bersalah sama Travis karena udah mengkhianatinya dengan menikahi kakaknya, padahal yang duluan nyebelin itu Travis, yang lebih memilih menikahi sahabatnya Mary dan meninggalkan Mary. Nyebelin banget kan? Martir banget sih ini Mary.

2. Dia mau aja dipecundangi sama kakaknya setelah tau istri kakaknya sekarat karena digigit Ternoda, padahal kakaknya itu udah berlaku nggak adil duluan sama dia karena membuang dan menelantarkan Mary ketika ibu mereka meninggal. Kakak macam apa itu? Padahal jelas-jelas bukan salah Mary ibunya bisa meninggal.

3. Kadang pernyataan Mary itu suka berubah-ubah. Suatu saat dia yakin ada kehidupan yang aman di luar dunia yang ditinggalinya sekarang; lalu beberapa halaman selanjutnya dia nggak yakin dan mengingkari kalau dunia luar itu nggak ada. *wtf?!

4. Mary ini selain martir parah, dia juga galau parah. Dia nggak ngerti hidupnya mau dikemanain. Dia gak yakin dia mau melawan para biarawati, dia gak yakin mau melarikan diri ke Belantara, tapi ngeluh terus kerjaannya. Terlalu banyak pergolakan batin yang nggak perlu di The Forest of Hands and Teeth ini.

Saya juga nggak ngerti sama ceritanya. Kenapa Travis bisa suka sama Mary, dan sejak kapan dia punya perasaan sama Mary. Kenapa dia lebih milih menikah sama Cass daripada sama Mary, semua itu pertanyaan yang gak bisa dijawab secara memuaskan dalam buku ini.

Detailnya juga kurang banget. Saya bingung apa artinya Kembali, kenapa ada Ternoda; dari mana asal muasal mereka. Saya pusing baca buku ini.


2.5 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] Perfect Chemistry

Perfect Chemistry (Perfect Chemistry #1) by Simone Elkeles
4.14/5 (97,449 rating)

Publisher: Laluna and Friends
Release Date: July 2013 by Laluna and Friends (first published December 23rd 2008)
Format: Paperback, 449 pages
Genre: Romance, Realistic Fiction, Teen / High School


Brittany Ellis memiliki kehidupan "sempurna", cantik, pintar, kaya, dan pacar yang populer. Alex Fuentes adalah gangster berdarah Meksiko, terkenal sebagai cowok "bermasalah". Setidaknya itu yang tampak dari luar.

Saat keduanya dipaksa menjadi partner lab di kelas Kimia, Brittany merasa inilah akhir dari kehidupan “sempurna”nya. Sementara Alex menggunakan kesempatantersebut untuk memenangkan taruhan - menjerat Brittany ke pelukannya.

Namun, saat kimia cinta mulai bereaksi, apa pun mungkin terjadi.... Dan rahasia di balik kehidupan mereka memberikan makna dan kekuatan cinta yang tak terbendung....


“Semua orang tahu aku sempurna. Hidupku sempurna. Pakaianku sempurna. Bahkan keluargaku pun sempurna. Meski itu semua kebohongan luar biasa, aku bekerja keras untuk mempertahankannya.”

SUKA sama kisah cinta Brittany & Alex. SUKA sama adegan yang ditulis Simone Elkeles. SUKA sama kehidupan Alex Fuentes yang menjadikan kisah cinta ini lain daripada kisah cinta yang lainnya.

Karakter-karakternya loveable, meskipun saya agak jengkel sama Brittany yang ternyata mudah terbujuk rayuan Alex. Simone Elkeles jelas punya sesuatu yang bisa membedakan Perfect Chemistry dari kisah cinta yang lain; selain kehidupan Alex Fuentes, Simone menambahkan adegan-adegan action thriller pada buku ini.

Penceritaannya oke, terjemahannya pun oke. Saya menikmati banget baca Perfect Chemistry ini. Buat yang suka novel realistic-fiction teen romance terjemahan, buku ini bisa menjadi pilihan.


3.5 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] Plain Truth

Plain Truth by Jodi Picoult
3.94/5 (91,418 rating)

Publisher: Gramedia
Release Date: 2007 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2000)
Format: Paperback, 528 pages
Genre: Mystery



Penemuan mayat bayi di gudang milik petani Amish mengguncang kota kecil di Paradise, Pennsylvania. Satu-satunya tersangka berdasarkan bukti yang ditemukan polisi adalah gadis Amish berusia delapan belas tahun bernama Katie Fisher. Katie diyakini sebagai ibu bayi tersebut dan dengan sengaja membunuh bayi yang dilahirkannya untuk menutup aib karena telah melahirkan di luar nikah.

Ellie Hathaway, pengacara sukses dari kota besar, memutuskan untuk membela Katie. Sesuai perjanjian jaminan prasidang, Ellie harus tinggal di tanah pertanian keluarga Fisher sebagai pengawas Katie. Untuk pertama kali dalam kariernya, Ellie menghadapi klien dan sistem pengadilan yang berbeda. Katie yang memandang dunia dari kesederhanaan kaum Amish bertabrakan dengan sistem hukum yang penuh intrik dan muslihat. Dan hanya Ellie yang bisa menolong Katie agar bisa lepas dari jerat hukuman..


Ini adalah buku pertama yang saya baca dari Jodi Picoult. Nggak bisa dibilang saya nggak suka bukunya sih, tapi agak lebih ke… nggak cocok sama ceritanya. Atau nggak cocok sama tulisannya.

Pertama, saya agak jengah membacanya karena alurnya lambat sekali. Well, banyak banget adegan-adegan yang memperpanjang ceritanya, namun sebenernya kalau mau dipikir lagi, intinya bisa diringkas dalam beberapa kata. Emang itu ya, tugas penulis, mengembangkan ide menjadi tulisan-tulisan adegan yang saling berkaitan? Tapi saya tetap pada pendapat saya bahwa terlalu lambat, terlalu banyak detail yang harusnya bisa di skip.

Kedua, saya nggak suka sama karakternya, atau penggambaran psikologis si karakter. Yang saya bicarakan adalah karakter Katie Fisher, yang dituduh membunuh sang bayi. Saya terjebak anatara kagum karena penggambaran psikologis Katie begitu dalam, dengan muak karena psikologis Katie yang nggak jelas.

Kalau kamu baca buku ini, kamu bakal dibuat kesel sama pernyataan Katie. Awalnya dia bilang A, lalu dia bilang B, lalu kemudian dia bilang C, padahal antara A, B, dan C, kondisinya bertentangan. Betapa menyebalkannya orang yang kayak gitu? Gak jelas banget.

Sebagai tambahan, nggak ada penjelasan khusus mengenai karakter Katie yang suka memberikan pernyataan yang bertentangan. Semuanya hanya asumsi si pengacara,Ellie Hathaway. Lagi-lagi saya harus ngomel karena buku ini kebanyakan muter-muter di asumsi Ellie.

Seperti kebanyakan buku Jodi Picoult yang lain, buku ini sudah difilmkan, dan saya jadi tertarik menonton filmnya. Adakah yang sudah menonton filmnya?

Meskipun saya kecewa sama buku ini, hal itu tidak menghentikan saya untuk membaca karya beliau yang lainnya karena Jodi Picoult merupakan salah satu penulis yang karyanya banyak dinilai tinggi.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



Sunday, November 24, 2013

[Book Review] The Five People You Meet in Heaven

The Five Peope You Meet in Heaven by Mitch Albom
3.83/5 (282,654 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Andang H. Sutopo
Release Date: June 2011 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 23rd 2003)
Format: Paperback, 208 pages
Genre: Inspirational



Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Saat menghembuskan napas terakhir, terasa olehnya sepasang tangan kecil menggenggam tangganya. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukanlah Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.


Sebelumnya belum pernah membaca buku karya Mitch Albom, dan sedikit nggak tertarik sama buku-bukunya. Saya baru tahu belakangan kalau karyanya banyak disukai dan penulis ini memiliki penggemar baca tersendiri.

Membaca Five People You Meet in Heaven langsung membuat Mitch Albom berada dalam daftar penulis favorit saya. Menurut saya tipe cerita yang ditulis Mitch Albom hampir mirip seperti Nicholas Sparks dan Cecelia Ahern; cerita sehari-hari yang menawarkan suatu hikmah kehidupan bagi si tokoh dan para pembacanya.

Khusus soal Five People You Meet in Heaven ini, ceritanya agak mirip sama Rembulan Tenggelam di Wajahmu-nya Tere Liye. Intinya, sebuah perjalanan mengulang masa lalu yang menghubungkan sebab-akibat atas hal-hal yang dilakukan tokoh utamanya. Di sini, pembaca akan dibawa ke rahasia kehidupan Eddie.

Konsep boleh oke, penulisannya pun juga oke. Saya suka bagaimana Mitch menggambarkan hal-hal sederhana yang detail tentang Eddie, di detik-detik terakhir kehidupannya. Yang jelas, saya jatuh cinta pada halaman-halaman pertama buku ini, dimana saya juga harap-harap cemas terhadap apa yang akan menyebabkan kematian Eddie.

Overall saya sukaaa banget sama ceritanya, dan saya rokemendasikan bagi yang suka cerita fiksi yang menginspirasi.


3.5 stars - I enjoyed this book, and I would recommend it



[Book Review] The Sword in The Stone

The Sword in The Stone (The Once and Future King #1) by T.H. White
3.93/5 (8,865 rating)

Publisher: Media Klasik Fantasi
Translator: Rahmawati Rusli
Release Date: April 2011 by Media Klasik Fantasi (first published 1938)
Format: Paperback, 284 pages
Genre: Children, Arthurian, Fantasy



Archimedes, Wart, juga makhluk yang berbicara dan manusia yang bisa terbang. Kisah mengenai ilmu sihir dan pertempuran.

Ini adalah buku petualangan yang lucu sekaligus menyentuh. Para pembaca tidak hanya diajak menyusuri kehidupan Arthur sebelum dia diangkat menjadi raja, tetapi juga mendalami hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Kita bisa melihat proses yang dilalui Arthur untuk menjadi seorang pemimpin yang bijak, murah hati, namun juga bertekad baja.

Ditulis dengan sangat indah. Kisah klasik abadi ini akan membawa Anda lebih dekat dengan Legenda Raja Arthur dari sisi yang lebih membumi.


“Hari Senin, Rabu, dan Jumat adalah jadwal pelajaran Menulis Indah dan Ringkasan Logika, sementara di hari lainnya adalah Organon, Ulangan, serta Astrologi. Si guru perempuan selalu kesal dengan astrolabnya, dan kalau sedang kesal, dia akan melampiaskannya dengan memukul buku jari Wart.”

Pastinya tertarik sama buku ini karena membaca endorsement yang diberikan J.K. Rowling di cover buku ini. Penasaran, gimana sih cerita nenek moyang spiritual Harry Potter?

Buku ini terdiri dari dua puluh empat bab cerita pendek yang menjadi satu kesatuan. Ceritanya berkisar tentang dua bersaudara Wart dan Kay yang belajar dengan seorang penyihir bernama Merlyn.

Saya sukaa banget buku ini. Kisahnya simpel dan bisa dibaca mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Setiap cerita babnya menawarkan sebuah kisah menarik yang seru dan penuh hikmah. Misalnya ketika Wart bertemu dengan Robin Hood, menjelma menjadi burung, atau bab akhir ketika Wart mencabut pedang dan diangkat menjadi Raja Inggris.

The Sword in The Stone merupakan sebuah kisah fantasi klasik tentang Merlyn dan Raja Arthur yang cocok untuk dinikmati pembaca berbagai usia. Tidak heran kalau kisah Harry Potter lahir dari buku ini.


3.5 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] Brisingr

Brisingr (The Inheritance Cycle #3) by Christopher Paolini
3.98/5 (122,331 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Poppy D. Chusfani

Release Date: February 2009 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published January 1st 2004)
Format: Paperback, 864 pages
Genre: Epic Fantasy


Eragon dan naganya, Saphira, berhasil bertahan hidup setelah pertempuran kolosal melawan para prajurit Kekaisaran di Dataran Membara. Namun masih banyak yang harus dihadapi sang Penunggang dan naganya ini.

Eragon harus menyelamatkan Katrina, kekasih Roran, dari cengkeraman Raja Galbatorix, sesuai janjinya pada abangnya itu. Tetapi kaum Varden, elf, dan kurcaci pun membutuhkan sang Penunggang.

Ketika keresahan melanda para pemberontak dan bahaya mengincar dari segala arah, Eragon harus menentukan pilihan----pilihan yang akan membawanya ke seluruh penjuru Kekaisaran, bahkan lebih. Pilihan yang bisa saja memaksanya melakukan pengorbanan tak terbayangkan.


Awalnya gak tertarik baca serial Eragon karena tebalnya luar biasa. Tapi karena ada buku ketiganya dengan harga jauh lebih murah daripada harga aslinya di salah satu toko online, saya akhirnya memutuskan untuk membelinya.

And I should tell you that I’m glad I gave this book a chance! Ceritanya nggak mengecewakan saya. Meskipun saya langsung loncat baca buku ketiganya, dengan adanya ringkasan di awal buku ketiga ini tentang kisah di kedua buku sebelumnya, saya jadi bisa masuk ke dalam ceritanya.

Brisingr benar-benar membuat saya nggak bisa berhenti membalik halamannya. Ceritanya seru banget, bahasanya mudah dimengerti, dan karakter tokoh-tokohnya kuat banget. Terutama saya suka sama Saphira, yang ternyata lucu dan sarkastik; sedikit mengingatkan saya pada Bartimaeus.

Saya dapat dengan mudah memvisualisasikan apa yang saya baca. Petualangan-petualangannya seru dan epic. Benar-benar bagus deh ceritanya, saya nggak merasa buku setebal lebih dari 800 halaman ini membosankan. Recommended bagi yang suka cerita fantasi, naga, sihir, dan petualangan.


4 stars - I enjoyed this book, and I would recommend it



[Book Review] Incarceron

Incarceron (Incarceron #1) by Catherine Fisher
3.64/5 (32,135 rating)

Publisher: Matahati
Translator: Mery Riansyah & Febry E.S.
Release Date: August 9th 2011 by Penerbit Matahati (first published May 3rd 2007)
Format: Paperback, 492 pages
Genre: Science Fiction, Fantasy


"Yang satu di dalam, yang lain di luar.
Tapi keduanya sama-sama terpenjara."


Incarceron adalah penjara yang begitu luas sehingga tidak hanya berisi sel, tetapi juga kota, hutan logam, rimba raya, dan lautan. Penjara itu terkunci dari dunia luar selama berabad-abad, dan hanya satu orang, menurut legenda, yang pernah lolos darinya.

Finn, tahanan berusia tujuh belas tahun, tidak ingat masa kecilnya dan yakin berasal dari luar Incarceron. Finn menemukan sebuah kunci kristal yang membuatnya dapat berkomunikasi dengan seorang gadis bernama Claudia, putri Sipir Incarceron. Claudia hidup di dunia luar dan telah dijodohkan dengan seorang pria yang dibencinya.

Finn bertekad keluar dari penjara, dan Claudia yakin dapat membantunya. Namun, mereka tidak menyadari bahwa Incarceron menyimpan begitu banyak misteri. Upaya untuk keluar begitu mustahil dan hanya nyawa taruhannya.


Menulis awal dari sebuah buku mungkin menjadi salah satu kesulitan tersendiri. Namun beberapa penulis sukses membuat awal babnya menjadi enak dibaca dan mudah dimengerti. Sayangnya, saya tidak menemukan hal serupa di buku ini. Di awal bab, saya merasa sedikit miss dengan ceritanya, seakan akan saya membaca buku ini dari tengah cerita, bukan dari awal. Beberapa bagian yang tidak saya mengerti di awal (dan sampai sekarang masih belum mengerti benar) adalah apa itu kaum Civicry, Scum, Comitatus, Sapient, dan non-Era.

But I like the setting of this book! Terbagi dalam dua dunia, dunia kelam Incarceron; penjara yang penuh kekerasan dan aksi, dan "dunia atas" bergaya victorian yang ditinggali Claudia. Meskipun detail settingnya kurang ngena, saya suka sama perbedaan suasananya. Dunia yang satu keras dan penuh besi, yang satunya lagi tenang dan vintage. Namun, keduanya sama sama mencekam karena dilingkupi pengkhianatan dan pembalasan dendam.

Karakternya tidak ada yang menonjol dan tidak ada yang saya sukai, yang membuat saya setengah ogah melanjutkan sekuel ini, tapi saya suka sama konsep pangeran-yang-hilang dan dunia-yang-diperkecil. Spoiler sedikit; ternyata penjara Incarceron itu tidak terletak di bawah tanah ataupun di dimensi lain, tapi di sebuah tempat yang diperkecil ukurannya satu juta nanometer. Meskipun tempat pastinya belum diketahui, asumsi saya adalah Incarceron terletak dalam sebuah kubus kecil yang selalu dibawa di jam tangan sang Sipir, ayah Claudia. Keren banget, bagaimana sebuah dunia yang luas, hidup, dan bergerak bisa amat-sangat-diperkecil.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



Friday, November 22, 2013

[Book Review] Monster High

Monster High (Monster High #1) by Lisi Harrison
3.73/5 (4,230 rating)

Publisher: Mizan
Translator: Maria Renata Wilson Perdana
Release Date: 2011 by Mizan Fantasi (first published October 4th 2005)
Format: Paperback, 303 pages
Genre: Supernatural


Seperti cewek-cewek ABG lainnya, Frankie dia sudah nggak sabar buat sekolah SMA, pacaran, ikut tim cheerleader, dan ke pesta dansa. Tapi masalahnya, kulit Frankie hijau dan kalau gembira Frankie melepaskan kilatan-kilatan listrik dari tubuhnya.

Meski pun menurut kedua orangtuanya Frankie adalah anak yang cantik dan sempurna, tetap saja, Frankie akan kesulitan mendekati cowok yang ditaksirnya kalau dia tak mengubah penampilannya. Cowok mana sih yang mau sama monster? Frankie Stein harus mengubah penampilannya kalau mau gabung dengan teman-teman sekolahnya.

Tapi ternyata, tak semua teman sekolahnya orang normal seperti perkiraan Frankie. Jadi, mana yang normal dan mana yang monster? Ikuti serunya monster-monster sekolah di Merston High School, dengan segala kelucuan, keusilan dan romansanya di serial Monster Gaul ini. Biar monster yang penting gaya!


“Monster High itu asyik, keren, dan bergaya” –Wondrousreads.com

Saya harus setuju dengan pernyataan di atas. Cerita ini terbilang asyik untuk ukuran sebuah novel paranormal comedy. Karakter-karakternya banyak namun unik, dan menggambarkan kehidupan remaja monster dengan keren banget. Banyak istilah-istilah fashion yang digunakan Frankie, membuat saya ketawa-ketawa sendiri, zombie ini gaya banget.

Cerita ini ada dua sudut pandang, yaitu sudut pandangn Frankie si monster dengan Melody si manusia. Saya pikir kedua karakter ini akan bersatu di awal, namun mereka bersinggungan langsung baru pada akhir bab.

Karakter yang paling saya suka adalah Jackson a.k.a DJ (pacar Melody & Frankie) dan Candace (kakak Melody), sedangkan yang paling annoying menurut saya adalah Bekka. Ini cewek egois banget deh, rasanya pengen mukul ni perempuan. Saya juga gak begitu suka sifat Frankie yang keras kepala sih, dan berharap kalau di buku selanjutnya, dengan adanya hubungan lebih dekat dengan Melody, karakter Frankie bisa jadi lebih dewasa.

Overall saya suka dan menikmati banget baca buku ini, dan gak sabar untuk melanjutkan membaca serialnya. Bagi yang gak suka membaca kehidupan dangkal masa remaja mungkin gak suka sama buku ini. Tapi bagi penyuka contemporary romance, buku ini menjadi pilihan. Apalagi ditambah unsur komedinya. Beberapa kali saya mendengus tertawa karena baca dialog-dialognya. Satu kata: keren!



3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] Magic or Madness

Magic or Madness (Magic or Madness #1) by Justine Larbalestier

3,53/5 (2,744 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Meilia Kusumadewi
Release Date: January 12th 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published March 17th 2005)
Format: Paperback, 320 pages
Genre: Paranormal Fantasy


Kunci itu.
Sebelum kugunakan pun, aku sudah tahu.
Kunci itu sangat pas, seakan memang di sana tempatnya.
Kubuka pintu, melangkah ke luar, dan ternganga...

Reason Cansino tahu-tahu mendapati dirinya di tengah jalan asing, diguyur hujan salju. Melalui pintu belakang rumah neneknya, Reason berpindah tempat ribuan kilometer dari Sydney ke negeri asing!

Ia terpaksa mengakui bahwa sihir memang ada.

Namun seperti ibunya, neneknya, dan teman-teman barunya, Tom dan Jay-Tee, Reason harus menerima takdir sihir yang mengalir dalam darahnya. Takdir yang akan membuatnya terjebak dalam dilema, sekaligus menjawab semua pertanyaannya selama ini.


Awalnya saya punya perkiraan negatif mengenai buku ini karena ratingnya yang rendah di Goodreads. Tapi setelah selesai membaca dalam 2 hari, saya sedikit berubah fikiran.

Konsepnya tidak ada yang istimewa. Hanya dunia sihir tersembunyi dimana orang yang menggunakan sihir akan menyerap tenaganya sendiri dan memperpendek kehidupannya. Tidak ada konsep sihir yang rumit, atau kegelapan yang menghantui buku bergenre supernatural ini. Bahkan menurut saya, untuk ukuran buku fantasi, buku ini lumayan riang dan simpel.

Kesederhanaan dan keriangan buku ini justru menjadi daya tarik sendiri. Ya sih, nggak ada yang istimewa, tapi saya jadi terlalu menikmati bacanya sehingga sampai pada halaman terakhir dalam waktu singkat. Overall karakter-karakternya cukup menyenangkan, dan petualangannya cukup seru. Di halaman-halaman terakhir saya bahkan sempat berharap bisa melanjutkan ke seri selanjutnya. Tentu saja dengan adanya hal-hal baru mengenai sihir.
Satu lagi yang menarik dari buku ini adalah catatan awal dari penulisnya, yang membuat saya ketawa dan segera saja menyukai karakter Tom bahkan sebelum saya mulai membaca ceritanya.


“Tolong perhatikan bahwa Great Expectations merupakan karya Charles Dickens, bukan Shakespeare. Sejarah literature bukan merupakan salah satu kelebihan Tom.” (Catatan untuk Pembaca oleh Justine Larbalestier)


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] Entrok

Entrok by Okky Madasari

3,72/5 (195 rating)

Publisher: Gramedia
Release Date: April 5th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Format: Paperback, 282 pages
Genre: Historical Fiction


Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.


Saya jarang banget baca karya penulis Indonesia, tapi udah lama saya penasaran sama karya-karyanya Okky Madasari. Sinopsisnya menawarkan sesuatu yang ‘beda’ dari yang lain. Lebih banyak unsur sosial dan lebih bermakna. Makanya, ketika ada kesempatan membeli bukunya, saya langsung beli tanpa pikir panjang. Buku pertama yang saya putuskan untuk beli terlebih dahulu adalah Entrok ini. Entrok mendapat rating terbaik dari buku-buku karya beliau yang lainnya.

To the point. SAYA SUKA BANGET TULISANNYA OKKY. Saya suka ceritanya. Saya suka kisahnya. Sendu, detail, membuat saya merasa kembali ke Indonesia jaman dulu yang digambarkan pada kisah ini. Gak ada sesuatu yang terlalu berlebihan, kata-kata yang terlalu sendu atau keadaan yang terlalu saklek pada ceritanya. Menurut saya ini adalah The Best Realistic Fiction in Indonesian Literature.

Meskipun begitu, ada beberapa hal yang saya catat dalam notes saya mengenai buku ini. Hanya beberapa kesubjektifan dan keegoisan saya dalam menangkap sebuah cerita, namun secara keseluruhan saya suka banget buku ini.

Sudut pandang yang digunakan penulis dalam menyusun cerita ini adalah sudut pandang ibu dan anak, yaitu Marni dan Rahayu. Pada bagian Rahayu, saya agak komplain sedikit. Menurut saya, Rahayu banyak banget tahu tentang Marni, di hal-hal yang kejadiannya sebenernya gak melibatkan Rahayu pada situasi tersebut. Misalnya pada halaman 76. Rahayunya ga ada di tempat, tapi bisa nyeritain secara detail banget kejadian yang dialami Marni. Dalam cerita juga ga disebutkan kapan Marni cerita-cerita sama Rahayu tentang peristiwa itu. Padahal, diceritakan kalau hubungan Rahayu dan Marni tidak pernah akrab.

Selanjutnya adalah cara pandang si tokoh. Saya gak habis pikir sama yang namanya Marni ini. Kalau memang ga tahu tentang Allah, kenapa ga nyari tau? Saya geregetan sama si Marni ini. Tapi, menurut saya itu sesuatu yang menambah keunikan cerita ini. Saya jadi mikir,’iya, ya, ada orang kayak gitu di dunia, menjadikan ga kenal Allah sebagai pembenaran, padahal kan bisa nyari tahu, belajar tentang Allah’.

Overall ceritanya bagus meskipun lama kelamaan ketebak alurnya; pemerasan, penuduhan, penindasan; namun gaya penulisan Okky dan caranya menciptakan sudut pandang sebuah karakter membuat cerita ini jadi menarik. Saya merekomendasikan buku ini untuk para pembaca yang suka sama sesuatu yang berbau kemasyarakatan, sosial, atau sekedar ingin lari dari masa kini menuju kehidupan jaman dahulu yang atmosfernya berbeda.


4 stars - I enjoyed this book, I would recommend it



[Book Review] Bone Key

Bone Key (Supernatural #3) by Keith R.A. DeCandido

3,90/5 (1,206 rating)

Publisher: Elex Media
Release Date: May 4th 2011 by Elex Media (first published August 26th 2008)
Format: Paperback, 360 pages
Genre: Supernatural Fantasy


Tahun Baru Winchester bersaudara diganggu serangkaian hantu yang tiba-tiba menggila di Key West. Tahun Baru Winchester bersaudara diganggu serangkaian hantu yang tiba-tiba menggila di Key West.

Curiga kejadian itu ada hubungannya dengan para setan yang keluar dari Gerbang Iblis, Sam dan Dean segera mengunjungi kepulauan di selatan benua Amerika itu.

Dan hantu-hantu orang terkenal menyambut mereka di sana; mulai dari mantan presiden Amerika, pencari harta karun, sampai penulis terkenal, Ernest Hemingway.

Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibanding roh Indian berkekuatan luar biasa yang bangkit untuk membalaskan dendam sukunya. Keadaan yang memburuk memaksa Sam dan Dean menggunakan semua bantuan yang bisa mereka dapat.

Karena semua bergantung pada mereka berdua untuk menyelamatkan penduduk Key West sebelum pulau indah itu berubah menjadi pulau dengan tumpukan tulang.


Pertama kali tertarik sama buku ini bukan karena covernya, tapi karena sinopsisnya. I thought, “Kayaknya menarik deh cerita tentang bangkitnya roh-roh orang terkenal dari kematian”. Plus, because of the genre and the price (it’s only Rp 25,000), I bought this book. Dan ternyata, ceritanya nggak jelek, kok.

Actually I had few difficulties on following the story, because this is not a first book and I have not read the previous book yet. But for the next five pages, I have already enjoyed the story, and started to like it. Ternyata meskipun tidak dari buku pertama bacanya, tetap masih bisa dinikmati dan ceritanya seru, kok. Maybe it’s because this book is supposed to be an episode of TV series, jadinya setiap bukunya punya cerita yang berbeda, ending yang beda meskipun tetap satu arah.

Nah, di buku ini, awal mula saya kenal Dean dan Sam Winchester, dan saya suka sama mereka. They love and save each other. Not as cool as Will and Jem, or ‘parabatai’-thing on Cassandra Clare’s book, but It’s still a little sweet. Saya juga suka penceritaan yang dua sisi, satu dari sisi si korban setan, dan satu lagi dari sisi Dean dan Sam. For your information, di bab-bab awal buku ini, ceritanya tidak diceritakan dari sudut pandang Dean dan Sam saja, tapi juga dari sudut pandang orang lain yang jadi korban selanjutnya setan yang berkeliaran di key West. Agak ironis sih, merasakan kehidupan dan perasaan seorang karakter yang pada akhir bab akan berakhir mati dengan tragis, but It impressed me.

Petualangannya sendiri cukup diberi rating tujuh dari sembilan, meskipun agak sedikit ‘movie-scene’, kalau menurut saya. Agak bisa ditebak sih, sedikit action di tengah-tengah cerita, lalu pertempuran final di akhir cerita, dimana akhirnya singkat. But it’s not bad lah.

Favorite parts? Sebuah bab ketika seorang pemandu tur hantu dibunuh oleh sebuah boneka. It’s really thrilling. Sesaat seperti melihat film thriller Chaky. How about the translation? Good, I didn’t find any thypoghrapical error, and it’s easy to understand.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



[Book Review] A Golden Web

A Golden Web by Barbara Quick

3,43/5 (379 rating)

Publisher: Atria
Translator: Maria Masniari Lubis
Release Date: March 1st 2011 by Atria (first published March 19th 2010)
Format: Paperback, 274 pages
Genre: Historical Fiction


Alessandra Giliani adalah seorang remaja berotak cemerlang. Kecintaannya terhadap literatur dan ilmu pengetahuan sangat besar. Sayangnya, dia seorang perempuan. Pada masa itu, kaum perempuan terhormat tidak berhak menjadi apa pun selain menjadi ibu rumah tangga atau biarawati.

Didorong oleh hasrat dan tekadnya yang sangat kuat, dia menempuh perjalanan berbahaya ke Bologna, untuk mewujudkan cita-citanya belajar ilmu kedokteran—meskipun harus menempuh bahaya dan menyamar sebagai seorang pemuda!

Dalam penyamaran di kota yang penuh mata-mata dan kaum cendekia itu, Alessandra menemukan cinta yang tidak pernah dia sangka-sangka. Meskipun aturan dan anggapan umum dalam masyarakat saat itu merendahkan kaumnya, dia berhasil membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama bahkan terkadang melebihi kapasitas yang dimiliki kaum lelaki.

Dalam penggambaran hebat dari kisah yang sudah berusia berabad-abad tentang Alessandra Giliani, ahli anatomi perempuan pertama di dunia, penulis memberikan drama, romansa, dan detail sejarah yang kaya kepada para pembacanya mengenai tokoh utama perempuan yang tidak terlupakan—dan tidak dapat dilupakan.


“Seorang bayi yang lucu berbaring di buaiannya, diawasi oleh pengasuh yang masih menyusui kakak lelaki si bayi yang tampak ceria. Sang ibu susu, terkenal sekaligus disegani karena pengetahuannya tentang tanaman obat-obatan tradisional, telah meletakkan semangkuk air di bawah buaian.”

Yang pertama harus diketahui adalah ini merupakan sebuah novel fiksi sejarah, bukan nonfiksi. Pernyataan ini didasarkan pada catatan dari penulis di akhir bab, yang mengatakan bahwa beberapa tokoh dalam buku ini merupakan karangannya sendiri. Penulis menulis kisah Alessandra berdasarkan riset, dan menambah detail-detail yang tidak ditemukan dalam catatan sejarah.

Membaca buku ini seperti membaca buku klasik. Meskipun saya belum membaca dalam bahasa aslinya (inggris), terjemahanny aja udah ala klasik banget. Setidaknya dialog-dialog yang menyusun buku ini terkesan kaku dan mendayu-dayu.

Overall bukan merupakan salah satu buku favorit saya. Menarik bagaimana melihat kehidupan keluarga Giliani ketika Alessandra masih kecil, bagaimana hubungannya dengan ayahnya dan saudara-saudaranya; terutama kakaknya Nicco. Namun saya merasa ceritanya sendiri tidak begitu kuat.

Bagian ketika Alessandra akhirnya bisa pergi ke Bologna hanya mendapat sedikit porsi dari keseluruhan ceritanya. Jadi, di awal buku saya merasa jengah karena menunggu petualangan Alessandra di Bologna. Ketika sampai pada cerita itu pun, kisahnya menjadi tidak begitu detail.

But overall, saya merekomendasikan buku ini untuk para penyuka novel klasik sebagai salah satu pilihan bacaan di waktu luang.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



Thursday, November 21, 2013

[Book Review] Jakarta Love Story

Jakarta Love Story by Rudy Efendy
4,29/5 (17 rating)

Publisher: Diva Press
Release Date: August 1st 2013 by Diva Press
Format: Paperback, 480 pages
Genre: Indonesian Romance


Ini kisah yang terjadi di bawah langit Jakarta....

Ketika pertama kali bertemu dengan Fabio di Lapangan Banteng, Rifai tidak pernah membayangkan hubungannya dengan pemuda itu akan berlanjut. Ia masih doyan wanita. Masih terangsang dan tergiur melihat perempuan molek. Suatu hari ia pasti akan menikah.


Tapi bukankah cinta tidak pernah bisa memilih? Sama halnya tidak bisa memilih dengan siapa hati akan tertambat. Rifai baru terhenyak tatkala hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lain. Dan hatinya mendadak terasa kosong ketika Fabio tiba-tiba menghilang tanpa jejak....

Sampai ketika secara tidak sengaja Audric Dominique Benoit mempertemukan mereka kembali...

Adakah cinta terlarang ini cukup kokoh menghadapi kesulitan demi kesulitan yang datang menerjang silih berganti? Atau malah meluluhlantakkan cinta dan hidup mereka....

Dramatis, penuh haru, dan menyentak emosi, itulah kesan yang ditawarkan novel apik tentang kisah cinta sepasang pria ini. Dengan penyajian yang mengalir, novel ini menunjukkan kepada kita bahwa cinta sejati juga dimiliki oleh pasangan yang sering dipandang sebelah mata.


Selesai membaca buku ini selama satu hari setelah menunda membacanya selama hampir satu bulan. Pada awalnya, saya belum siap dengan cerita yang gak biasa ini sehingga harus mogok setelah membaca beberapa halaman pertama. Setelah dirasa siap, saya akhirnya bisa tenggelam dalam ceritanya dan tidak berhenti membalik halamannya.

Saya suka sama gaya penulisannya. Menurut saya semua ada proporsinya dan masih dalam batas wajar. Ada dialog-dialog romantis yang gombalnya minta ampun, ada kalimat-kalimat penuh emosi yang berasal dari perasaan yang terdalam, juga guyonan yang membuat saya tertawa. Semuanya terasa hidup, tidak ada yang terasa nanggung meskipun cerita ini ditulis dalam jumlah halaman yang hampir mencapai lima ratus halaman.

Alurnya pun kadang cepat kadang melambat di waktu yang tepat, meskipun lebih banyak alur cepatnya. Contohnya, penulis tidak berlama-lama di adegan perkenalan, namun langsung membangun adegan yang menunjukkan keistimewaan hubungan antara Rifai dan Fabio. Buat saya itu tidak masalah karena ceritanya jadi lugas, tidak bertele-tele.

Saya suka menbaca judul tiap babnya, hal yang jarang sekali saya lakukan ketika membaca. Dalam buku ini, setiap judul babnya seperti menjadi bagian dalam ceritanya, dan sangat membantu sekali mendalami isi ceritanya. Namun di beberapa bab saya risih membaca judulnya karena tidak sesuai dengan esensi bab tersebut, misalnya;

  • Pada bab 17 yang diberi judul “Perang Dingin”. Perang dingin itu adalah suatu pertengkaran dimana kedua belah pihak tidak saling berbicara, kan? Namun di sini Fabio akhirnya masih mau berbicara dengan Rifai, sehingga saya rasa Perang Dingin kurang tepat untuk dijadikan judul bab yang singkat ini. Lebih tepat diberi judul “Perasaan Fabio”, karena di bab ini Fabio akhirnya mengungkapkan perasaannya atas keraguan dari hubungan mereka.
  • Pada bab 19 judul bab yang diberikan adalah “Kepergian Fabio”. Bab ini yang amat sangat membuat saya risih karena ternyata isinya tidak sefrontal judul babnya. Bab yang terdiri atas kurang dari 3 halaman ini berakhir dengan bersatunya kembali Rifai dengan Fabio.
  • Bab yang juga sangat membuat saya risih adalah bab 24, “Melabrak Wira”. Bab yang terbilang cukup panjang ini seharusnya mengambil judul yang berhubungan dengan reuni sekolah ataupun Jenny. Adegan melabrak Wira yang menjadi judul bab ini berada di awal dengan porsi yang sedikit, sehingga tidak penting untuk dijadikan judul bab.
  • Ketika saya membaca judul bab 31, “Luka yang Kembali Menganga”, saya mengantisipasi cerita yang mellow, dan sedikit menguras kesedihan. Namun saya kecewa karena isi babnya tidak semellow judulnya. Bahkan bab ini merupakan bab yang cukup seru dan bisa membuat saya tertawa.
  • Berkebalikan dengan bab sebelumnya, judul bab 39, “Di Luar Dugaan” menggambarkan hal yang jauh dibawah tragisnya bab ini. Saya pikir, ada sesuatu yang seru yang akan terjadi namun tidak akan menimbulkan kesedihan, hanya konflik dengan sedikit kekagetan. Ternyata konflik tersebut rupanya sungguh tragis dan menimbulkan air mata. Sebenarnya agak cocok juga sih, karena isi bab ini ‘di luar dugaan’ saya yang mengira kalau yang bakal terjadi hanya akan membuat kaget, bukan membuat saya berkaca-kaca.

Selain itu ada beberapa kesalahan:
halaman 44 baris 11; salah acuan, ‘Rifai’ seharusnya diganti ‘Fabio’
halaman 87; kalimat rancu: “ Dan, pintu….”, mungkin kata ‘kembali’ di akhir kalimat seharusnya dihilangkan
halaman 255 baris 17; kelebihan tanda baca, (:) harusnya dihilangkan
halaman 262 baris 5; salah acuan, ‘Rifai’ seharusnya diganti ‘Fabio’
halaman 281 baris 16; ‘the’ seharusnya ‘the’
halaman 359 baris 22; salah spasi, seharusnya ‘Fabio berguncang’
halaman 405 baris 2 dari bawah; salah acuan, ‘Fabio’ seharusnya diganti ‘Rifai’
halaman 435 baris 15; ‘Fabuo’ seharusnya ‘Fabio’
halaman 471 judul bab 41; ‘unforgetable’ seharusnya ‘unforgettable’

Adegan favorit saya ada pada halaman 352, yang membuat saya tertawa.

Overall saya kesulitan menerima konsep cerita ini karena bertentangan dengan beberapa prinsip saya; seperti bertindak egois dengan mengedepankan perasaan sendiri daripada hal yang benar, yang diatur agama, serta menyakiti perasaan orang lain: Jenny dan mama Rifai. Seperti yang pernah mama Rifai bilang, semuanya bisa berubah andai Rifai mau berusaha. Dan seperti yang orang-orang sering bilang; tidak ada yang namanya usaha yang gagal, hanya kita saja yang kurang usahanya.

“Rifai memperlambat laju kendaraan dan memutuskan untuk menepi di sisi kanan jalan. Ia mengerjapkan mata, memandang sekeliling.” (halaman 1)



Tuesday, November 19, 2013

Wishful Wednesday {5}

It's Wednesday and it's wishful wednesday's time!



The Cuckoo's Calling - Robert Galbraith (a.ka JK Rowling)
Pengen banget buku ini.. ya karena penulisnya adalah JK Rowling. Penasaran sama tulisannya dia yang lain selain Harry Potter. Buku ini baru terbit terjemahannya bulan ini sama Penerbit Gramedia, dan harganya kalau nggak salah.. Rp99.000,00! Wow sekali. Jadi..*ehem* nunggu kapan-kapan aja belinya atau ada yang ngasih buku ini sama aku. #kode

Link untuk beli buku ini: www.bukabuku.com/browse/bookdetail/2010000184011/the-cuckoos-calling-dekut-burung-kukuk.html


How to join Wishful Wednesday?
----Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
----Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
-----Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
-----Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)


PerpusKecil.wordpress.com


[Book Review] The Graveyard Book

The Graveyard Book by Neil Gaiman

4,09/5 (153,916 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Lulu Wijaya
Release Date: April 2013 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2008)
Format: Paperback, 360 pages
Genre: Supernatural, Fantasy, Children


Nobody Owens––panggilannya Bod––adalah anak biasa, benar-benar biasa, seandainya dia tidak tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Banyak petualangan di pemakaman itu, dan kalau Bod pergi ke dunia luar, dia terancam bahaya dari pria bernama Jack––yang telah membunuh seluruh keluarga Bod.

Pencerita ulung Neil Gaiman kembali menyajikan cerita tentang kehidupan dan kematian, kasih sayang dan tumbuh dewasa, serta menemukan keluarga di tempat-tempat yang tampaknya paling mustahil.


First, I bought this book because of the title. And then, the writer. Later on I knew that Neil Gaiman’s book has the same genre or situation; children, mysteri, ghosts, a little bit creepy, but actually it’s fun. I only have read one of his book, but I already watched Coraline. It’s kinda the same of reading and watching. :-p

Buku Neil Gaiman yang satu ini hampir mirip sama Coraline, ada kekuatan gaib jahat dan baik. Bukunya sendiri meskipun satu kesatuan, terdiri dari bab-bab yang memiliki cerita, konflik, dan ending sendiri. Di halaman ucapan terima kasih, Neil Gaiman mengatakan bahwa halaman pertama yang dia tulis dari buku ini adalah awal mula bab 4. Dan sebenarnya keliatan sih, kalau kita membaca bab empat tanpa mengacu bab-bab sebelumnya, rasanya lebih lepas, lebih masuk ke dalam cerita dan sinopsisnya. Bab empat sendiri merupakan awal mula bab-bab penuh petualangan Bod, sedangkan tiga bab awal rasanya lebih ke perkenalan.

Cerita yang paling saya sukai adalah ketika Bod berkenalan dengan Lisa, dan ketika Bod diizinkan sekolah di luar makam. Translate-annya secara keseluruhan cukup enak dibaca, dan endingnya oke meskipun mengharukan.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you




[Book Review] The Ring of Solomon

The Ring of Solomon by Jonathan Stroud

4,19/5 (8,265 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Poppy D. Chusfani
Release Date: November 15th 2012 by Gramedia Pustaka Utama (first published January 1st 2010}
Format: Paperback, 528 pages
Genre: Fantasy Comedy, Adventure


Bartimaeus, sang jin luar biasa, terjebak sebagai budak di Jerusalem, di bawah kekuasaan Raja Solomon. Semua ini gara-gara cincin legendaris Solomon, yang membuat pemiliknya memiliki kekuatan tak terbatas.

Namun, dengan datangnya Asmira, gadis pembunuh yang ternyata punya banyak rencana, keadaan mulai… menarik.

Maka Bartimaeus pun berada di posisi paling berbahaya selama kariernya yang panjang dan harus mengerahkan semua kekuatan sihirnya agar bisa lolos dari situasi ini.

Petualangan Bartimaeus yang pasti dianggap seru oleh pembaca lama maupun baru.


Definitely my most favorite story all the time. I love Bartimaeus and I love Jonathan Stroud’s writing style. The plot is understandable and enjoyable to read. Eventhough I haven’t read other Jonathan Stroud’s book, I get impressed on the way Jonathan makes Bartimaeus such a strongly funny and hilarious character like Bartimaeus.

The relationship between Bartimaeus and Amira is not as deep as Bartimaeus and Nathaniel, but I like the way Bartimaeus acts and solves anything, with his funny side as usual. In this book, we find that Bartimaeus is not only funny, but also smart, because now he does anything a little bit with his will, not when he was highly forced to do something like he was with Nathaniel. So he brings us a briliant scenes, and still we can laugh at everything he does and says. In some way, I think Amira has a similarity with Kitty.

Moreover, the translation is very good, and suitable with the condition. I never think that if I read an english version, I would laugh and enjoy the story more than when I read the Indonesian version.


4.5 stars - I heart this book, everyone *must* read it