Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Tuesday, November 12, 2013

#5BukuDalamHidupku Sebuah Buku yang Merubah Sudut Pandangku

sebuah proyek yang dicetuskan oleh @irwanbajang di blog nya

Menurut saya, untuk merubah hidup terlebih dahulu kita harus merubah sikap dan cara pandang kita. Nah, sikap dan cara pandang tersebut dapat diubah lewat pengalaman hidup, observasi terhadap orang lain, maupun dengan membaca sebuah buku. Ketika saya membaca proyek berjudul #5BukuDalamHidupku, saya jadi berfikir ulang tentang buku-buku yang pernah saya baca.

Saya punya banyak buku favorit. Dianataranya, buku yang memberikan kesan buat saya ada banyak. Yang menawarkan dunia dengan sudut pandang baru juga ada. Tapi yang mampu merubah hidup saya.. Hmm.. saya berfikir lebih teliti lagi, manakah di antara buku-buku tersebut yang bukan hanya berbeda, namun juga memberikan perbedaan?

Buku pertama yang saya ambil untuk postingan hari ini adalah sebuah buku biasa, yang didalamnya terdapat sebuah kutipan yang lebih biasa lagi karena sebenarnya banyak teman saya yang sudah mengatakan hal serupa kalimat itu kepada saya, namun entah kenapa menemukannya dalam sebuah buku bisa memberikan efek yang lain dan tidak biasa.


Sebuah Buku yang Merubah Sudut Pandangku

Saya dulu adalah orang yang pencemburu sekali, terutama kalau menyangkut soal perasaan (dan sepertinya semua wanita memang sifatnya seperti itu ya.. :D). Singkatnya, layaknya seorang wanita yang cemburu, saya suka marah-marah dan akhirnya malah menimbulkan masalah baru. Selain itu, parahnya kecemburuan saya itu kadang berasal dari pikiran saya sendiri yang suka membuat skenario hal-hal yang tidak saya inginkan. Tidak hanya berkaitan dengan kecemburuan sih, tapi di hal-hal lain yang menyangkut perasaan.

Saya suka dengan buku-buku nonfiksi yang ditulis oleh Asma Nadia dan kawan-kawan, terutama yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Kumpulan kisah yang disusun dalam sebuah buku tersebut berhasil membuka wawasan saya akan kehidupan, meskipun dulu saya sempat pesimis kalau bukunya hanya akan menambah kegalauan, dan isinya penuh hal-hal klise.

Salah satu buku Asma Nadia dkk yang saya koleksi adalah Catatan Hati yang Cemburu. Buku tersebut berisi 15 kisah muslimah yang pernah merasakan cemburu dalam kehidupan rumah tangga mereka, mulai dari cemburu terhadap wanita lain, pada pekerjaan suami, sampai ke cemburu pada mertua.

Catatan Hati yang Cemburu oleh Asma Nadia dkk.
Penerbit: Asma Nadia Publishing
Jumlah Halaman: 256 halaman


Saya tidak akan membahas keseluruhan isi buku di sini, namun ada sebuah kutipan di buku ini dari Mbak Ifa Avianty yang ingin saya bagikan:

“Saya yakin bahwa semua ini hanya titipan Allah. Jadi, ngapain juga saya rese pada sesuatu yang nanti juga bisa sewaktu-waktu diminta balik sama yang punya. Termasuk rasa cinta itu sendiri.
(Catatan Hati yang Cemburu by Asma Nadia, dkk, halaman 158)

Kutipan yang sederhana dan biasa saja, tapi mengubah sebagian hidup saya. Begitu besarnya nilai yang diberikan oleh kutipan ini, sehingga saya sering mengulangnya dalam hati; bagaikan mantra. Terkadang saya membuka lagi halaman-halaman buku ini demi mengulang kesan pertama ketika saya membaca kutipan tersebut. Entah kenapa kalimat itu terasa seperti sindiran buat saya, dan herannya lagi saya benar-benar memikirkan arti dari kalimat tersebut.

Ya, ngapain juga saya riweuh dengan perasaan yang saya miliki? Saya suka berlama-lama atas segala sesuatu yang saya rasakan, terutama yang negatif dan merusak seperti cemburu. Membaca kata-kata mbak Ifa membuat saya berfikir ulang, sekaligus menyadarkan saya bahwa ternyata; perasaan saya ini bukan hanya milik saya seorang, tapi juga milik Allah.

Ya, perasaan cinta itu juga datangnya dari Allah, kan? Allah yang menumbuhkan rasa, kita yang ‘mengorganisirnya’, ibaratnya seperti itu. Nah, kenapa pula saya harus bersusah payah merasa insecure terhadap sesuatu yang sebenarnya milik Allah? Kutipan dari Mbak Ifa menyadarkan saya untuk memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah, termasuk perasaan saya sendiri. Saya berfikir dan berprinsip; Allah yang menjamin perasaan saya, jadi nggak mungkin Allah ngasih sesuatu yang buruk buat saya. Toh kalaupun terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan, saya percaya kalau itu balasan untuk sesuatu yang lebih baik lagi buat saya di masa yang akan datang. Hal ini sudah saya yakini dalam beberapa hal, namun tidak termasuk hal-hal yang mendalam seperti perasaan. Nah, sama Mbak Ifa saya diingetin deh kalau perasaan juga termasuk bagian yang Allah berperan penting di dalamnya.

Efek yang terasa dalam hidup saya, saya jadi lebih lapang dada (meskipun saya lebih suka dibilang ‘cuek’) terhadap apa yang saya rasakan, terutama hal-hal yang menyusahkan pikiran dan hati saya. Saya anggap itu hanya sebuah bagian dari hidup, dan pun ketika perasaan yang mengganggu itu mencapai puncaknya, saya tidak ragu lagi untuk memohon dan melatih diri untuk menjaminkan segala sesuatunya pada Allah.

Sejauh ini, it really works. Hati menjadi lebih tenang dan kuat. Bukan berarti saya tidak pernah mengalami guncangan terhadap perasaan saya, namun tidak seperti dulu, saya yakin bisa melewatinya tanpa memperparah situasi yang saya hadapi.


Terkadang, kata-kata sederhana dapat memberikan arti lebih bagi kehidupan seseorang jika dituliskan dalam sebuah lembaran kertas, dibandingkan dengan diucapkan secara lisan.
-# Fenny Herawati Golden Ways

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.