Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku Sebuah Buku yang Memberiku Kekuatan

P.S. I Love You oleh Cecelia Ahern
Penerbit Gramedia

Cita-cita Holly dan Gerry sederhana saja. Selalu bersama sepanjang sisa hidup mereka. Namun takdir berkata lain; Gerry tiba-tiba saja meninggal karena kanker di usia tiga puluh tahun, meninggalkan Holly dengan penyesalan karena tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang dulu tidak sempat dilakukannya dan kehilangan saat-saat indah di masa depan bersama Holly.

Kepergian Gerry yang begitu tiba-tiba membuat Holly shock. Selama ini Holly menyangka bahwa usia bukanlah penghalang bagi kebersamaan mereka, sehingga Holly yakin kebersamaannya dengan Gerry di sepanjang sisa hidupnya adalah sebuah hal yang pasti bisa mereka wujudkan.

Kehilangan suami, kekasih, belahan jiwa, sekaligus sahabat terbaiknya membuat Holly terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Dia seperti hidup di luar tubuhnya; tidak merasakan apa-apa; hampa. Yang dirasakannya adalah sakit yang mendera hatinya dan kilasan-kilasan kenangan antara dirinya dengan Gerry. Mengapa dirinya harus kembali menjalani hidup normal jika hal itu tidak dapat mengisi lubang kosong yang menganga dalam hatinya? Gerry tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Hari demi hari berlalu. Ketika Holly masih belum bisa menerima kepergian Gerry, datang sebuah paket yang dialamatkan untuk Holly. Isinya adalah seikat surat yang ditulis Gerry di saat-saat terakhir hidupnya. Surat-surat tersebut harus dibuka di saat-saat tertentu yang telah ditentukan oleh Gerry; yaitu pada bulan yang tertera pada surat tersebut. Sepuluh surat yang harus dibuka dan ditaati Holly.


Sebuah Buku yang Memberiku Kekuatan

Ketika membaca buku ini, saya seperti sedang membaca kisah hidup saya sendiri. Rasa cinta yang begitu besar, keyakinan akan terus bersama, kenangan yang telah mendarah daging dalam ingatan, serta kehilangan. Meskipun kehilangan yang saya alami tidak setragis yang dialami Holly. At least, orang itu hanya pergi meninggalkan hidup saya.

Waktu itu, saya membaca buku ini tepat di saat rasa kehilangan itu masih belum mau pergi. Lucunya, membaca sikap Holly yang merupakan cerminan kehidupan saya saat itu, membuat saya jengah. Saya kesal dengan sikap Holly yang melankolis dan dramatis; tanpa menyadari diri bahwa saya pun punya sikap yang serupa.

Kalau kata orang; ‘Kita nggak akan pernah tau kapan kita dapet hidayah’. Itulah yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Saya menghanyutkan diri dalam kehidupan Holly, sehingga ketika itu saya sampai pada sebuah adegan yang menyentak hati saya;

“Holly, itulah hidup,” sela John, mendongak dan memandanginya. “Sepertinya kau sudah lupa. Dengar, aku tahu sungguh sulit bagimu melakukannya, karena aku juga merasakan kesulitan yang sama. Aku juga kehilangan Gerry. Dia sahabatku. Seumur hidup, aku bertetangga dengannya. Demi Tuhan, kami bahkan masuk playgroup yang sama, juga SD, SMP, dan SMA. Kami masuk tim sepak bola yang sama. Aku menjadi pendampingnya waktu dia menikah, dan dia menjadi pendampingku waktu aku menikah! Setiap kali ada masalah, aku menemui Gerry. Begitu juga kalau ingin bersenang-senang,aku mengajak Gerry. Aku menceritakan padanya hal-hal yang tidak mungkin kukatakan pada Sharon, dan dia juga mengatakan hal-hal yang tidak mungkin dia katakan padamu. Bukan berarti aku tidak merasakan kesedihan seperti yang kaurasakan hanya karena aku bukan istrinya. Dan bukan berarti aku berhenti menjalani hidup hanya karena dia sudah tiada.”

“Memang ini sulit. Memang ini menyakitkan. Memang ini hal terburuk yang pernah terjadi padaku. Tapi aku tak bisa menyerah begitu saja. Aku tidak mungkin berhenti ke pub hanya karena di sana ada dua cowok tertawa-tawa di bangku yang dulu sering diduduki oleh Gerry dan aku, dan aku tidak berhenti nonton pertandingan bola hanya karena kami dulu sering nonton bareng. Aku masih mengingat semuanya dengan jelas dan tersenyum mengenang hal-hal itu, tapi bukan berarti aku berhenti melakukannya.”
(P.S. I Love You by Cecelia Ahern, halaman 423-424)

John adalah teman Holly, sekaligus sahabat Gerry. Lewat dialog John, saya mendapat pemahaman sekaligus keyakinan baru. Ketika saya sedang kesulitan, teman-teman saya tidak jarang berkata ‘masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada kamu’ atau ‘bukan berarti hidup berhenti berputar karena kamu sedang ada masalah’. Tapi saya tidak pernah mau mendengarkan kata-kata mereka karena bagi saya, orang lain tidak mengerti apa yang saya rasakan dan saya alami.

Lalu kenapa kata-kata dalam sebuah buku fiksi lebih saya pedulikan daripada kata-kata teman saya?
Jawabannya; karena John juga pernah merasakan hal yang sama. Dia berada dalam posisi yang sama dengan apa yang dialami oleh Holly, kehilangan seseorang yang selalu dekat dengannya. Cerita selalu berfokus pada Holly dan kesedihan yang dialaminya, sehingga kita lupa bahwa ada seseorang yang juga harus mengalami hal yang sama.

Menganalogikan ceritanya ke dalam kehidupan saya, saya lupa bahwa ada orang lain yang pasti pernah mengalami hal yang sama dengan apa yang saya alami. Hanya saja, seperti Holly yang selama ini tidak pernah menyadari apa yang dirasakan John, saya juga tidak mengenal orang-orang yang memiliki masalah yang sama dengan saya. Kehidupan selalu berfokus pada diri saya sendiri, sehingga saya melupakan kemungkinan bahwa ada orang lain tersebut.

Bukan berarti orang lain tidak pernah merasakan kesedihan yang saya alami hanya karena saya tidak mengenal mereka. Dan bukan berarti orang lain itu pasti akan berhenti menjalani hidup seperti yang sudah saya lakukan.

Saya mengibaratkan John sebagai orang lain yang mengalami hal serupa dengan saya namun mengambil langkah berbeda. Pada dialog kedua John dengan Holly, John kembali menyentak hati saya. Jika saya bisa menggunakan kembali kata-kata John untuk menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu, kalimatnya akan seperti ini;

Aku berhenti pergi ke tempat makan itu karena di sana ada bangku yang dulu sering diduduki oleh kami berdua. Aku berhenti mempedulikan handphoneku hanya karena dulu aku sering menerima smsnya dan kami sering bicara di telepon. Aku selalu memalingkan wajahku jika melihat jaket berwarna oranye, hanya karena dulu dia sering memakainya. Aku masih mengingat semuanya dengan jelas dan sering menangis mengenang hal-hal itu.

Betapa jatuhnya saya saat itu. Namun, karena buku ini, karena membaca kata-kata John, saya berubah. Saya mendorong diri saya untuk mulai berlatih berfikir realistis, bahwa kehidupan akan terus berjalan, dan kesedihan adalah bagian dari hidup, sama seperti yang dialami orang lain. Betapapun sulitnya keadaan itu.

Akhir kata, saya bersyukur karena saya menemukan dan membaca buku ini di waktu yang tepat dalam hidup saya.


sebuah proyek yang dicetuskan oleh @irwanbajang di blog nya

Word count: 751 (without the quotation)

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.