Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Thursday, November 14, 2013

#5BukuDalamHidupku Sebuah Buku yang Membuatku Melakukan Sesuatu

sebuah proyek yang dicetuskan oleh @irwanbajang di blog nya


Setelah sebeumnya saya membahas buku yang membuat perubahan dalam hidup saya, khususnya terhadap cara pandang atau mindset, di hari ke empat ini saya akan membahas sebuah buku yang membuat saya melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan


Sebuah Buku yang Membuatku Melakukan Sesuatu

Saya dibesarkan oleh keluarga yang tidak terlalu memegang prinsip-prinsip agama. Tak heran sejak kecil ketika saya sudah masuk dalam kategori wajib sholat, saya tidak pernah melaksanakan perintah agama tersebut hingga usia saya beranjak tujuh belas tahun. Saya masih ingat ketakutan saya di bangku Sekolah Dasar saat harus melaksanakan praktek sholat.

Jangankan membaca Al Qur’an, hafal bacaan sholat pun saya tidak. Kenangan di Sekolah Menengah Pertama sudah terlupakan dalam ingatan saya, namun saya ingat ketika di Sekolah Menengah Atas, saya sering ditegur guru agama karena tidak bisa membaca Al Qur’an.

Setelah lulus SMA dan diterima kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, saya mulai berubah. Singkatnya, saya mendapat hidayah. Intinya, saya menjadi seorang akhwat yang berjilbab. Pada saat itu dalam pikiran saya adalah setidaknya saya harus berterima kasih pada Allah karena diterima di perguruan tinggi yang begitu saya dambakan, padahal selama ini saya sudah begitu lalai terhadapNya.

Selain memakai jilbab, saya juga mulai belajar mengaji. Seadanya saja, yang penting bisa. Lagi-lagi, cuma sebagai bentuk rasa syukur saya kepada Allah. Tidak pernah terfikir oleh saya untuk lebih dari itu, apalagi saat itu masih di awal sekali saya mendapat hidayah.

Karena saya hobi membaca, pada saat itu juga saya mulai suka mengunjungi bagian Agama Islam di toko buku, sekedar melirik-lirik saja. Jujur, saya jarang sekali terkesan dengan buku nonfiksi, apalagi fiksi motivasi. Menurut saya, kebanyakan buku motivasi itu sifatnya klise dan relatif; hanya kumpulan fakta-fakta rasional yang sebenarnya sudah kita ketahui. Kuncinya adalah berfikir positif; sisanya kembangkan sendiri.

Hal-hal lainnya seperti fakta-fakta menarik bisa kita lihat di internet. Mau tau keutamaan surat Al Kahfi? Mau tau cerita tentang Dajjal? Lihat di internet saja, semua ada. Oleh karena itu, saya cepat menyerah jika membaca buku nonfiksi dan bertekad untuk tidak membeli buku nonfiksi. Namun hari itu entah kenapa saya membawa pulang sebuah buku berjudul “Kisahku dalam Menghafal Al Qur’an” karya Muna Said Ulaiwah.

Kisahku dalam Menghafal Al Qur'an oleh Muna Said Ulaiwah
Penerbit: Pustaka Al Kautsar

Wah, menghafal Al Qur’an? Membaca Al Qur’an saja saya masih tersendat, bagaimana bisa menghafalkannya. Namun saya tetap membaca buku itu.

Buku-buku yang membahas topik serupa sebenarnya juga sering kita temui di toko buku. Buku-buku yang memberikan solusi efektif dan efisien dalam menghafal Al Qur’an banyak jumlahnya. Judulnya pun beragam, seperti ‘Kiat Praktis Menghafal Al Qur’an’, ‘Menghafal Al Qur’an itu Mudah’, bahkan ‘Hafal Al Qur’an dalam Sebulan’.

Apa sih yang membuat buku karya Muna Said Ulaiwah ini berbeda dari buku menghafal Al Qur’an yang lainnya?
‘Kisahku dalam Menghafal Al Qur’an’ berisi kumpulan pengalaman-pengalaman para penghafal Al Qur’an, diselingi kata-kata pembangun untuk terus memperbarui niat dalam menghafal Al Qur’an. Yang membuat saya menyukai buku ini adalah penuturan pengalaman para penghafal Al Qur’an yang apa adanya. Selain itu, yang lebih penting lagi; dari pengalaman-pengalaman tersebut kita dapat mengambil teori aplikatif yang bisa diterapkan di kehidupan nyata.

Buku ini memberikan gagasan dan memunculkan niat baru dalam diri saya. Menghafal Al Qur’an. Saya meniru beberapa hal yang dilakukan oleh para penghafal Al Qur’an yang kisahnya diceritakan dalam buku ini.

Salah satu penghafal Al Qur’an menyiapkan dua mushaf yang berbentuk cetakan (buku) dan lembaran-lembaran. Yang satu dihafalkan ketika kondisinya memungkinkan untuk memegang sebuah buku, sedangkan satunya lagi digunakan ketika saat-saat darurat, misalnya ketika sedang memasak, atau dalam kasus saya; belajar di kelas. Beberapa dosen yang cara mengajarnya dirasakan kurang efektif buat saya, daripada saya melamun di kelas, saya mengeluarkan lembaran ayat Al Qur’an yang sudah saya fotocopy sebelumnya lalu saya selipkan di buku pelajaran. Mudah dan praktis. Ayat-ayat Al Qur’an yang berbentuk lembaran juga mudah ditempelkan di tempat-tempat tertentu di rumah, sehingga kita terbiasa membacanya.

Selain itu, ada lagi teori aplikatif yang cocok diterapkan oleh mahasiswa, terutama mahasiswa yang tidak mempunyai background pendidikan jurusan keagamaan seperti saya. Biasanya, antar satu mata kuliah dengan mata kuliah lain dibatasi oleh jeda sepuluh atau lima belas menit. Pada waktu inilah kita dapat memanfaatkannya untuk membuka mushaf dan menghafal Al Qur’an.

Intinya adalah memanfaatkan dan menjaga waktu sebaik mungkin. Selagi waktu-waktu tersebut terbuang untuk bersenda gurau tiada manfaat bagi orang lain, para penghafal Al Qur’an memenuhi hatinya dengan hafalan Al Qur’an. Di sini saya percaya, tidak peduli seberapa sibuk orang tersebut, sebenarnya potensi dalam memanfaatkan waktu luang untuk menghafal Al Qur’an itu ada asal mau berniat dan berusaha.

Bagi saya sendiri, buku ini memberikan perubahan bagi hidup saya. Menjadikan saya tergerak untuk melakukan sesuatu yang positif dalam mengisi waktu luang saya. Mengisi fikiran-fikiran saya dengan kalimat-kalimat Allah, alih-alih membiarkannya memikirkan sesuatu yang tidak jelas dan tidak bermanfaat.

Semuanya kembali lagi pada diri masing-masing, siapa yang menanam dia lah yang menuai. Terima kasih Muna Said Ulaiwah karena telah menulis buku ini, terima kasih Pustaka Al Kautsar karena telah menerbitkan buku ini, terima kasih wahai para penghafal Al Qur’an yang kisahnya tertulis namun namanya tidak disebutkan dalam buku ini, karena telah menyampaikan suatu hidayah yang manis buat saya.



Word Count: 831

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.