Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Friday, November 15, 2013

#5BukuDalamHidupku Sebuah Buku yang Menghapus Underestimation Saya Terhadap Penulis Indonesia

Di hari terakhir event 5 Buku dalam Hidupku ini, saya menulis tentang sebuah buku favorit saya. Penulisnya sudah pasti dikenal oleh pembaca Indonesia karena karya-karyanya sudah banyak ditayangkan di layar lebar.


Rembulan Tenggelam di Wajahmu oleh Tere Liye
Penerbit Republika

Buku ini berkisah tentang flashback kehidupan yang dijalani Rey atau Rehan Raujana. Di lembar-lembar pertama, pembaca akan dihadapkan pada seorang gadis kecil bernama Rinai yang sedang duduk sendirian di halaman panti asuhan pada malam hari raya Idul Fitri. Adegan beralih ke sebuah rumah sakit di ibukota, di dalam bangsal pasien VVIP. Sesosok tubuh sedang sekarat di rumah sakit. Laki-laki tua yang sekarat itu adalah Rey.

Selanjutnya, Rey, bersama ‘seseorang’ yang di dalam buku ini berperan seperti malaikat kematian, memutar kembali rangkaian kehidupan di masa lalu. Tidak hanya kehidupan Rey, namun juga kehidupan orang lain yang berkaitan dengannya.

Sejak kecil, Rey tinggal di sebuah panti asuhan yang dibencinya. Di panti itu, Rey memiliki sebuah pertanyaan besar dalam hidupnya; “Apa aku tidak memiliki kesempatan untuk memilih pada saat aku dilahirkan?”. Kebenciannya karena harus tinggal di panti asuhan diperparah dengan adanya penjaga panti yang sok suci, yang suka mengambil uang yang seharusnya hak anak-anak panti asuhan untuk ditabung sendiri agar bisa umrah.

Kebakaran yang menimpa panti asuhan membuat Rey terusir dan harus menjadi anak jalanan. Setiap malam ia tidur di emperan toko di sudut terminal. Kebutuhan sehari-harinya ia penuhi dengan uang hasil mencuri kantor kepala panti asuhan, menjadi preman, dan berjudi. Seringnya ia menang dalam berjudi, menimbulkan bencana bagi Rey. Ia ditikam oleh beberapa preman yang tidak suka atas keberuntungan Rey dalam berjudi. Rey pun dilarikan ke rumah sakit di ibukota.

Setelah keluar dari rumah sakit, Rey mendapatkan kehidupan baru di ibukota. Ia ditampung di di sebuah rumah yang disebut Rumah Singgah. Di sana, ia mendapatkan teman-teman baru, serta pendidikan yang layak. Sayangnya, Rey harus kabur dari Rumah Singgah karena suatu kejadian. Kali ini Rey berusaha bersikap baik dengan membela seorang temannya. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan baru bagi Rey; “Apakah hidup ini adil?” karena orang lemah selalu tertindas.

Lepas dari Rumah Singgah, Rey hidup sendirian dengan menyewa sebuah rumah petak yang dekat dengan sungai pembuangan sampah dan menara air. Ia menghidupi diri sendiri dengan mengamen dari gerbong ke gerbong. Kehidupan berbalik ke arah lain ketika ia bertemu seorang “pedagang” bernama Plee yang meyakinkan Rey untuk mencuri sebuah berlian. Usaha pencurian itu tidak berhasil, Plee di hukum mati, dan Rey kembali ke kampung halamannya.

Di kampung halamannya, Rey bekerja sebagai buruh bangunan. Karena kecerdasan dan keramahannya, ia menjadi mandor. Ia menikah dengan Fitri, gadis yang dicintainya yang juga pernah ditemuinya di gerbong kereta pada hari kepulangannya ke kampong halaman. Singkat cerita, Rey dan Fitri hidup berkecukupan dan bahagia di sebuah rumah kecil dekat pantai. Saat ini adalah salah satu saat-saat terbaik dalam kehidupan Rey.

Roda kehidupan berputar, setelah keguguran dua kali, Fitri meninggal, menyisakan Rey dengan pertanyaan barunya; “Mengapa Tuhan tega mengambil milikku satu-satunya?”

Tidak sanggup tinggal di rumah yang penuh kenangan akan istrinya, Rey menjual rumahnya dan pergi ke ibukota. Di sana Rey menemukan berlian yang ia curi bersama Plee di menara air di rumah yang disewanya dulu. Rey menjual berlian itu untuk dijadikan modal usaha. Lagi-lagi, karena kecerdasannya, Rey sukses besar dan menjadi orang yang kaya-raya. Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan Rey adalah; “Mengapa aku merasa hampa padahal aku telah memiliki segalanya?”

Kebahagiaan sepertinya tidak pernah berpihak pada Rey. Di hidupnya yang sudah mapan, ia menderita penyakit komplikasi, membuat daftar pertanyaan Rey bertambah; “Mengapa takdir sakit mengungkungku, kenapa aku tidak langsung mati saja?”.

Kelima pertanyaan dalam hidup Rey terjawab di ambang sekaratnya saat ia kembali menyusuri masa lalu untuk mengetahui rahasia kehidupan orang lain yang tidak diketahuinya.


Sebuah Buku yang Menghapus Underestimated Saya Terhadap Penulis Indonesia

Buku ini sangat menyentuh, kelam, dan penuh makna. Tere Liye berhasil meramu sebuah alur yang detail dan saling berhubungan. Efeknya adalah, ketika membaca buku ini, saya merasa terseret ke dalam alur ceritanya. Narasi ‘seseorang’ (a.k.a malaikat kematian) yang menjelaskan hal-hal tersembunyi di balik apa yang terjadi pada tokoh-tokoh lain membuat saya terguncang. Sungguh, baru kali itu saya membaca sebuah buku fiksi dan hati saya bergetar karenanya sampai membuat air mata saya hampir menetes.

Setelah membaca Rembulan Tenggelam di Wajahmu, saya mendapat pemahaman baru. Apa yang kita lakukan dan apapun yang terjadi sama kita, semua pasti ada alasannya. Banyak hal yang tidak kita ketahui di dunia ini, dan itu semua tersusun dalam skenario Allah. Sesuatu yang kita anggap buruk, bisa jadi merupakan sebuah kebaikan buat kita.

Membaca Rembulan Tenggelam di Wajahmu juga menggeser pendapat saya bahwa penulis Indonesia tidak bisa menghasilkan karya yang bermakna. Sebelum membaca buku ini, bahan bacaan saya adalah novel terjemahan dari penulis luar. Saya pernah membaca karya anak bangsa sebelumnya, namun tidak ada yang berkesan di hati saya. Buku ini menjadi buku fiksi penulis Indonesia pertama yang saya favoritkan dan rekomendasikan kepada teman-teman.

Selain mengubah pendapat saya yang cenderung underestimated terhadap penulis Indonesia, novel ini juga memberikan pemahaman gamblang terhadap saya bahwa apapun hal baik dan buruk yang terjadi terhadap kita, adalah sesuatu yang sebenarnya baik buat alam semesta. Ingat selalu bahwa rencana Allah itu pasti baik.


sebuah proyek yang dicetuskan oleh @irwanbajang di blog nya

Word Count: 838

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.