Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Friday, November 22, 2013

[Book Review] Entrok

Entrok by Okky Madasari

3,72/5 (195 rating)

Publisher: Gramedia
Release Date: April 5th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Format: Paperback, 282 pages
Genre: Historical Fiction


Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.


Saya jarang banget baca karya penulis Indonesia, tapi udah lama saya penasaran sama karya-karyanya Okky Madasari. Sinopsisnya menawarkan sesuatu yang ‘beda’ dari yang lain. Lebih banyak unsur sosial dan lebih bermakna. Makanya, ketika ada kesempatan membeli bukunya, saya langsung beli tanpa pikir panjang. Buku pertama yang saya putuskan untuk beli terlebih dahulu adalah Entrok ini. Entrok mendapat rating terbaik dari buku-buku karya beliau yang lainnya.

To the point. SAYA SUKA BANGET TULISANNYA OKKY. Saya suka ceritanya. Saya suka kisahnya. Sendu, detail, membuat saya merasa kembali ke Indonesia jaman dulu yang digambarkan pada kisah ini. Gak ada sesuatu yang terlalu berlebihan, kata-kata yang terlalu sendu atau keadaan yang terlalu saklek pada ceritanya. Menurut saya ini adalah The Best Realistic Fiction in Indonesian Literature.

Meskipun begitu, ada beberapa hal yang saya catat dalam notes saya mengenai buku ini. Hanya beberapa kesubjektifan dan keegoisan saya dalam menangkap sebuah cerita, namun secara keseluruhan saya suka banget buku ini.

Sudut pandang yang digunakan penulis dalam menyusun cerita ini adalah sudut pandang ibu dan anak, yaitu Marni dan Rahayu. Pada bagian Rahayu, saya agak komplain sedikit. Menurut saya, Rahayu banyak banget tahu tentang Marni, di hal-hal yang kejadiannya sebenernya gak melibatkan Rahayu pada situasi tersebut. Misalnya pada halaman 76. Rahayunya ga ada di tempat, tapi bisa nyeritain secara detail banget kejadian yang dialami Marni. Dalam cerita juga ga disebutkan kapan Marni cerita-cerita sama Rahayu tentang peristiwa itu. Padahal, diceritakan kalau hubungan Rahayu dan Marni tidak pernah akrab.

Selanjutnya adalah cara pandang si tokoh. Saya gak habis pikir sama yang namanya Marni ini. Kalau memang ga tahu tentang Allah, kenapa ga nyari tau? Saya geregetan sama si Marni ini. Tapi, menurut saya itu sesuatu yang menambah keunikan cerita ini. Saya jadi mikir,’iya, ya, ada orang kayak gitu di dunia, menjadikan ga kenal Allah sebagai pembenaran, padahal kan bisa nyari tahu, belajar tentang Allah’.

Overall ceritanya bagus meskipun lama kelamaan ketebak alurnya; pemerasan, penuduhan, penindasan; namun gaya penulisan Okky dan caranya menciptakan sudut pandang sebuah karakter membuat cerita ini jadi menarik. Saya merekomendasikan buku ini untuk para pembaca yang suka sama sesuatu yang berbau kemasyarakatan, sosial, atau sekedar ingin lari dari masa kini menuju kehidupan jaman dahulu yang atmosfernya berbeda.


4 stars - I enjoyed this book, I would recommend it



No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.