Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Monday, November 18, 2013

[Book Review] The Fault in Our Stars

The Fault in Our Stars by John Green

4,50/5 (393,400 rating)

Publisher: Qanita
Translator: Ingrid Dwijani
Release Date: December 2012 by Qanita (first published 2012)
Format: Paperback, 422 pages
Genre: Realistic Fiction, Sick-Lit

Mengidap kanker pada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan. Itulah yang dialami oleh Hazel Grace. Sudah begitu, ibunya terus memaksanya bergabung dengan kelompok penyemangat penderita kanker. Padahal, Hazel malas sekali.

Tapi, kelompok itu toh tak buruk-buruk amat. Di sana ada pasien bernama Augustus Waters. Cowok cakep, pintar, yang naksir Hazel dan menawarinya pergi ke Amsterdam untuk bertemu penulis pujaannya. Bersama Augustus, Hazel mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan tak terlupakan.

Tetap saja, rasa nyeri selalu menuntut untuk dirasakan, seperti halnya kepedihan. Bisakah Augustus dan Hazel tetap optimistis menghadapi penyakit mereka, meskipun waktu yang mereka miliki semakin sedikit setiap harinya?

Novel ini membawa kita ke dunia para karakternya, yang sanggup menghadapi kesulitan dengan humor-humor dan kecerdasan. Di balik semua itu, terdapat renungan mengenai berharganya hidup dan bagaimana kita harus melewatinya.


Berawal dari penasaran sama buku pemenang Best YA Fiction GA Choice Awards 2012. Awalnya, ketika pertama kali ngintip buku ini di Toko Buku, saya ragu buat belinya karena merasa tidak cocok sama bahasa dan genrenya. But after I read Wonder by R.J. Palacio, plus ditambah pengen ngoleksi buku-buku bestseller, saya akhirnya mau beli dan baca buku ini.

Dan ternyata, tepat seperti dugaan saya, bukunya sendiri tidak terlalu mengesankan saya. It was enjoyable to read, but not my favorite one. Okay, Hazel punya penyakit. Dia bertemu sama seseorang laki-laki yang punya kanker juga, August. Mereka berdua tau hidup mereka tidak bertahan lama, especially for Hazel. Lalu mereka jatuh cinta. Lalu August mau ngajak Hazel pergi menemui penulis buku favoritnya. Yang ternyata penulis itu orangnya rese. Dan lain-lainnya. Tapi ya cuma gitu-gitu aja, selain fakta unik bahwa Hazel suka sama sebuah buku yang tidak punya ending dan August yang ternyata selama ini menyimpan penyakitnya yang sebenarnya dari Hazel.

Saya sempat berkaca-kaca ketika bagian August meninggal, karena di awal saya sudah didoktrin bahwa Hazel-lah pihak yang akan meninggalkan August lebih dulu. Dari situ saya merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika sudah mempersiapkan diri supaya orang lain tidak sedih karena kehilangan kita, yang terjadi malah sebaliknya. Orang itu yang meninggalkan kita duluan.

Satu lagi yang saya suka adalah kata pengantarnya. It represents how this book can be a bestseller. Intinya, penulisnya bilang, ‘Jangan mencoba mencari-cari fakta tersembunyi di balik novel ini, karena semuanya adalah murni fiksi’. Mungkin itu kali ya yang membuat buku ini banyak yang disukai. Simpel, biasa, tapi realistis. Tak heran kalau buku ini masuk list Best Realistic Fiction Books bersama buku-buku lainnya seperti The Perks of Being A Wallflower. Saya jadi ingin buku ini dibuat filmnya.

Overall, translate-anya sih oke, ceritanya fine-fine aja, tapi saya tidak bisa fokus sama ceritanya. Mungkin karena gaya penulisannya lepas, tidak ada klimaks atau struktur tertentu. Jadi kadang ketika nyambi baca buku ini sambil makan atau apa (which I do a lot), biasanya setelah selesai baca beberapa paragraf, lupa isi paragraf sebelumnya (bukan bicara halaman tapi udah dalam taraf paragraf), sehingga saya jarang bisa mengimagine-kan scene-scene ceritanya.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you




No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.