Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Friday, November 22, 2013

[Book Review] A Golden Web

A Golden Web by Barbara Quick

3,43/5 (379 rating)

Publisher: Atria
Translator: Maria Masniari Lubis
Release Date: March 1st 2011 by Atria (first published March 19th 2010)
Format: Paperback, 274 pages
Genre: Historical Fiction


Alessandra Giliani adalah seorang remaja berotak cemerlang. Kecintaannya terhadap literatur dan ilmu pengetahuan sangat besar. Sayangnya, dia seorang perempuan. Pada masa itu, kaum perempuan terhormat tidak berhak menjadi apa pun selain menjadi ibu rumah tangga atau biarawati.

Didorong oleh hasrat dan tekadnya yang sangat kuat, dia menempuh perjalanan berbahaya ke Bologna, untuk mewujudkan cita-citanya belajar ilmu kedokteran—meskipun harus menempuh bahaya dan menyamar sebagai seorang pemuda!

Dalam penyamaran di kota yang penuh mata-mata dan kaum cendekia itu, Alessandra menemukan cinta yang tidak pernah dia sangka-sangka. Meskipun aturan dan anggapan umum dalam masyarakat saat itu merendahkan kaumnya, dia berhasil membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama bahkan terkadang melebihi kapasitas yang dimiliki kaum lelaki.

Dalam penggambaran hebat dari kisah yang sudah berusia berabad-abad tentang Alessandra Giliani, ahli anatomi perempuan pertama di dunia, penulis memberikan drama, romansa, dan detail sejarah yang kaya kepada para pembacanya mengenai tokoh utama perempuan yang tidak terlupakan—dan tidak dapat dilupakan.


“Seorang bayi yang lucu berbaring di buaiannya, diawasi oleh pengasuh yang masih menyusui kakak lelaki si bayi yang tampak ceria. Sang ibu susu, terkenal sekaligus disegani karena pengetahuannya tentang tanaman obat-obatan tradisional, telah meletakkan semangkuk air di bawah buaian.”

Yang pertama harus diketahui adalah ini merupakan sebuah novel fiksi sejarah, bukan nonfiksi. Pernyataan ini didasarkan pada catatan dari penulis di akhir bab, yang mengatakan bahwa beberapa tokoh dalam buku ini merupakan karangannya sendiri. Penulis menulis kisah Alessandra berdasarkan riset, dan menambah detail-detail yang tidak ditemukan dalam catatan sejarah.

Membaca buku ini seperti membaca buku klasik. Meskipun saya belum membaca dalam bahasa aslinya (inggris), terjemahanny aja udah ala klasik banget. Setidaknya dialog-dialog yang menyusun buku ini terkesan kaku dan mendayu-dayu.

Overall bukan merupakan salah satu buku favorit saya. Menarik bagaimana melihat kehidupan keluarga Giliani ketika Alessandra masih kecil, bagaimana hubungannya dengan ayahnya dan saudara-saudaranya; terutama kakaknya Nicco. Namun saya merasa ceritanya sendiri tidak begitu kuat.

Bagian ketika Alessandra akhirnya bisa pergi ke Bologna hanya mendapat sedikit porsi dari keseluruhan ceritanya. Jadi, di awal buku saya merasa jengah karena menunggu petualangan Alessandra di Bologna. Ketika sampai pada cerita itu pun, kisahnya menjadi tidak begitu detail.

But overall, saya merekomendasikan buku ini untuk para penyuka novel klasik sebagai salah satu pilihan bacaan di waktu luang.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.