Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Wednesday, November 13, 2013

[Book Review] In A Strange Room

In A Strange Room by Damon Galgut
3.49/5 (1,494 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Yuliany C & Shandy T
Release Date: December 29th 2010 by Elex Media Komputindo (first published 2010)
Format: Paperback, 272 pages
Genre: Literature, Culture

Tiga perjalanan yang dilakukan seorang laki-laki muda ini membawanya melalui Yunani, India, dan Afrika. Ia melakukan perjalanan itu dengan ringan. Siapa pun yang berjalan bersamanya dan orang-orang yang dia temui di tengah perjalanan-seorang asing berparas tampan yang unik, sekumpulan pelancong ceroboh, dan seorang wanita yang bergumul dengan hidupnya-sang Pengikut, sang Pecinta, dan, sang Pelindung.

Meskipun pemuda itu bermaksud baik, setiap perjalanan berakhir dengan bencana. Gabungan tiga perjalanan ini akan mengubah kehidupannya. Sebuah novel tentang keinginan, harapan tertahan, kemarahan, dan belas kasihan. In a Strange Room adalah kebangkitan indah dan tak terlupakan seorang pria yang mencari cinta dan suatu tempat yang disebut rumah.



Ketika membaca sinopsisnya, yang saya harapkan ketika membaca akhir halaman buku ini adalah terjawabnya pertanyaan seperti; “Apa yang berubah dari diri laki-laki tersebut setelah menjalani ketiga perjalanan? Apakah pemuda tersebut akhirnya menemukan rumah yang dicarinya selama ini?” Namun, to tell you the truth, sampai akhir halaman saya tidak berhasil menyusun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

Saya sudah dua kali membaca buku Man Booker Prize, yaitu “The Inheritance of Loss” yang merupakan pemenang Man Booker Prize tahun 2006, dan buku ini yang hanya menjadi Nominator di tahun 2010. Pola dari buku Man Booker Prize yang sudah saya baca ini sama; kata-kata yang bertele-tele, tidak punya orientasi waktu yang jelas, dan susah dimengerti tujuan akhirnya. Seriously, saya tidak habis pikir mengapa kedua buku ini ditulis. Mungkin ada pesan tersembunyi di dalamnya, whatever, but I really can’t get it.

Yang bisa saya simpulkan dari In A Strange Room adalah pengalaman seorang pemuda bernama Damon yang senang travelling. Dalam perjalanannya itu, dia ketemu sama beberapa orang yang bersinggungan hidup dengannya selama perjalanan. Saya tidak bilang bahwa karakter orang-orang itu menarik, atau waktu-waktu dimana kehidupan orang-orang ini dengan kehidupan Damon bersatu cukup seru untuk diikuti. Saya sempat ogah-ogahan membacanya dan memikirkan berhenti di tengah jalan.

Meskipun begitu, menurut saya pada sepertiga bagian terakhir, ketika Damon berperan sebagai ‘Pelindung’, ceritanya mulai sedikit meningkat seru. Pada bagian ini, Damon pergi bersama seorang temannya yang mengalami sakit parah yang memungkinkan umurnya tidak lama lagi, Anna. Bagian yang bagus menurut saya, karena kondisi psikologis Anna yang cenderung ingin mengakhiri hidup serta penyakitnya diceritakan cukup kuat oleh Damon, sehingga saya pun penasaran mengikuti kondisi Anna. 

Pada bagian terakhir ini pula, Damon bertemu seseorang yang menurut saya karakter paling kuat dan berarti, sekaligus karakter favorit saya dalam buku ini, yaitu Caroline. Kesukaan saya terhadap tokoh Caroline saya refleksikan pada kalimat berikut;

“Suatu pagi hidup mereka dipertemukan dan dilebur oleh takdir. Caroline bisa saja pergi sewaktu mendengar Damon berteriak, atau menjaga jarak seperti yang dilakukan orang lain, dan mungkin sekarang perempuan itu berharap berbuat demikian dulu. Tapi ia malah naik, masuk ke kamar, dan sejak saat itu Caroline mendapat tempat di sudut hidup Damon.” (halaman 252-253)

Sebegitu rendahnya penilaian saya atas buku ini, saya mencoba mencari second opinion di Goodreads. Beberapa yang ulasannya saya baca mengatakan kagum atas kemampuan penulis (Damon) dalam melihat dirinya sendiri, dan melihat bagaimana dirinya berubah selama perjalanan tersebut. Tetapi bagi saya, banyak penulis lain yang menulis kisah perjalanannya dan melihat bagaimana perjalanan tersebut berefek pada kehidupan mereka, dan menuliskannya kembali dalam sebuah buku yang mudah dimengerti. I think I just can’t get Damon’s high writing style.

“Apa yang bisa dilakukan terhadap cerita seperti ini? Tidak bertema, tidak ada pelajaran yang dapat dipetik, kecuali pengetahuan bahwa petir bisa menyambar dari langit yang cerah suatu pagi dan menghancurkan semua yang telah kau bangun, semua yang telah kau perhitungkan, meninggalkan puing-puing dan tidak menyisakan arti.” (Halaman 255-256)




2 stars - I didn't really like this book, and wouldn't recommend it




No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.