Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Thursday, November 21, 2013

[Book Review] Jakarta Love Story

Jakarta Love Story by Rudy Efendy
4,29/5 (17 rating)

Publisher: Diva Press
Release Date: August 1st 2013 by Diva Press
Format: Paperback, 480 pages
Genre: Indonesian Romance


Ini kisah yang terjadi di bawah langit Jakarta....

Ketika pertama kali bertemu dengan Fabio di Lapangan Banteng, Rifai tidak pernah membayangkan hubungannya dengan pemuda itu akan berlanjut. Ia masih doyan wanita. Masih terangsang dan tergiur melihat perempuan molek. Suatu hari ia pasti akan menikah.


Tapi bukankah cinta tidak pernah bisa memilih? Sama halnya tidak bisa memilih dengan siapa hati akan tertambat. Rifai baru terhenyak tatkala hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lain. Dan hatinya mendadak terasa kosong ketika Fabio tiba-tiba menghilang tanpa jejak....

Sampai ketika secara tidak sengaja Audric Dominique Benoit mempertemukan mereka kembali...

Adakah cinta terlarang ini cukup kokoh menghadapi kesulitan demi kesulitan yang datang menerjang silih berganti? Atau malah meluluhlantakkan cinta dan hidup mereka....

Dramatis, penuh haru, dan menyentak emosi, itulah kesan yang ditawarkan novel apik tentang kisah cinta sepasang pria ini. Dengan penyajian yang mengalir, novel ini menunjukkan kepada kita bahwa cinta sejati juga dimiliki oleh pasangan yang sering dipandang sebelah mata.


Selesai membaca buku ini selama satu hari setelah menunda membacanya selama hampir satu bulan. Pada awalnya, saya belum siap dengan cerita yang gak biasa ini sehingga harus mogok setelah membaca beberapa halaman pertama. Setelah dirasa siap, saya akhirnya bisa tenggelam dalam ceritanya dan tidak berhenti membalik halamannya.

Saya suka sama gaya penulisannya. Menurut saya semua ada proporsinya dan masih dalam batas wajar. Ada dialog-dialog romantis yang gombalnya minta ampun, ada kalimat-kalimat penuh emosi yang berasal dari perasaan yang terdalam, juga guyonan yang membuat saya tertawa. Semuanya terasa hidup, tidak ada yang terasa nanggung meskipun cerita ini ditulis dalam jumlah halaman yang hampir mencapai lima ratus halaman.

Alurnya pun kadang cepat kadang melambat di waktu yang tepat, meskipun lebih banyak alur cepatnya. Contohnya, penulis tidak berlama-lama di adegan perkenalan, namun langsung membangun adegan yang menunjukkan keistimewaan hubungan antara Rifai dan Fabio. Buat saya itu tidak masalah karena ceritanya jadi lugas, tidak bertele-tele.

Saya suka menbaca judul tiap babnya, hal yang jarang sekali saya lakukan ketika membaca. Dalam buku ini, setiap judul babnya seperti menjadi bagian dalam ceritanya, dan sangat membantu sekali mendalami isi ceritanya. Namun di beberapa bab saya risih membaca judulnya karena tidak sesuai dengan esensi bab tersebut, misalnya;

  • Pada bab 17 yang diberi judul “Perang Dingin”. Perang dingin itu adalah suatu pertengkaran dimana kedua belah pihak tidak saling berbicara, kan? Namun di sini Fabio akhirnya masih mau berbicara dengan Rifai, sehingga saya rasa Perang Dingin kurang tepat untuk dijadikan judul bab yang singkat ini. Lebih tepat diberi judul “Perasaan Fabio”, karena di bab ini Fabio akhirnya mengungkapkan perasaannya atas keraguan dari hubungan mereka.
  • Pada bab 19 judul bab yang diberikan adalah “Kepergian Fabio”. Bab ini yang amat sangat membuat saya risih karena ternyata isinya tidak sefrontal judul babnya. Bab yang terdiri atas kurang dari 3 halaman ini berakhir dengan bersatunya kembali Rifai dengan Fabio.
  • Bab yang juga sangat membuat saya risih adalah bab 24, “Melabrak Wira”. Bab yang terbilang cukup panjang ini seharusnya mengambil judul yang berhubungan dengan reuni sekolah ataupun Jenny. Adegan melabrak Wira yang menjadi judul bab ini berada di awal dengan porsi yang sedikit, sehingga tidak penting untuk dijadikan judul bab.
  • Ketika saya membaca judul bab 31, “Luka yang Kembali Menganga”, saya mengantisipasi cerita yang mellow, dan sedikit menguras kesedihan. Namun saya kecewa karena isi babnya tidak semellow judulnya. Bahkan bab ini merupakan bab yang cukup seru dan bisa membuat saya tertawa.
  • Berkebalikan dengan bab sebelumnya, judul bab 39, “Di Luar Dugaan” menggambarkan hal yang jauh dibawah tragisnya bab ini. Saya pikir, ada sesuatu yang seru yang akan terjadi namun tidak akan menimbulkan kesedihan, hanya konflik dengan sedikit kekagetan. Ternyata konflik tersebut rupanya sungguh tragis dan menimbulkan air mata. Sebenarnya agak cocok juga sih, karena isi bab ini ‘di luar dugaan’ saya yang mengira kalau yang bakal terjadi hanya akan membuat kaget, bukan membuat saya berkaca-kaca.

Selain itu ada beberapa kesalahan:
halaman 44 baris 11; salah acuan, ‘Rifai’ seharusnya diganti ‘Fabio’
halaman 87; kalimat rancu: “ Dan, pintu….”, mungkin kata ‘kembali’ di akhir kalimat seharusnya dihilangkan
halaman 255 baris 17; kelebihan tanda baca, (:) harusnya dihilangkan
halaman 262 baris 5; salah acuan, ‘Rifai’ seharusnya diganti ‘Fabio’
halaman 281 baris 16; ‘the’ seharusnya ‘the’
halaman 359 baris 22; salah spasi, seharusnya ‘Fabio berguncang’
halaman 405 baris 2 dari bawah; salah acuan, ‘Fabio’ seharusnya diganti ‘Rifai’
halaman 435 baris 15; ‘Fabuo’ seharusnya ‘Fabio’
halaman 471 judul bab 41; ‘unforgetable’ seharusnya ‘unforgettable’

Adegan favorit saya ada pada halaman 352, yang membuat saya tertawa.

Overall saya kesulitan menerima konsep cerita ini karena bertentangan dengan beberapa prinsip saya; seperti bertindak egois dengan mengedepankan perasaan sendiri daripada hal yang benar, yang diatur agama, serta menyakiti perasaan orang lain: Jenny dan mama Rifai. Seperti yang pernah mama Rifai bilang, semuanya bisa berubah andai Rifai mau berusaha. Dan seperti yang orang-orang sering bilang; tidak ada yang namanya usaha yang gagal, hanya kita saja yang kurang usahanya.

“Rifai memperlambat laju kendaraan dan memutuskan untuk menepi di sisi kanan jalan. Ia mengerjapkan mata, memandang sekeliling.” (halaman 1)



1 comment:

  1. Tks Fenny buat reviewnya. Membaca kisah dlm JLS mmg harus dengan pikiran terbuka, melihat cinta yg dialami tokoh2 di dlmnya ada adanya. Novel JLS ditulis untuk memperlihatkan cinta seperti itu, cinta yg meskipun berbeda dari kaca mata org pada umumnya, eksis di dunia ini, tanpa menghakimi, tanpa mengatakan ini yg salah atau ini yg benar, sebab cinta itu tdk pernah
    salah.

    Oh ya, mengenai judul setiap bab da typo, itu semua bkn dari penulis, tp dari editor penerbit. Naskah yg diserahkan tanpa ada judul di setiap bab. Catatan yg bgs buat penerbit Diva Press.


    Sekali lg, terima kasih buat reviewnya ya! ( Rudy Efendy)

    ReplyDelete

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.