Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Thursday, November 14, 2013

[Book Review] Pay It Forward

Pay It Forward by Catherine Ryan Hyde

4.06/5 (7,679 rating)

Publisher: Gramedia
Translator: Diniarty Pandia
Release Date: 2001 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published February 3rd 2000)
Format: Paperback, 416 pages
Genre: Inspirational

Kisah tentang kebaikan, kasih sayang, dan cinta. Tentang bagaimana seorang anak berusia dua belas tahun dapat mengubah dunia menjadi lebih baik dengan rencananya yang sederhana.

Trevor McKinney tidak meminta balasan dari orang-orang yang ditolongnya, dia malah meminta mereka membalasnya ke orang lain. Berkat rencananya itu, terjadilah rangkaian kebaikan di seluruh dunia. Rangkaian yang menyebabkan umat manusia tidak lagi bersikap egois, melainkan saling menolong.


Saya tahu buku ini ada setelah melihat filmnya di saluran HBO. Pay It Forward bercerita tentang sebuah konsep untuk merubah dunia dimana seseorang (diharapkan) membalas kebaikan yang diterimanya dari seseorang ke tiga orang lainnya, dimana tiga orang lainnya yang menerima kebaikan ini masing-masing juga harus membalas ke tiga orang lainnya dan seterusnya, seperti MLM kebaikan. Sinopsis film ini membuat saya terkesan dan ingin membaca buku aslinya, meskipun edisi bahasa Indonesianya sudah sangat lama diterbitkan Gramedia, sekitar tahun 2001. Beruntung saya berhasil mendapatkannya di sebuah toko online bekas dengan harga murah sekali.

Meskipun saya belum menonton filmnya sampai akhir, saya sepertinya akan mengatakan bahwa saya lebih suka versi filmnya daripada bukunya. Ketika awal membaca bukunya, segala sesuatunya terasa abstrak, dan saya mengharapkan lebih dari apa yang saya baca. Saya berharap bukunya akan lebih mendetail, penuh perasaan, namun kenyataannya tidak seperti itu. Gaya penceritaan yang tidak terfokus ke satu tokoh, menggunakan banyak sekali sudut pandang sangat membuat bingung dan menghilangkan substansi ceritanya. I found some details which is not necessary for the whole story, which makes me delayed reading the book, sometimes. Saya merasa tidak ada page-turner, dan kadang saya menemukan pikiran saya kosong padahal sedang membaca beberapa kalimat dalam buku ini.


Hal yang juga mengecewakan saya adalah kurangnya porsi Pay It Forward yang saya harapkan. Banyak sekali halaman-halaman yang menceritakan hubungan antara Arlene (ibu Trevor) dengan Reuben (guru ilmu social Trevor di sekolah). I really get sick of their romance. Sudah cukup buruk karena cerita tentang hubungan dua orang ini mendominasi hampir seluruh buku, ditambah lagi dengan karakter keduanya yang sangat menyebalkan. 


Arlene digambarkan sebagai seseorang perempuan dewasa yang terombang-ambing ketidakpastian akan kembalinya pacar lamanya (ayah kandung Trevor), Ricky. Sikap Arlene dalam menyikapi hubungannya dengan Reuben ditengah-tengah kegalauannya ini sungguh menjengkelkan. Kadang ia merasa rendah diri, tidak pantas, namun tetap merayu dan berharap Reuben mau menerimanya. Lalu kemudian Arlene tidak tahu apa yang dia inginkan untuk hubungannya dengan Reuben (GRRrrr!).


Sifat Reuben pun sama saja, kalau tidak bisa dibilang cerminan dari diri Arlene. Reuben yang tidak percaya diri karena wajahnya rusak, kadang-kadang mau berhubungan dengan Arlene, namun kadang-kadang menjauh. Saya benar-benar tidak mengerti apa mau mereka berdua, sungguh sulit untuk memulai hubungan dewasa yang sehat, selalu berputar-putar pada hal yang tidak penting, dan menutup esensi mengenai Pay It Forward. Sometimes I think that Katherine (the author) actually want to make a love story about Arlene and Reuben, not an inspirational story about a child who wants to change a better world with his simple idea.


Meskipun saya kecewa dengan keseluruhan ceritanya (termasuk endingnya, yang menurut saya lebih bagus ending di filmnya), saya suka ide Pay It Forward, sehingga tidak tega memberikan rating kurang dari tiga untuk buku ini. Terlepas dari kekurangannya, buku ini tetap menjadi salah satu rekomendasi menarik dan pembaca dapat menangkap arti yang tersurat dalam buku ini, tentang kebaikan, harapan, dan keyakinan.



Mungkin suatu hari nanti aku akan punya anak-anak sendiri. Kuharap begitu. Jika itu terjadi, mereka barangkali akan bertanya apa peranku dalam gerakan yang mengubah dunia ini. Dan karena aku bukan diriku yang dulu, aku akan memberitahukan yang sebenarnya pada mereka. (halaman 1)


2 stars - I didn't really like this book, and wouldn't recommend it




No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.