Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Thursday, November 28, 2013

[Book Review] Wuthering Heights

Wuthering Heights by Emily Bronte

Publisher: Qanita
Format: Paperback, 584 pages
Genre: Classic


Heathcliff tergila-gila pada Catherine Earnshaw semenjak mereka baru saling mengenal. Hanya Catherine yang dapat membuat pria dingin itu menangis dan tertawa. Namun, Catherine ternyata lebih memilih Edgar Linton, bangsawan kaya yang menjadi saingan Heathcliff selama bertahun-tahun. Semuanya karena kelas sosial Heathcliff yang rendah, yang membuatnya tak pantas bersanding dengan Catherine. Heathcliff bersumpah tidak akan mati sebelum mengobrak-abrik hidup keduanya dan merenggut harta kekayaan mereka; mansion Wuthering Heights termasuk di antaranya.

Dendam membuat Heathcliff menjadi pria tamak, serakah, dan tak berperasaan. Ia bahkan lebih mengerikan dari ular, lebih berbahaya dari binatang liar. Dan, itu semua karena satu hal: cinta. Namun dapatkah cintanya mengalahkan kegelapannya? Terlebih ketika Catherine tak mungkin bisa dimilikinya lagi.


Sebuah kisah klasik yang kelam dan penuh kekerasan.

“1801—Aku baru saja kembali dari rumah seorang tuan tanah. Ia adalah tetanggaku yang tinggal menyendiri, yang nantinya akan mendatangkan banyak kesulitan untukku.”

Saya kurang suka sama terjemahannya, entah karena memang bahasa aslinya sulit dimengerti, atau cetakan edisi ini kurang baik. Saya sering bingung ketika membaca dialog-dialognya karena tidak jelas antara siapa ‘dia’ yang sedang dibicarakan.

Overall ceritanya penuh kegilaan, meskipun di awal-awal cerita, belum kerasa feelingnya. Cinta Heathcliff baru membara setelah Catherine meninggal, sehingga saya nggak yakin Heathcliff tergila-gila pada Catherine sejak pertama kali mereka bertemu. Saya terkadang bingung sama sifat tokoh-tokoh dalam buku ini, yang mencintai seseorang dengan membenci dan balas dendam.

Cerita yang detail hanya berkisar pada adegan-adegan di Wuthering Heights dan Thrushcross Grange. Ada beberapa detail yang terlewat dan membuat saya kecewa; seperti misalnya alasan kenapa Isabella tiba-tiba berbalik membenci Heathcliff.
Pada tiga perempat halaman pertama, ceritanya cukup menarik untuk diikuti namun tidak menimbulkan kesan yang kuat.

Setelah seperempat halaman terakhir, saya baru mulai nyaman dengan terjemahan dan karakter khas para tokohnya.
Sebuah cerita yang menarik, namun sayangnya tidak bisa merebut hati saya.


3 stars - This book was OK, read it if it sounds good to you



No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.