Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Wednesday, December 25, 2013

The Inheritance of Loss - Kiran Desai


In a crumbling, isolated house at the foot of Mount Kanchenjunga in the Himalayas lives an embittered judge who wants only to retire in peace, when his orphaned granddaughter, Sai, arrives on his doorstep. The judge’s cook watches over her distractedly, for his thoughts are often on his son, Biju, who is hopscotching from one gritty New York restaurant to another. Kiran Desai’s brilliant novel, published to huge acclaim, is a story of joy and despair. Her characters face numerous choices that majestically illuminate the consequences of colonialism as it collides with the modern world.

Comments
Satu lagi buku pemenang Man Booker Prize yang saya baca.
Jujur, saya nggak ngerti sama ceritanya. Terjemahannya, atau kata-katanya nggak masuk akal, kebanyakan hanya dialog-dialog nggak jelas yang susah dimengerti. Saya nggak ngerti kenapa buku ini bisa memenangi Man Booker Prize, namun yang jelas, sulit bagi saya mengikuti alur ceritanya. Saya yakin sebenarnya ceritanya menarik dan dalam, namun saya gagal mencermati hal-hal yang ditulis oleh Kiran Desai.
Yang saya suka dari buku ini adalah latar belakang kebudayaan dan social yang kental, terutama ketika mengisahkan tentang Biju, si anak juru masak yang belajar ke Amerika. Lewat Biju saya mendapat kisah menarik yang cukup jelas bagaimana para pelajar asing di Amerika bersosialisasi.
Kisah cinta antara Said an Gyan tidak cukup mendapat porsi di sini, yang membuat saya heran karena kesan pertama saya sebelum membaca buku ini adalah fokus ceritanya akan seputar kisah Sai dan Gyan. Justru saya tidak mengerti bagian kisah Sai dan Gyan; nggak ngerti sebenernya mereka ini mau ngapain di cerita ini. Overall semuanya abstrak; tidak ada fokus pasti apa yang ingin disampaikan buku ini.
Saya tidak cukup menyukai buku ini, namun saya tertarik membacanya ulang di waktu senggang, sehingga bisa membandingkan pendapat saya ketika saya membacanya untuk yang kedua kali.
Kata-kata favorit saya;
“Orang-orang itu duduk mengaduk kemarahan mereka, mengetahui, sebagaimana semua orang lain di nergara ini, pada waktunya masing-masing, bahwa kebencian lama bisa dibangkitkan tanpa batas. Dan ketika mereka menggalinya dari kubur, mereka mendapati kebencian itu murni, jauh lebih murni daripada sebelumnya, karena duka cita masa lalu sudah hilang. Hanya tinggal kemarahan yang tertinggal, tersaring, terbebaskan.”
“India terlalu kacau untuk keadilan, keadilan hanya akan berakhir dengan penghinaan bagi pihak berwenang. Dia telah melaksanakan kewajibannya seperti kewajiban warga Negara lainnya untuk melaporkan masalah pada polisi, dan sekarang itu bukan lagi tanggung jawabnya. Beri sedikit saja pada orang-orang ini dan setelah itu, kita akan mendapati diri menyokong seisi keluarga selamanya,…”

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.