Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Wednesday, December 25, 2013

Wake (Dream Catcher #1) - Lisa McMann


For seventeen-year-old Janie, getting sucked into other people's dreams is getting old. Especially the falling dreams, the naked-but-nobody-notices dreams, and the sex-crazed dreams. Janie's seen enough fantasy booty to last her a lifetime.
She can't tell anybody about what she does they'd never believe her, or worse, they'd think she's a freak. So Janie lives on the fringe, cursed with an ability she doesn't want and can’t control.
Then she falls into a gruesome nightmare, one that chills her to the bone. For the first time, Janie is more than a witness to someone else's twisted psyche. She is a participant.

Comments
Wow, satu hal yang pasti dari serial ini: alurnya cepat dan lugas. Awalnya saya pikir akan disuguhi penjelasan-penjelasan mengenai mimpi, dreamcatcher, dan sebagainya, namun ternyata ceritanya langsung ke adegan-adegan penerobosan mimpi tanpa ada penjelasan yang cukup. Di awal bab mungkin akan keteteran mengikuti jalan ceritanya yang cepat, namun semakin kebelakang, pembaca akan semakin dibuat penasaran oleh kisah Janie.
Jujur saja, saya sedikit kecewa karena ceritanya tidak se-dark kelihatannya, dan tidak ada kalimat panjang penuh penjelasan dan uraian, namun itu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi novel ini. Kalimatnya pendek-pendek. Alur ceritanya dibuat perjam, namun berlangsung cepat sekali. Saya antara meragukan kemampuan penulis menyusun adegan ceritanya, dengan memberikan aplause karena penulis berhasil membuat cerita yang simpel, cepat, dan lugas.
Gaya penulisan Lisa McMann (penulis) yang menjadikan buku ini menjadi salah satu favorit saya. Lisa menulis dengan tidak menghamburkan banyak kata-kata, cukup dengan menulis apa yang terjadi saat itu. Banyak kalimat di buku ini diawali dengan kata kerja. Misalnya saja; “Menggosok-gosok jari Janie..”, “Mengeluarkan cokelat Snickers..”, “Mengalihkan perhatian guru..”, gaya penulisan seperti ini agak janggal, dan membuat kesal karena kalimatnya yang pendek-pendek, namun bisa membuat saya selesai membaca buku ini hanya kurang dari beberapa jam.
Seperti yang sudah saya bilang, ceritanya tidak begitu rumit dan hebat, tidak seperti yang digambarkan oleh sinopsisnya. Namun, yang membuat saya terus membaca sampai halaman akhir adalah rasa penasaran saya akan perubahan ceritanya. Saya pikir, di akhir cerita akan ada sesuatu yang lebih kompleks dan dark yang dialami para tokohnya.
Saya suka bagian ketika Janie menerobos ke mimpi orang lain. It’s a good random thing. Meskipun terkadang mimpi yang diterobos Janie ga jelas dan kurang detail. Saya juga suka Cabel, cowok yang terlibat dalam kehidupan Janie. Menurut saya, karakter Cabel lebih kuat daripada Janie sendiri.
Saya punya sedikit kekesalan terhadap hubungan para tokohnya. Misalnya Ibu Janie yang kesannya sama sekali tidak mempedulikan anaknya serta sikap Janie terhadap Cabel kurang konsisten. Menurut saya ini implikasi dari gaya penulisan yang per adegan, sehingga tidak ada ruang untuk mengeksplorasi perasaan para tokohnya.

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.