Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Wednesday, December 25, 2013

What Happened To Goodbye - Sarah Dessen

Who is the real McLean?

Since her parents' bitter divorce, McLean and her dad, a restaurant consultant, have been on the move-four towns in two years. Estranged from her mother and her mother's new family, McLean has followed her dad in leaving the unhappy past behind. And each new place gives her a chance to try out a new persona: from cheerleader to drama diva. But now, for the first time, McLean discovers a desire to stay in one place and just be herself, whoever that is. Perhaps Dave, the guy next door, can help her find out.

Combining Sarah Dessen's trademark graceful writing, great characters, and compelling storytelling, What Happened to Goodbye is irresistible reading.

Comments
“Mejanya lengket, dan ada noda kotor di gelas minumku, dan kami sudah duduk selama sepuluh menit tanpa adanya tanda-tanda pelayan akan datang. Walau begitu, aku tahu apa yang akan ayah katakan. Hal ini, adalah bagian dari rutinitas.”

Karena sering disebut-sebut dan dielu-elukan bukunya oleh teman-teman Blogger Buku Indonesia, saya jadi penasaran sama Sarah Dessen. Covernya yang cantik-cantik dan rating buku-bukunya yang bagus membuat saya jatuh cinta dengan penulis ini bahkan sebelum saya memiliki ataupun membaca bukunya.
Jadi ketika Elex Media menerbitkan terjemahan bukunya yang berjudul What Happened to Goodbye, saya langsung lari ke toko terdekat dan membelinya. Covernya keren! Saya suka. Layoutnya pun bagus; rapi dan elegan. Saya jadi berharap banyak sama buku ini.
Namun ternyata saya harus kecewa karena ceritanya tidak seistimewa covernya. Ini adalah beberapa catatan yang saya tulis selagi membaca buku ini;
• Saya terganggu dengan kata gantinya. Misalnya, Ibu Riley yang bernama Mrs. Benson yang dipanggil dengan kedua nama itu pada halaman 341 sampai halaman 345. Inkonsistensi. Pada halaman 346, ‘memulainys’ seharusnya menjadi ‘memulainya’. Pada halaman 423, ‘hinguku’ seharusnya ‘hidungku’.
• Pengalihan plotnya kurang bagus. Contohnya, pada halaman 355, kejadian setelah makan malam di-rewind kembali, padahal sebelumnya baru aja peristiwa makan malam tersebut berakhir di bab sebelumnya. I mean; kenapa nggak sekalian aja diceritain pas sebelumnya biar peristiwanya runut.
• Pengalihan plot terjadi lagi pada bab enam belas. Sesaat tampaknya McLean sudah kembali ke restoran di Lakeview, namun pada halaman 423, cerita beralih pada hari sebelumnya ketika McLean masih di Poisedon. Lalu di halaman 435, kembali lagi ke Lakeview. *WTH?!
• MCLEAN IS SO ANNOYING! Saya kesal membaca tumpahan keluh kesah dia tentang ibunya. Betapa bencinya dia sama ibunya, tapi please deh, kalau benci kenapa sering diomongin? Kenapa masih sering dipikirin? Saya nggak habis pikir sama McLean ini. Kerjaannya ngeluh terus tapi nggak mau nyari solusi. Ngulang-ngulang terus kalau dia nggak akan bisa jadi dirinya sendiri. Annoying banget. Sekalinya dia mau bergerak, dia malah bergerak kabur, bukan bergerak menyelesaikan masalahnya sendiri.
• I didn’t really understand her problem. Saya tidak melihat adanya hubungan yang kuat antara perceraian kedua orang tua dengan krisis identitas diri. Saya mengerti kalau McLean marah karena ibunya menghancurkan keluarganya yang dulu. Lalu dia harus sering pindah mengikuti ayahnya. Tapi untuk berakting di setiap tempat yang dia datangi? Rasanya terlalu berlebihan. Rasanya hanya seperti anak kecil yang sedang melakukan permainan psikologis, bukan seorang remaja yang getir karena permasalahan hidup. Remaja melakukan perubahan signifikan namun konstan ketika ada sesuatu yang mengguncang perasaannya, bukannya berubah menjadi orang-orang yang berbeda setiap waktunya. Tambahan lagi, saya nggak habis pikir cuma gara-gara temen-temennya tau akun sosial medianya dengan berbagai nama , dia langsung kalap. Duh, girl, you can never be tough, right? Denger omongan yang gak jelas sedikit aja dia langsung sentimen dan kabur (lagi).
• Kata-kata di sinopsis menurut saya tidak relevan; “Jadi satu-satunya yang kuubah adalah namaku; Eliza, Lizbeth, dan Beth, …”; sedangkan jelas-jelas dia tidak hanya merubah nama, tapi juga merubah kepribadiannya sesuai dengan kesan yang ingin ia timbulkan pada nama tersebut.

Terlepas dari apa yang saya sebutkan di atas, saya akui kalau gaya penulisan Sarah Dessen detail sekali dan bisa dengan tepat merekonstruksikan sebuah ide yang lain dari biasanya ke sebuah cerita. Misalnya proyek miniatur kota yang entah bagaimana menjadi salah satu unsur cerita yang penting dalam buku ini.


No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.