Wordpress (Book Blog) mybookstacks.wordpress.com Twitter @fennyusuf Facebook Fenny Herawati Yusuf

I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.

If you have any question about books and authors, please feel free to contact me at fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com. I will reply your email soon.

Sunday, April 13, 2014

Ketika Penulis Mereview Buku, oleh Petronela Putri




Ketika pertama kali daftar untuk ikut event Guest Posting, sebenernya gue bahkan belum punya rencana sama sekali akan menuliskan tentang apa. Memang, sih, ceritanya postingan bebas. Baik review buku, list buku favorit, artikel, opini, atau apa aja selama berhubungan dengan buku. Tapi tetap aja nggak ada ide, hahaha. Sampai suatu hari Bajay Jabodetabek (grup Whatsapp member BBI regional Jabodetabek) ngebahas tentang cara seorang penulis mereview buku.
            Ini agak menarik buat gue, karena selain ngereview, gue juga menulis novel sendiri. Buat gue pribadi, membaca dan menulis adalah dua hal berbeda. Membaca novel sehari-hari ya, maksudnya. Bukan membaca/proofread naskah teman yang masih mentah. Ketika gue menulis, maka gue seorang penulis. Ketika membaca, maka gue seorang pembaca. Gue sengaja membedakan kedua posisi itu, biar nggak ada yang salah paham atau salah tanggap ketika membaca review yang gue tulis.
            Jujur, nggak semua review yang gue tulis itu bagus-bagus. Kalau mau baca sila berkunjung ke http://petronelaputribooks.wordpress.com :p (iya, ini iklan). Gue termasuk orang yang agak jujur ketika menulis review. Kenapa ‘agak’? Kenapa nggak sekalian aja bilang jujur? Hahaha, ya maksudnya gini, gue kadang takut menyakiti hati si penulis (baik yang gue kenal atau nggak), makanya gue menuliskan reviewnya dengan bahasa yang halus. Tapi.. Ada tapinya! Walau bahasanya halus (menurut gue), review gue biasanya jujur. Jadi kalau bukunya memuaskan, ya akan gue tuliskan. Kalau bukunya nggak banget, juga akan gue tuliskan. Tapi bahasanya sebisa mungkin nggak menyakiti pihak mana pun. Malah kadang di akhir review gue sempet-sempetnya juga ngucapin maaf atas kesalahan kata-kata jika ada yang merasa tersinggung. :)
            Kata seorang teman, sih, “elo kan penulis. Nggak takut ngereview buku orang terus hasilnya ditulis nggak memuaskan atau jelek atau apa? Gimana kalau nanti buku lo juga digituin sama orang lain?”
            Begini, menulis review itu berbeda dengan berbuat jahat. Dalam hidup, ketika kalian berbuat jahat pada orang lain, suatu hari kejahatan yang lebih parah akan menimpa kalian –percaya nggak percaya. Karena gue termasuk orang yang percaya bahwa karma does exist. Tapi sekali lagi, ini dua hal yang berbeda. Menulis review itu buat gue nggak ada karmanya (bahkan pernah membaca review yang isinya maki-makian mengatakan karya si penulis sampah dan semacamnya. Itu memang haknya si pembaca, kata teman-teman sesama resensor. Tapi gue pribadi sebenarnya nggak suka dengan gaya review seperti itu. Bahkan lagi, ada review yang memaki dan mengejek fisik si penulis. Iya, dunia review itu sadis, Bung). Ketika gue menuliskan review sebuah buku, berkata bukunya kurang menarik, kurang bagus atau nggak banget, gue yakin nggak mungkin juga penulisnya repot-repot menuliskan review jelek tentang buku gue. Nope, itu berlebihan.
            Tapi jika memang ada review tidak mengenakkan tentang buku gue sendiri, anggaplah salah satu dari dua hal ini yang terjadi.
·         Karya gue memang masih kurang dan gue harus banyak belajar lagi, atau..
·         Karya gue nggak sesuai sama selera bacaan si penulis review.
Buat gue pribadi, seluruh review sama aja :D pasti ada kritik dan ada saran membangun. Itu wajar dalam dunia penulisan. Nggak ada karya yang benar-benar sempurna. Bahkan karya dari penulis yang juara lomba menulis sekali pun masih berpeluang ketiban kritik sana-sini. Satu-satunya cara adalah menerima dan berlapang dada bahwa kita nggak sempurna, masih butuh pendapat dan masukan dari orang lain :)
Lalu ada juga yang bilang gini, “gimana kalau seandainya penulisnya nggak terima di review begitu (kurang memuaskan)? Terus ujung-ujungnya komenin review lo? Terus kalo ribut cuma gara-gara review?”
Simpel aja, berarti doi kurang berlapang dada dalam menerima apresiasi pembaca atas karyanya. Gimana mau maju, kalau sama kritik saran orang lain aja nggak kuat? Memangnya jadi penulis itu gampang kayak masak mie instan? :))  
Nah, jadi yaaa.. tuliskanlah review apa adanya. Tanpa mengurangi, tanpa melebihkan. Sebab katanya, review adalah jalan yang paling mudah untuk berkomunikasi dengan penulis dan cara paling efektif untuk memberikan kritik & saran yang membangun. Hehe.
Berikut ada kutipan interview singkat gue dengan beberapa teman penulis yang juga senang membaca. Gue tahu mereka senang sekali membaca, dan beberapa kali menuliskan reviewnya di blog pribadi maupun Goodreads, jadi gue kira nggak ada salahnya mengajak mereka sharing sedikit.
Inilah tanggapan mereka mengenai penulis yang menuliskan review (buku orang lain). Here we go..


Image
Dini Novita Sari - @dinoynovita
(Blogger, Member BBI, Penulis Get Lost)
1.     Ada rasa segan nggak ketika menuliskan review untuk buku penulis lain? Karena posisinya, kan, sebagai sesama penulis.
Nggak ada, karena emang duluan jadi pembaca dan & resensor baru bener-bener jadi penulis atau merilis buku. Jadi ya biasa aja :D
2.    Ada perbedaan nggak biasanya ketika mereview buku dari penulis lain yang nggak kalian kenal, dengan buku teman sendiri?
Hm, jujur nih kalo itu bukunya temen deket emang ada bedanya dikit. Haha! Tetep jujur kok, kekurangannya tetep diulas. Tapi yang jadi kelebihannya juga jadi agak dipromoin.
3.    Menurut kalian, ketika mereview buku seorang teman (yang notabene dikenal atau bahkan dekat), lebih baik nyelekit tapi jujur atau halus tapi menutup-nutupi kekurangan karya tersebut? Mengapa?
Jujur tapi nggak nyelekit. Huahaha. Yah, standar sih kalo aku, kasih tahu kekurangannya tapi santun nggak pakai marah-marah. Ups pernah juga marah-marah pas baca buku temen dan berantakan, tapi biasanya marahku ditujukan ke pihak penerbit yang menangani naskahnya :) Intinya, tetep jujur dan nggak menutupi kekurangan-kekurangannya.
4.   Punya pengalaman tidak mengenakkan ketika mereview buku teman/orang yang kalian kenal? Jika ya, bisa ceritakan sedikit?
Pernah, baru-baru ini. Dibilang temen ya baru kenalan bentar pas acara meet & greet penerbit dan sempet mentionan beberapa kali. Kuanggap kita temenan meski nggak deket. Nggak enaknya? Aku kasih bintang 2 dan salah satunya kubilang konfliknya bertele-tele. Eh dia malah jelasin (atau ngajarin?) tentang teknik penulisan yang dia pakai dan kait-kaitin dengan profesiku sebagai editor harusnya tahu gituan. Huft.
5.   Apa kalian selalu menuliskan review untuk buku yang kalian baca (baik via blog atau Goodreads)? Jika tidak, buku seperti apa yang biasanya enggan untuk kalian tuliskan reviewnya?
Nggak selalu bikin review lengkap sih setelah baca. Pernah habis baca buku yang aku suka, tapi nggak sempet review. Tapi, sih, di GR aku kasih komen singkat nggak cuma bintang. Ya, minimal beberapa kalimat kesannya setelah baca. Kalo sempat ya bikin ulasan lengkap di blog.
6.   Apa review lain mempengaruhi minat kalian terhadap sebuah buku? Maksudnya, apa kalian tetap akan membeli buku yang diincar, ketika mendapati bahwa rating (Goodreads)nya kurang memuaskan?
Hm, iya agak ngaruh sih meski aku lebih sering beli buku karena impulsif, tapi beberapa kali tertarik obralan tapi nggak jadi karena bintangnya rata-rata rendah. Hehehe.



Image
Rhein Fathia - @rheinfathia
 
Yak, pasti pada familier deh kalo sama wajah manis yang satu ini. Cewek manis ini namanya Rhein Fathia, penulis Jadian 6 Bulan, Seven Days, Jalan Menuju Cinta-Mu dan Coup(lov)e J Di sela-sela kesibukannya mengerjakan draft novel dan draft thesis, Tante gue ini *ngaku-ngaku*  menyempatkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan random mengenai review :))
Menurut Rhein sendiri, nggak ada rasa segan ketika ia menuliskan review untuk buku dari penulis lain. Karena sebenernya ia menganggap bahwa setiap penulis itu open minded dalam menerima review apa pun. Dan juga, nggak ada perbedaan ketika Rhein menuliskan review buku dari penulis yang tidak dikenal langsung dengan buku temannya sendiri. Alasannya, karena bagi Rhein, semuanya sama-sama penulis dengan keunikan dalam tulisan masing-masing. Nah, yang begini sih bagus ya buat kemajuan seorang penulis. Ketika kita menuliskan review yang jujur tanpa memandang siapa penulisnya, maka secara tidak langsung kita juga membantu (tulisan) mereka berkembang.
Aku selalu usahakan untuk memilih cara halus yang jujur. Ada penulis yang malah langsung drop ketika dikasih saran yang jujur tapi nyelekit dan aku ngga mau hal itu terjadi. Tiap tulisan pasti ada kelebihan dan kekurangan. Ungkapkan dulu kelebihannya, lalu ketika ada terasa yang kurang, kasih saran di poin-poin mana saja yang bisa membangun tulisan dia tersebut.” Rhein menambahkan.
Nah, berikutnya gue sedikit iseng nanyain, seorang Rhein Fathia pernah nggak sih punya masalah sama orang lain gara-gara review yang ia tulis? Tapi Alhamdulillahnya, menurut Rhein, belum pernah. Bahkan kalau pun ada, biasanya malah dari orang yang nggak dia kenal. Hehe.
            Nah, next! Ketika kalian membaca buku, apa kalian selalu menuliskan review? Kalo Rhein, sih, ngakunya nggak selalu, tapi ngasih bintang. Tipe-tipe buku yang enggan direview Rhein adalah buku yang menurutnya biasa aja, nggak menarik dan udah banyak yang menuliskan review/unek-unek serupa, jadi dengan begitu penulis sekiranya sudah cukup paham di mana letak kelebihan dan kekurangan dari karyanya.
            Berhubung lagi ngobrol-ngobrol sama Rhein, gue menyempatkan diri juga nanya tentang pertimbangan Rhein dalam membeli sebuah buku. Rhein bilang, untuk penulis yang bukan temen, rating Goodreads sangat berpengaruh. Hahaha, maklum, doi anak bisnis, jadi mikirin untung rugi. Kalau ketika Rhein membaca review sebuah buku dan nggak memuaskan atau ketika ia merasa nggak ada hal yang bisa pelajarinya dari buku itu, maka, “mending pinjem, sih.” Gurau Rhein tepat di akhir sesi interview.


Image
 Ifnur Hikmah - @iiphche
(Blogger, Penulis Do Rio Com Amor, Mendekap Rasa)
Nah, yang berikut ini kayaknya familier kalo kalian suka baca review novel-novel romance, Young Adult atau sejenisnya di Goodreads. Kalian juga bisa baca postingan-postingan review dan cerita pendek Kak Iif  di http://ifnurhikmahofficial.blogspot.com/ :D Pada 2013 lalu, Kak Iif sempat nulis novel duetnya bersama Aditia Yudis (@adit_adit) yang berjudul Mendekap Rasa, diterbitkan Bukune. Dan baru-baru ini, novel teenlitnya Do Rio Com Amor baru aja diterbitkan Teen Noura.
Sama dengan dua penulis dan reviewer di atas, pertanyaan pertama yang gue tanyakan ke Kak Iif adalah..
Ada rasa segan nggak ketika menuliskan review untuk buku penulis lain? Karena posisinya, kan, sebagai sesama penulis.
Karena keterbatasan waktu ketemuan *gayamu* dan kesibukan masing-masing *makin gaya*, maka kami ngobrolnya via email. Ini pendapat Kak Iif soal pertanyaan pertama: Sejujurnya sih ada. Bohong banget kalau enggak ada perasaan segan atau takut-takut nanti akan dapat review gimana di buku gue. Cuma gue berusaha untuk enggak melihat pribadi penulisnya, tapi pure ke karyanya. Kalau memang gue suka, ya gue enggak bakal segan buat memuji. Kalau mau berkomentar, ya komentar aja. bisa dibaca beberapa review gue kadang dinilai orang jahat. Tapi gue Cuma berusaha buat jujur aja, he-he-he.
Apalagi kalau misalnya penulis ternama yang notabene bukunya udah banyak banget. sering muncul pemikiran siapa sih gue yang Cuma segini ini bisa-bisanya ngereview? Cuma balik lagi, posisi gue adalah pembaca. Jadi saat mereview, gue selalu berusaha menempatkan diri sebagai pembaca.
Bagian ini yang agak menarik, berikutnya gue sempat menanyakan tentang perbedaan menulis review buku dari penulis lain dan teman sendiri, yang kemudian dijawab demikian, Enggak ada sih. Palingan kalau teman sendiri biasanya gue tahu proses penulisannya gimana jadi itu bisa ditambahin di review.”
Masih ada kaitannya dengan pertanyaan kedua di atas, gue juga menanyakan mengenai bagaimana cara seorang Ifnur Hikmah mereview buku teman yang dikenalnya :)) lebih enak nyelekit tapi jujur atau halus tapi menutup-nutupi kekurangan dalam karya si teman. Jujur, gue sendiri salah satu orang yang menjadikan review Kak Iif sebagai patokan ketika akan membeli buku. Karena kejujuran reviewnya bikin gue bisa dapet gambaran mengenai sebuah buku yang akan gue incer. Reviewnya blak-blakan banget, tapi kalau dipikir-pikir, malah sebenernya membantu penulis menemukan kekurangan karyanya dan bisa jadi bahan pertimbangan untuk kedepannya. Nah, biasanya ya, kalau Kak Iif bilang sebuah buku itu bagus, gue akan jadi super penasaran, dan sebaliknya. Hmm, gue suka banget sama jawaban berikut ini, hahaha.
“Gue selalu berusaha buat ngereview dengan jujur. Kalau bagus ya jujur bilang itu bagus. kalau enggak suka ya ceritain di mana letak yang enggak disukai dan alasannya, tapi mesti masuk akal. Selain itu, gue rasa lebih enaknya ngereview buku teman sendiri itu dia udah kenal gue gimana, tahu car ague ngomong gimana, jadi enggak tersinggung. Karena pengalaman ada beberapa yang tersinggung sama review gue, hehe.
Justru karena buku teman sendiri kita harus sejujur-jujurnya. Kenapa juga mesti ditutup-tutupi? Teman yang baik kan harus saling mendukung. Jika memang harus mendapat kritik negative, why not? Harusnya teman yang sebenarnya senang ketika mendapat kritik membangun meski nyelekit, bukannya justru berantem karena hal tersebut. IMO.”

Berikutnyaaaa, adalah mengenai pengalaman buruk ketika mereview buku orang yang dikenal. Bisa dibilang, sebagian reviewer merasakannya, hahaha. Cuma mungkin ada yang parah banget, ada yang biasa aja. Mau tahu pengalamannya Kak Iif? Nih!
“Ada, tapi enggak kenal-kenal banget. gue tahu dia lewat sebuah klub. Ketika baca bukunya, gue bangga dong karena kita berasal dari lingkungan yang sama meski enggak kenal. Si penulis merasa gue terlalu jahat dalam mereview bukunya, sedangkan gue Cuma ngomong sejujur-jujurnya. Gue selalu berusaha jika memberi kritik itu disertai dengan saran. Mungkin gaya ngomong gue enggak nyambung sama dia makanya dia merasa down. Ya menurut gue itu balik ke pribadi kita masing-masing ya. penerimaan tiap orang kan beda-beda. Mungkin aja dia enggak bisa nerima gue yang nyablak, he-he-he. Tapi dia enggak langsung ngomong ke gue sih, tapi lewat beberapa orang sampai akhirnya gue tahu.
Ada lagi penulis yang juga gue kenal gitu-gitu aja, enggak terlalu dekat. Awalnya dia shock dengan gue yang nyablak. But in the end dia malah berterima kasih karena meski nyelekit, dia bisa melihat pembelajaran dari sana *uhuk*”

Dan mengenai menulis review, beda sama gue yang masih malas-malasan dan nggak selalu mood untuk mereview semua buku yang gue baca, Kak Iif mengaku sejak tahun lalu dia memutuskan untuk selalu menulis review buku apa pun yang selesai dibaca. Tapi kesamaannya sama gue adalah, kalo bukunya nggak berkesan, maka Kak iif cuma akan menuliskan review singkat di Goodreads buat ngejar target 100 buku setahun (gue sih cuma 50, hahaha) #BukaAib
Ini ada hubungannya dengan yang di atas. Tadi gue bilang, review Kak Iif adalah salah satu bahan pertimbangan gue ketika akan membaca buku terutama roman dan YA. Dan setiap idola selalu punya idolanya sendiri *halah, bahasamu itu loh, Mput* :p Dengan santai Kak Iif mengakui bahwa dia memang gampang terpengaruh sama rating bagus. Buku yang dibelinya juga pada umumnya punya rating bagus di Goodreads. Jika reviewer favorit Kak Iif bilang suka sama suatu buku, bisa dipastikan Kak Iif akan beli juga. Hmm *garuk dagu*
Jadi penasaran nggak, siapa reviewer favoritnya Kak Iif? Hahaha. Tanya ke twitternya aja *kena sundut*

Selain itu, Kak Iif juga menambahkan, “kalau rating jelek, itu jadi bahan pertimbangan. Misalnya gue penasaran banget dengan buku itu, biasanya tetap gue beli. Contohnya Divergent. Banyak review kurang memuaskan yang gue dengar atau baca, tapi tetap gue baca (oke iya anaknya FOMO makanya baca haha) karena gue penasaran. Meski akhirnya gue enggak terlalu suka, ya itu urusan belakangan. Yang penting rasa penasarannya terbayar.
Tapi kalau kasusnya semua reviewer bilang enggak banget, gue langsung mundur. Ada beberapa novel yang bikin gue mundur teratur karena review jelek he-he-he.”

Jadi, gimana? Apa diantara kalian yang penulis sekaligus tukang review buku, punya kesamaan dengan gue atau ketiga penulis di atas? Bagaimana pun, kita punya gaya sendiri-sendiri dalam menilai sebuah karya dan menuliskan sebuah review. Apa pun itu, semoga semuanya memang jujur tapi membangun, bukan malah menjatuhkan atau menghancurkan (hati dan semangat) penulis lain, yes :D
Catatan tambahan, senang bisa menulis untuk guest posting BBI tahun ini, semoga tahun depan dapet kesempatan yang sama menariknya dalam event-event ultah kece lainnya. ^^v Trims juga buat @Fennyusuf yang udah mau repot-repot ngepost tulisan ini, hahaha. Selamat ulang tahun untuk BBI tercinta dan sampai jumpa di guest posting tahun depan (semoga masih ada). *kecup semua pembaca dan tim divisi event*

No comments:

Post a Comment

If you have any questions and comments about this post, please leave here. Will reply soon.